Mencintai Calon Kakak Ipar

Mencintai Calon Kakak Ipar
Apa Keinginanmu?


__ADS_3

Dara mulai terbangun ketika mendengar tangisan keras Kaisar. Dia duduk terlebih dahulu mendengarkan apa tangisan itu akan berhenti atau tidak?


Setelah lama menunggu dan tangisan Kaisar tidak kunjung berhenti, Dara lalu bangun dan keluar dari kamar, menuju ke arah sumber suara.


Dara mulai naik ke atas tanpa alas kaki. Terus melangkah hingga sampai di sebuah kamar yang pintunya terbuka sedikit. Dara mengintip.


"Apa kita bawa saja ke rumah sakit Ale?" tanya Mom Lusi cemas. Sedangkan Alehandro terdiam sembari menimang anaknya.


"Panasnya belum juga mau turun dan dia terus saja menangis," lanjut Mom Lusi lagi duduk dengan cemas.


Dara lalu mengetuk pintu dan membukanya. Kedua orang itu lalu melihat ke arahnya.


"Maaf, aku dari tadi mendengar suara Kaisar menangis jadi aku ingin melihatnya," kata Dara.


"Sudah sejam ini dia menangis keras, lihat wajahnya sampai terlihat tegang. Aku takut jika dia sedang merasakan sakit," kata Mom Lusi sembari mengusap air matanya.


"Dia sudah tidak ada ibu dan aku yang sudah tua tidak tahu harus berbuat apa," imbuhnya.


"Mom ...." panggil Alehandro dengan nada yang keberatan. Dara lalu mendekat ke arah Alehandro dan menyentuh pipi Kaisar. Anak itu sejenak berhenti menangis dan melihat Dara, selanjutnya mata anak itu seperti meminta pertolongan pada Dara.


Dara menengadahkan wajah menatap Alehandro untuk meminta persetujuannya. Alehandro kembali memberikan Dara Kaisar untuk digendong.


"Kenapa kau menangis sayang, kau sakit, katakan mana yang sakit biar Tante yang bantu," kata Dara sambil menimang Alehandro.


Tangannya mulai meraba perut anak itu. Terasa sedikit dingin.


"Dia masuk angin, perutnya terasa dingin," ucap Dara. Alehandro dan Mom Lusi hanya saling memandang. Sudah lama dirinya tidak mengurus bayi kecil. Dulu ketika dia mengurus Alehandro masih dibantu oleh mendiang mertuanya jadi pengetahuan tentang anak kecil sangat minim.


"Boleh aku meminta minyak telon atau minyak kayu putih?" ucap Dara lagi. Mom Lusi langsung mengambil minyak kayu putih. Dara lalu duduk di sofa panjang dan menelungkupkan Kaisar di atas kedua pahanya. Mulai menaikkan baju Kaisar hingga ke atas. Mom Lusi menyerahkan minyak itu pada Dara. Dara mulai mengusap pelan punggung Kaisar membuat anak itu pelan-pelan terdiam. Pijatan lembut itu dia lakukan hingga ke seluruh tubuh Kaisar. Mom Lusi duduk memperhatikan Dara dengan seksama. Alehandro menatap takjub.


"Ganti baju dan popoknya," kata Dara. Alehandro lalu mengambil baju untuk Kaisar.


"Yang panjang dan nyaman," imbuh Dara. Alehandro memperlihatkan satu stel baju dan Dara menggelengkan kepalanya hingga pria itu memperlihatkan baju tidur dengan kancing baju di depan berwarna putih dengan motif boneka beruang.


Dara mulai mengganti baju Kaisar. Peluh di dahinya mulai membasahi wajah, nafasnya juga kelihatan terengap-engap. Sesekali dia membasuh keringat itu dengan lengan bajunya.

__ADS_1


"Hamil besar membuatku suka kepanasan dan berkeringat serta sulit untuk tidur," kata Dara.


"Aku juga merasakannya sewaktu hamil Alehandro, setiap malam suamiku selalu memijit kakiku yang sakit," ungkap Mom Lusi.


Dara tersenyum kecut. Kakinya memang sedikit bengkak dan dia harus merendam kakinya dengan air hangat dicampur dengan sedikit garam setiap malam agar tidak terlampau pegal. Dia mengetahui resep itu dari Bu Savitri.


Kaisar terlihat menguap. Dara lalu menyuruh Alehandro mengangkat Kaisar. Dara ingin berdiri namun kesulitan. Satu tangan Alehandro diulurkan, dengan ragu Dara menerima uluran tangan itu. Mom Lusi memegang pinggang Dara untuk membantunya berdiri.


"Biar aku saja yang menidurkannya," pinta Dara. Wanita itu lalu menata tempat tidur Kaisar agar nyaman untuk dibaringkan. Dia lalu meminta Alehandro untuk meletakkan Kaisar di tempat tidur. Setelah itu dia menengkurapkan Kaisar dan menepuk pantat gempal anak itu. Tidak lama kemudian anak itu tertidur pulas.


"Aku haus," ucap Dara mau bangkit untuk mengambil air minum.


"Biar Alehandro saja yang mengambilnya. Apakah kau juga lapar?" tanya Mom Lusi tahu kebiasaan ibu hamil besar. Dara tersenyum.


"Bu, kau pengertian sekali," kata Dara.


"Kau ingin apa?" tawar Alehandro.


"Roti isi dan susu hangat," jawab Dara malu.


"Aku akan mengambilkannya," kata Alehandro.


"Aku mempelajarinya di panti asuhan," jawab Dara.


"Apakah kau juga ikut mengurus mereka?" tanya Mom Lusi penasaran. Dara lalu mulai bercerita tentang kesehariannya di panti asuhan.


"Wah, aku yakin kau akan jadi ibu yang hebat nantinya!" ucap Mom Lusi.


Alehandro lalu datang membawa semua pesanan Dara. Dara lalu mengambil dan memakan serta meminumnya hingga kenyang.


"Apa kau sudah tahu jenis kelamin anakmu?" tanya wanita itu lagi.


"Perempuan," jawab Dara.


"Dia pasti akan cantik seperti dirimu."

__ADS_1


"Ibu bisa saja," kata Dara.


Mom Lusi terlihat menguap. "Sepertinya aku harus tidur."


"Kalau boleh biar aku yang menjaga Kaisar takut jika dia terbangun dan menangis lagi," pinta Dara.


"Biar Alehandro yang menjaganya, dia ayahnya kau tidur saja. Biar aku mengantarmu ke kamar."


Dengan berat hati Dara keluar dari kamar Kaisar. Dia tidak tega melihat keadaan anak itu. Membayangkan jika anaknya sendiri hidup tanpa seorang ibu yang mendampingi.


"Kau tadi pakai lift atau tangga ke atas," tanya Mom Lusi ketika di luar kamar. Tangannya merangkul pundak Dara.


"Aku tidak tahu ada lift," jawab Dara.


"Kau juga tidak pakai alas kaki. Aku akan mengambilkan satu milikku untukmu. Sebaiknya kita ke kamarku terlebih dahulu," ujar Mom Lusi. Mereka lalu meninggalkan kamar itu sedangkan Alehandro hanya bisa melihat dari pintu kebersamaan dua wanita itu.


"Kris, kau melakukan kesalahan besar!" ucap pria itu.


***


"Jadi Anda itu adalah ibu kandung Kris dan anak dalam kandungan Dara adalah anak Kris? Yang jadi pertanyaan saya adalah kalian mengatakan seolah Kris sudah menikahi Dara, apakah itu betul atau itu hanya sebuah kebohongan semata?" desak Alehandro membuat Savitri menangis.


Mata Dara memerah tapi tidak setetespun dia keluarkan. Pantang baginya menangis dihadapan orang lain.


"Semua yang kau katakan memang benar adanya," kata Savitri.


"Mana yang benar? Jadi sebenarnya Dara sudah menikah dengan Kris atau belum?"


"Aku yang melakukan kesalahan dengannya setelah itu aku pergi agar dia bisa menikah dengan wanita lain. Apa dayaku karena hanya akan dijadikan simpanan semata, sedangkan kakek Kris dengan terang mengatakan akan mengeluarkan dia dari daftar keluarga jika Kris memilihku," jawab Dara singkat dengan penuh kemarahan.


Mom Lusi menutup mulutnya, dia tidak menyangka Wasesa, temannya akan sejahat itu pada seorang wanita.


Alehandro hanya bisa menggelengkan kepalanya. Dia lalu duduk dengan menyandarkan tangannya pada lengan kursi dan menyatukan di depan dadanya.


"Lalu apa yang kau inginkan Dara untuk saat ini?" tanya Alehandro.

__ADS_1


"Kris sudah menikah, apakah kau yakin Kris mau menceraikan istrinya dan menikahimu. Andaipun itu terjadi apa keluarga besar Kris akan menerimanya dan menerimamu? Siapkah hatimu untuk menerima keadaan itu?"


Dara terdiam menunduk


__ADS_2