
Bahu Alehandro turun ketika melangkahkan kaki melewati lorong panjang rumah sakit. Kakinya terasa berat untuk berjalan, dan tubuhnya terasa lemas dan tidak bertenaga.
Dia lalu berhenti di tengah lorong yang sepi. Bersandar di tembok. Menarik nafas mencoba memasukkan oksigen untuk mengisi dadanya yang sesak. Tubuhnya lalu bergetar hebat. Buliran Kristal bening itu tidak dapat dia cegah untuk keluar. Tangannya digigit menahan luapan semua kesedihan yang hendak keluar dari tenggorokannya.
Tubuh Alehandro luruh ke bawah lantai. Dia duduk meluruskan satu kakinya. Menundukkan wajah dan menutupnya dengan kedua tangan.
Ini terasa tidak adil untuknya. Dia tidak bisa memilih diantara keduanya. Apakah ini semua adalah hukumannya yang sering mempermainkan wanita dan kini takdir berbalik mempermainkannya?
Maria, dia wanita pertama yang bisa menyentuh hatinya terdalam. Dia wanita yang bisa menenangkan jiwanya yang hampa. Dia wanita yang bisa membuatnya nyaman, yang mengenalkannya arti hidup bagi yang lain dan mengenalkannya pada cinta suci yang seputih kertas.
Dia tidak sanggup jika harus kehilangannya. Dia tidak bisa walau dia harus kehilangan bayi atau calon anaknya itu tidak mengapa asal jangan Maria. Belahan hatinya.
Sebuah sentuhan lembut menyentuh pundaknya membuat Alehandro terkejut dan menengadahkan kepala sembari mengusap air matanya.
"Ada apa?" tanya Natalia terlihat cemas dan khawatir. Alehandro menarik rambutnya dengan satu tangan.
"Sepertinya ini masalah berat," ujar Natalia.
"Apakah Maria sudah siuman?" tanya Alehandro. Natalia menggelengkan kepalanya.
"Ada apa Alehandro, cepat ceritakan padaku. Tingkahmu ini membuatku merasa ada hal buruk yang terjadi."
Mata Alehandro kembali merebak, wajahnya putihnya kembali memerah. Dia melihat ke arah Natalia.
"Apakah Tuhan begitu membenciku Natalia sehingga memberikan cobaan seperti ini di saat aku menemukan cinta dan kebahagiaan dalam hidup?" ujar Alehandro menatap Natalia.
Natalia lalu berjongkok di sebelah Alehandro.
"Apa maksudmu?" tanya Natalia.
"Dia, Dokter itu, mengatakan sebuah lelucon yang menyayat hatiku, aku berharap ini hanya sebuah mimpi buruk saja," Alehandro menarik nafas keras dan kembali menangis.
"Kenapa harus mereka, biar aku saja yang merasakan sakit itu," lanjut pria itu membuat Natalia tidak sabar. Dia mengoyak tubuh Alehandro.
"Alehandro, katakan, ada apa!" serunya ketakutan.
Mata merah itu menatap manik mata yang bergetar penuh harap dan penuh kecemasan.
"Ma ... ria ... mengidap tumor ganas... dan dia ... harus menggugurkan ... ," ucap Alehandro dengan suara bergetar, terisak tidak sanggup untuk meneruskan kata-katanya.
Mata Natalia melebar, dia menutup mulutnya tidak percaya dengan ucapan Alehandro. Tubuhnya limbung ke belakang dan dia menggeserkan tubuhnya ke tembok.
__ADS_1
Nafasnya ikut merasa sesak, dia menarik nafas berkali-kali menahan tekanan dalam dadanya.
"Bagaimana itu bisa terjadi?" tanya Natalia sembari menangis
"Aku juga tidak tahu ... ," ujar Alehandro. Natalia tahu ini adalah pukulan berat untuk sahabat juga menantunya ini.
"Jika menunggu sampai bayinya lahir?" tanya Natalia.
"Nyawa Maria dalam taruhan dan aku tidak ingin sesuatu yang buruk terjadi padanya. Tidak!" ucap Alehandro serak dan parau.
Natalia melihat rasa cinta yang besar dalam diri Alehandro untuk anaknya dan dia bersyukur akan hal itu.
"Kalian bisa mempunyai anak setelah ini," ujar Natalia menenangkan Alehandro.
Alehandro menatap Natalia. Dirinya menarik nafas dalam. "Dokter ingin agar rahim Natalia diangkat agar tumor itu tidak berkembang menjadi kanker." Alehandro menundukkan wajahnya.
"Katakan aku harus bagaimana?"
Wajah Natalia bertambah pucat. Nafasnya berhenti seketika. Dia menelan kasar Salivanya yang tercekat di tenggorokan. Tidak mampu untuk mengatakan apapun lagi. Dua-duanya hanya terdiam menatap tembok di depannya.
Natalia lalu bangkit setelah berpikir.
Alehandro lalu menengadahkan kepalanya menatap Natalia. Apa yang dikatakan sahabatnya itu memang benar. Dia lalu mengusap air matanya dan bangkit berdiri.
"Bertindaklah seolah semua baik-baik saja, dan kau harus menenangkan Maria agar membuat keputusan yang tepat ketika dia tahu berita tentang ini."
"Bagaimana jika dia menolak untuk menggugurkan kandungannya?" tanya Alehandro.
"Kalian bicarakan ini baik-baik dan buat keputusan yang baik mana sekiranya akan membuat kalian berdua bahagia walau semua keputusan itu terdengar tidak ada yang menguntungkan," ucap Natalia mencoba untuk tersenyum tetapi hatinya sendiri dalam keadaan kacau balau.
"Ayo kita menemui Maria, aku takut dia sudah siuman dan tidak ada orang yang berada di sampingnya."
"Lalu bagaimana denganmu?" tanya Alehandro.
"Ini saat bagiku untuk menghabiskan waktu dengan putriku satu-satunya walau kemungkinan terbesarnya dia akan mengusirku lagi tetapi aku tidak akan menyerah begitu saja."
Natalia tertawa hambar sembari menyeka air matanya.
"Aku akan membantumu," ucap Alehandro. Natalia menganggukkan kepalanya.
"Walau nanti putrimu itu akan mengusirku lagi dari kamar," ujar Alehandro terkekeh.
__ADS_1
"Apakah dia galak?" tanya Natalia.
"Persis sepertimu, cerewet dan sangat diktator," cerita Alehandro sembari berjalan menuju kamar Maria.
"Kau jangan menjelekkan putriku di depan ibunya!" ucap Natalia.
"Itu kenyataannya dia tidak segan-segan mengeluarkan aku dari kamar jika sedang marah," terang Alehandro.
"Pria sepertimu memang harus diperlakukan seperti itu agar tidak bermain dibelakang," balas Natalia.
"Bagaimana aku bisa bermain di belakang putrimu jika dia mengancam akan meninggalkan aku jika melihatku mendekati wanita lain walau itu hanya satu sentuhan saja," lanjut Alehandro. Natalia menatap Alehandro dan tersenyum sembari menganggukkan kepalanya.
"Dia benar, pria sepertimu memang tidak bisa diberi kesempatan."
"Dia bahkan pernah cemburu ketika kau mendekatiku di pesta Cristian dulu," cerita Alehandro.
Natalia terkekeh sembari menutup mulutnya.
"Lalu dia mengusirmu," tanya Natalia.
"Huummm aku harus tidur dengan seribu nyamuk di depan pintu kamar membujuknya agar membukakan pintu kamar untukku," jelas Alehandro.
"Kau terlihat sangat mencintainya," kata Natalia.
"Sangat," jawab pendek Alehandro sebelum dia membuka pintu kamar.
"Aku bisa melihatnya," ujar Natalia.
Di depan nampak Maria menatap tajam ke arah mereka.
"Perang dunia ketiga lagi ini!" gumam pelan Alehandro.
Natalia menahan senyum. Dia tidak menyangka jika anaknya akan cemburu padanya. Huft, takdir orang tidak ada yang tahu. Hampir saja dia mendekati Alehandro sebelum tahu bahwa pria itu telah menikah dan lucunya istrinya adalah anaknya sendiri.
Ya, Tuhan. Takdir apa lagi ini! Natalia berdiri sedikit jauh dari pasangan suami istri itu memberi waktu keduanya untuk berbicara. Dia juga ingin membuat Maria terbiasa dengan kedatangannya.
Tatapan tajam Maria menyiratkan kemarahan dan kecemburuan. Apa pula ini? Apakah anaknya masih berpikir jika dia akan menggoda menantunya ini? Natalia menundukkan wajahnya tersenyum. Lalu, menatap balik Maria dengan lembut.
"Kau sudah sadar, Sayang?" tanya Alehandro setelah seorang perawat menyelesaikan tugasnya.
"Aku kira kau lupa pada diriku," sindir Maria. Alehandro mengikuti arah tatapan Maria.
__ADS_1