Mencintai Calon Kakak Ipar

Mencintai Calon Kakak Ipar
Salah Sangka


__ADS_3

Alehandro yang penasaran karena Dara tidak kunjung turun ke bawah lalu mulai naik ke lantai atas menuju kamarnya. Dia mendengar suara Isak tangis dari dalam kamar.


Dengan rasa penasaran Alehandro lalu membuka pintu kamar dan melihat Dara sedang duduk menangis memegang kertas di tangannya.


Deg!


Alehandro berhenti bernafas dengan langkah pelan dia mendekati Dara.


"Dara," panggilnya.


Dara mengangkat wajahnya yang basah oleh air mata. Dia lalu mengangkat kertas itu. Dia ingin mengatakan sesuatu namun suaranya tidak mau keluar.


"Aku bisa jelaskan!" ucap Alehandro khawatir. Hatinya merasa nyeri melihat wanita itu menangis.


Tubuh Dara makin bergetar hebat, nafasnya sudah tersengal-sengal menatap marah pada Alehandro.


"Awalnya aku tidak mau melakukan apa yang Maria inginkan apalagi ketika melihat kondisimu yang sedang hamil besar."


Dara membuang mukanya ke samping.


"Memang tadinya aku mengira kau seperti wanita lainnya yang kau tahu bagaimana penilaian masyarakat pada wanita hamil di luar nikah. Namun, ketika melihat Kaisar tenang dalam pelukanmu, aku mulai berpikir apakah yang Maria katakan itu benar jika Kaisar membutuhkanmu untuk menjadi ibunya." Alehandro lalu duduk di sebelah Dara.


"Namun sayang kau telah menjadi milik Kris. Kau terlihat sangat mencintainya dan aku tidak bisa egois dengan memaksamu untuk menerimaku hanya karena Kaisar membutuhkan seorang ibu."


"Kita hanya bersama selama beberapa hari namun itu sudah memperlihatkan semua sifatmu dan terus terang aku banyak belajar padamu. Aku terus menerus larut dalam kesedihan ketika kehilangan Maria, di saat yang sama aku melihatmu tegar ketika melihat Kris orang yang kau cintai dengan sepenuh hati memilih hidup bersama wanita lain. Sedangkan posisinya kau itu hamil anak Kris. Kau harusnya menangis kecewa dan marah pada nasib tetapi tidak kau tetap tegak berdiri tidak memperlihatkan kerapuhanmu."


"Aku malu melihat diriku sendiri yang lemah Lalu aku mulai mengikuti apa yang kau lakukan, belajar untuk bangkit dan mulai menjalani hari dengan tegar." Dara menatap Alehandro.

__ADS_1


"Sebersit rasa kasihan mulai terasa ketika melihatmu harus berjuang keras ketika melahirkan Rose. Apalagi ketika Kris menginginkan bayi milikmu, aku merasa marah pada pria itu dan berniat menikahimu agar kau punya hak penuh dan kekuatan untuk melawan Kris. Tetapi Tuhan berkehendak lain. Kau pergi jauh."


"Kasihan?" ucap Dara serak sembari tertawa sedih.


"Maaf jika itu menyakitimu. Tetapi aku harap kau mau mendengarkan ceritaku hingga usai. Awalnya aku kasihan melihat hidupmu yang kacau. Hatiku tidak tenang sepeninggalmu. Lalu aku mulai menyuruh orang untuk melacak keberadaannya hingga akhirnya aku menemukanmu di Bali."


"Waktu itu aku ingin mengajakmu kembali kemari, namun aku melihat senyum di wajahmu, senyum yang belum aku lihat semenjak kita bertemu. Kau tertawa bebas seperti merasa menemukan ketenangan dan kedamaian ketika tinggal di sana. Lalu aku mulai memikirkan cara lainnya agar aku bisa membantumu tanpa kau ketahui."


"Aku yang bodoh merasa bahwa semua usahaku adalah hasil kerja kerasku!" ujar Dara.


"Itu murni hasil kerja kerasmu. Aku hanya membantumu sedikit saja."


"Sial! Kini aku tahu mengapa ada pegawai bank yang datang menawariku pinjaman dengan angsuran rendah, terasa janggal tetapi aku tidak berpikir ke arah situ. Lalu pemilik toko yang tadinya menolakku dengan keras tiba-tiba datang dan menawarkan tokonya kembali dengan harga rendah dicicil pula. Kau memang menyebalkan! Aku merasa semua usahaku itu tidak akan berhasil jika kau tidak campur tangan seperti itu. Aku tertipu oleh kebaikanmu. Aku tanpamu adalah Dara yang lemah dan berlevel rendah, aku... ."


Alehandro menutup mulut Dara dengan tangannya dan menggelengkan kepalanya.


"Semua yang kau katakan terasa menyenangkan seperti ingin melambungkan diriku. Namun sayang, diriku sedang jatuh di dasar jurang yang dalam setelah membaca surat ini."


"Mengapa sampai kau berpikir seperti itu?"


"Kau menikahiku bukan karena dari hatimu tetapi atas permintaan Maria. Jadi bolehkah aku kecewa dan marah karena ini. Sebaiknya kita tidak usah teruskan hubungan ini saja. Kita bisa mengirimkan surat pembatalan pengajuan nikah itu secara sah. Sudah kukatakan jika aku ingin cinta. Aku tidak mau menikah hanya karena sebuah keterpaksaan semata. Kau bisa mencari wanita yang kau sukai karena kau tidak harus memilihku."


"Sudah!" tanya Alehandro. "Atau ada yang ingin kau sampaikan lagi?"


"Jika aku ingin menikahimu hanya karena Kaisar sudah lama aku akan mengejarmu tetapi tidak. Aku butuh waktu lama untuk berpikir dan mengerti hatiku. Rasa kasihan itu lama-lama menjadi perhatian. Perhatian itu mulai menumbuhkan rasa di saat aku mulai yakin di saat itu pula aku mulai ragu. Ragu akan hatimu, apakah kau masih mencintai Kris?''


Dara menatap tidak percaya pada penjelasan Alehandro.

__ADS_1


"Maksudmu dengan kata Yakin itu apa?"


"Yakin jika aku memilihmu karena hatiku bukan karena permintaan Maria ataupun keinginan yang lain. Yakin jika kau memang wanita baik-baik yang menjaga diri dan kehormatannya. Serta yakin jika kau akan menjadi teman hidup yang akan setia menemaniku hingga ajal memisahkan."


Dara terkesiap mendengar penuturan Alehandro. Dia terdiam, suara isak tangisnya pun sudah hilang.


"Ale, apakah ada aku dihatimu walau sedikit saja. Katakan dengan jujur," ucapnya parau penuh harap.


Alehandro mengambil tangan Dara dan diletakkannya di dada.


"Tidakkah kau bisa mendengar degub jantungku yang berdetak dengan keras ketika kau ada di sisiku?"


"Sudah kukatakan apakah cinta itu harus diucapkan dengan kata-kata. Tidakkah semua apa yang aku lakukan cukup untuk memperlihatkan rasa cintaku? Kau menilaiku hanya dari sudut pandangmu saja tetapi tidak mau mendengar suara hatimu. Aku yakin hatimu bisa merasakan apa yang aku rasakan," ucap pria itu tegas.


Dara lalu masuk ke dalam pelukan Alehandro.


"Maaf jika aku meragukanmu," ucapnya.


"Aku mengerti, kita sama-sama pernah terluka oleh cinta tetapi kita bisa saling untuk saling menyembuhkan luka itu."


Dara menganggukkan kepalanya.


"Dara kau selalu mempertanyakan tentang perasaanku tetapi aku tidak pernah satu kali pun bertanya tentang perasaanmu padaku," kata Alehandro membuat Dara gugup dia lalu melepaskan diri dari pelukan Alehandro.


"Apa yang ingin kau tanyakan maka akan kujawab semua pertanyaanmu," balas Dara menatap pria itu.


Alehandro lalu mengusap bekas air mata Dara di pipinya dan mengambil surai gelap yang menutupi wajah Dara lalu diselipkan ke belakang telinga.

__ADS_1


"Aku hanya ingin bertanya bagaimana perasaanmu padaku, hanya itu saja. Jika masih menyimpan perasaan untuk pria lain maka berterus terang lah!"


__ADS_2