Mencintai Calon Kakak Ipar

Mencintai Calon Kakak Ipar
Go To Maria


__ADS_3

Maria sedang berdiri di depan pintu ruang atasannya. Ini adalah hari pertamanya magang di sebuah perusahaan besar yang bergerak di jasa keuangan. Di tangannya ada secangkir kopi pesanan bos besar. Begitu mereka memanggilnya.


Dia bukan bekerja sebagai OB tapi asisten sekretaris Bos Besar. Sang Sekretaris sendiri kini tengah mengurus pekerjaan di luar sehingga dia yang ditugaskan untuk membuat kopi itu.


"Ingat setengah sendok gula pasir dengan satu sendok kopi hitam. Bos Besar tidak suka dengan kopi yang teramat manis," ulang atasannya berkali-kali.


Tok ... Tok ... Tok ... !


"Masuk!" terdengar sahutan dari balik pintu. Dengan rasa penuh percaya diri Maria membuka pintu ruangan itu.


Hal yang pertama kali dilihatnya adalah siluet seorang pria yang membelakangi dirinya. Tubuh itu tinggi tegap dengan punggung yang terlihat lebar, lengannya yang tertutupi oleh kemeja putih masih menampakkan otot-otot yang tersembunyi dibalik kain itu. Tubuhnya terkena pancaran sinar matahari layaknya titisan dewa kayangan atau juga titisan malaikat yang turun ke bumi.


Khayalan Maria tentang sosok pria dalam cerita di novel sepertinya ada padanya.


"Tuan Sanchez saya membawakan kopi anda. Nona Brigida ada pertemuan di luar kantor jadi kopi ini saya yang membuatkan," ucap Maria.


Alehandro yang baru saja menyelesaikan chatnya dengan relasi bisnis seperti familiar dengan suara itu. Dia membalikkan tubuhnya dan


Prank!


Tubuh Maria membeku di tempat. Wajahnya memucat, pria yang dia hindari dalam beberapa waktu ini kini ada di hadapannya.


"Hai Cantik!" panggil Alehandro yang terlihat biasa saja. Awalnya dia terkejut namun dengan cepat dia menyembunyikan keterkejutannya.


"Aku mau pergi!'' ucap Maria.


Namun tubuh Alehandro dengan cepat menyergapnya.

__ADS_1


"Kau mau kemana?"


"Aku akan mengundurkan diri!" kata Maria.


"Kenapa?'' tanya Alehandro.


Maria menatap Alehandro tajam.


"Soal yang lalu itu, bukankah katamu itu hanya sebuah kesalahan dan kita tidak perlu membahasnya lagi. Jadi mengapa kau risau. Toh kita tidak pernah melakukan hubungan lebih," ujar Alehandro santai.


Mungkin bagi pria berciuman adalah hal biasa untuknya tapi tidak bagi Maria. Walau itu bukan yang pertama untuknya. Tapi itu pertama kalinya dia berciuman lama dan intens dengan seorang pria. Sebelumnya hanya sebatas kecupan saja.


"Lagipula kau yang pertama kali melakukannya," bisik Alehandro menggoda gadis muda itu. Wajah Maria seketika merah merona. Jika bukan karena rasa gengsinya dia tidak akan mencium bibir Alehandro pada saat itu.


"Mari kita lupakan itu dan katakan mengapa kau berada di sini," ucap Alehandro mengalihkan perhatian.


Maria menarik rambutnya ke belakang telinga sembari menundukkan wajahnya. Rasa panas masih terasa di wajahnya.


Alehandro menganggukkan kepalanya.


"Baiklah kita mulai bekerja secara profesional. Aku adalah pemilik sekaligus CEO di sini kerjamu hanya menuruti perintahku selain membantu pekerjaaan Brigita," ucap Alehandro.


"Kau tidak perlu memikirkan yang telah lalu. Anggap saja itu sebagai have fun bagi kita berdua." Maria mengangkat wajahnya ketika mendengar ucapan Alehandro.


"Kecuali jika kau merindukannya dan menginginkannya lagi aku akan memberikan servis gratis padamu," ledek Alehandro membuat Maria membelalakkan matanya. Bulu matanya yang lentik ikut bergerak dengan cantiknya. Dia mulai menyukai meledek gadis polos itu.


"Dan kau tidak perlu khawatir, aku tidak akan mengatakan itu pada calon suamimu Cristian."

__ADS_1


"Dia bukan calon suamiku, dia sudah kuanggap seperti kakakku sendiri. Calon istrinya malah telah berada di rumah itu," jawab Maria.


"Cinta?" tanya Alehandro. Dia lupa jika tadi malam Cristian membawa Cinta pergi dari pesta dengan terburu-buru.


"Lalu pacarmu itu?" tanya Alehandro.


Maria memalingkan wajahnya kesal jika mengingat pacarnya yang telah mengkhianatinya.


"Bukankah kau tahu sendiri jika dia sudah pergi bersama wanita lain!" jawab Maria kesal. Dia mulai berjongkok untuk mengambil pecahan cangkir.


"Biar OB saja nanti tanganmu terluka," kata Alehandro. Dan benar saja karena gugup dan tidak fokus tanpa sengaja tangan Maria terkena serpihan kaca.


"Aww ... ," Maria mengibaskan tangannya. Alehandro langsung datang dan melihat lukanya.


"Ini dalam," ucap pria itu lalu membawa Maria ke sebuah kursi panjang sofa.


"Tak apa!" jawab Maria namun tatapan tajam Alehandro membuat Maria terdiam dan menuruti kata-katanya.


Alehandro mengambil kotak obat dan duduk di sebelah Maria.


"Biar aku lakukan sendiri," pinta Maria. Namun Alehandro mengambil paksa tangan Maria yang lembut. Bahkan sangat lembut seperti tidak bertulang. Batin Alehandro.


Dia melirik Maria ketika gadis itu meringis kesakitan tatkala cairan antiseptik di teteskan ke atas lukanya.


Desisan suara Maria membuyarkan konsentrasi nya. Dia teringat malam itu Maria duduk di atas tubuh Alehandro dan menciumnya tiba-tiba. Bibirnya sangat lembut dan manis.


Alehandro memasangkan plester ke jari Maria. Dia melirik ke bibir Maria terus menerus hingga ... .

__ADS_1


Secara tiba-tiba Alehandro mencium bibir merah muda itu. Maria yang terkejut hanya bisa membelalakkan mata menerima serangan mendadak dari pria itu.


"Alehandro .... !" terdengar suara teriakan seorang wanita membuat kegiatan mereka terhenti.


__ADS_2