Mencintai Calon Kakak Ipar

Mencintai Calon Kakak Ipar
Janji Yang Tidak Bisa Ditepati


__ADS_3

Bela sudah tidur ketika David kembali ke rumah. Dia sudah lelah menemani Cantik seharian ini. Dia selalu menempel pada Bella. Hingga ke kamar mandi pun dia menunggu di luar kamar. Bella tidak tega mau mengusirnya keluar atau berbuat kasar sehingga mau tidak mau dia melayani omongan Cantik yang sangat cerewet.


Kalau dituruti, Cantik mau ikut tidur dengan Bella tapi pengasuhnya bisa membujuk agar tidur di kamarnya sendiri.


David langsung menuju ke kamar Bella ketika masuk ke rumah. Dia telah melihat bagaimana cara Bella menemani anak itu seharian ini lewat CCTV yang di sambungkan ke handphonenya.


Dia sangat bangga pada Bella yang bisa mengatasi perasaannya sendiri sehingga bisa membuat Cantik betah bersamanya. Hati anak itu bersih bisa melihat mana yang benar-benar menyayangi mana yang hanya pura-pura saja.


David masuk dengan langkah pelan.Takut membangunkan sang pemilik kamar. Aroma buah-buahan yang berpadu dengan bunga langsung menyeruak masuk ke dalam hidung David. Membuat dada bergetar dan mendesir tanpa perlu adanya sentuhan.


Bukankah ini hal membahagiakan pulang ke rumah mendapati sang kekasih hati tertidur pulas di hadapannya. Dia tidak memerlukan sebuah sambutan hangat kehadiran Bella di rumah ini sudah cukup baginya.


Cahaya lampu kamar hanya remang-remang. Bella tidur dengan posisi meringkuk ke samping kanan. Posisi yang dia sukai. Dia masih sama tidak berubah. Selimutnya tersingkap memperlihatkan bagian atas lututnya yang terekspos sempurna bercahaya dalam kegelapan. Membuat David ingin menyentuhnya. Tapi dia sudah berjanji pada diri sendiri membiarkan Bella sendiri yang akan datang padanya dan menyerahkan diri.


Janji yang membuat dia tersiksa selama beberapa hari jika berdekatan dengan wanita itu.


David membetulkan selimut Bella. Duduk di sebelahnya dan memandangi wanita itu lama hingga dia lupa waktu. Dia tidak tahan untuk tidak menyentuh kulit pipi wanita itu putih dan halus. David menyentuhnya perlahan dan Bella merespon dengan menggerakkan kepalanya layaknya gerakan kucing manis ketika di sentuh majikannya.


David tersenyum lebar.


"Dalam keadaan tidak sadar pun kau juga merindukan aku," ucap David dengan suara lirih.


Bibir Bella yang Semerah koral membuat David tergelitik untuk mencobanya. Apakah wanita itu akan merespon sesuai keinginannya atau dia menolak.


Bibirnya mulai menyentuh bibir Bella dan bergerak sepelan mungkin, Bella membuka sedikit mulutnya tanpa sadar ketika mendapat serangan itu hingga mereka terbuai dan wanita itu melenguh dan membuka matanya. Namun dia tidak bisa berbuat lebih ketika dirinya juga ikut terbawa suasana yang David ciptakan. Tubuhnya tidak bisa berbohong jika dia rindu sentuhan David.


Akalnya ingin menolak hal ini tapi responnya berbeda, dia terbuai dan mendesis ketika sesuatu yang basah menjalari lehernya.


Lalu David diam dan menjauh. Dia berdiri.


"Oh, tidak ... tidak ... dia benar-benar menyiksa ... ," jerit Bella dalam hati.

__ADS_1


Dia menggelengkan kepalanya dan membalikkan tubuhnya lalu meninggalkan Bella sendiri. Bagian dalam diri Bella kecewa tetapi egonya sangat dilukai oleh David.


"Breng*** ! Kenapa kau melakukan ini padaku! Jangan pernah dekati aku lagi," seru Bella marah sembari melempar bantal ke arah pintu dimana tubuh David menghilang.


Bella marah pada dirinya sendiri mengapa dia sangat merindukan David pada saat ini dan pria itu benar-benar mempermainkannya. Bella meraung marah dalam tangisnya.


David sendiri berdiri di belakang pintu mendengar tangis Bella. Bibirnya masih ada sisa-sisa kehangatan bibir Bella. Kini dia tahu alam bawah sadar Bella merindukannya tapi wanita itu terlalu marah sehingga dia menutupi rasa rindunya.


"Tidak lama lagi kau sendiri yang akan datang Bella. Saat dimana kau melupakan rasa sakit dan marahmu padaku," ucap David lirih.


***


Pagi harinya Bella turun dengan perasaan canggung. Matanya terlihat bengkak karena menangis hingga dini hari. Dia hanya tertidur sedikit setelah David membangunkannya dengan ciuman itu. Dia mendesah pelan ketika melihat pria itu sudah duduk di meja makan dengan secangkir kopi di hadapannya. Cantik langsung berlari memeluk kakinya ketika melihat Bella.


"Ibu mau masak apa buat sarapan pagi ini?" tanya Cantik. Wajah anak itu terlihat sangat imut dengan dua kucir di atas kepalanya.


"Coba kita lihat ada bahan apa saja di dapur," jawab Bella.


"Asik Ibu mau masak ... aku lihat boleh?" tanya Cantik penuh harap. Bella menganggukkan kepala lalu menggandeng tangan Cantik, berjalan jalan melewati David tanpa mau melihat ke arahnya. Dadanya tiba-tiba terasa penuh sesak mengingat apa yang terjadi semalam.


Cantik lalu didudukkan di atas meja marmer oleh Bella.


"Kau lihat dari sini saja," ucap Bella. Dia melihat ke dalam kulkas setinggi tubuhnya, berpintu dua dengan lebar satu meter yang penuh oleh bahan makanan. Semua ada di dalam sana.


"Bagaimana kalau kita buat nasi goreng seafood," kata Bella.


"Dia alergi makanan laut," jawab David tanpa menoleh ke arahnya.


"Hm ... Ayah ... ," rajuk Cantik. Dia belum paham dengan kata alergi. "Aku ingin makanan itu."


Bella lalu mendekati Cantik dengan membawa sosis ayam dan dua butir telur.

__ADS_1


"Kau alergi, artinya tidak bisa memakannya karena akan menyebabkanmu sakit. Sakit itu tidak enak lebih baik kita tidak memakannya agar terhindar dari itu," terang Bella.


"Memang aku sakit apa kalau alergi, panas pusing? tidak makan itu aku juga sakit, seperti ehm ... ehm ... ," Cantik melihat ke arah ayahnya. Bella melihatnya secara seksama. "Seperti ibu yang mengunciku di kamar mandi karena marah."


David memejamkan matanya erat. Dia perih jika mengingat kejadian itu. Itu semua salahnya dan Cantik yang harus menderita karena perlakuan ibunya.


Bella menutup mulutnya. Dia langsung mendekap Cantik. Dia tidak menyangka jika anak sekecil itu harus mengalami perlakuan buruk dari ibu kandungnya. Tapi kenapa Sofi tega menyiksa anaknya sendiri? Pantas jika Cantik sangat takut jika melihatnya marah. Dia pasti telah mengalami trauma hebat dalam hidupnya.


"Semuanya tidak akan terjadi lagi, Sayang. Ibu janji kau akan selalu baik-baik saja."


"Bunda juga suka mengatakan hal itu jika sudah tidak marah lagi. Tetapi jika Bunda marah dia pasti akan melakukannya lagi," ungkap Cantik.


Bella menangkup wajah bundar Cantik melihat ke arah manik matanya. Manik mata berwarna cokelat yang diwariskan oleh David.


"Kau tidak akan mengalaminya lagi Sayang. Ada Ibu yang akan menjagamu di sini. Ibu akan memastikan kau baik-baik saja," ucap Bella. Tapi sejenak dia menggigit lidahnya sendiri. Mengapa dia jadi ikut terbawa emosi. Dia sudah menjanjikan suatu yang tidak mungkin untuk dilakukannya.


"Ibu tidak akan pergi lagi?" tanya Cantik.


Bella terdiam.


"Jika kita bicara terus kapan mau memasaknya. Ayo kita masak sekarang sebelum cacing dalam perutmu ini berdemo," ujar Bella mengalihkan pembicaraan.


"Apa kata-katamu tadi bisa dipercaya, Bella?" David tiba-tiba sudah berdiri di sampingnya. Memegang apel dan menggigitnya dengan gerakan sensual.


***


Likenya dong ....


Komentar


Yang punya simpenan Vote sodaqohkan ke cerita ini ya!

__ADS_1


Bunga juga boleh jika ada atau secangkir kopi.


__ADS_2