Mencintai Calon Kakak Ipar

Mencintai Calon Kakak Ipar
Takjub


__ADS_3

"Aku juga ingin memiliki istri seperti ibuku yang tetap setia pada Papi hingga akhir hayatnya. Aku belum pernah menemukan wanita sehebat Mommy, karena itu sampai umurku hampir kepala empat aku belum menikah. Kau tahu sebabnya? karena aku belum pernah menemukan wanita yang layak untuk kucintai. Kita sudah menikah dan belum saling mencintai tapi kita punya keinginan yang sama, menginginkan pasangan yang hanya untuk kita. Bisakah kita belajar bersama untuk melakukannya?''


''Aku tidak tahu, Alehandro kau selalu datang tiba-tiba dan memaksakan kehendakmu padaku!" ujar Maria kesal. Alehandro mengambil dua tangan Maria dan menggenggamnya.


"Jika aku memaksakan kehendak ku, aku sudah


mengurung mulai di rumah dari beberapa bulan lalu, tetapi tidak. Aku ingin kau pulang dengan kehendak hatimu sendiri."


"Lalu?"


"Kita coba semuanya dari awal!"


"Aku tidak bisa!" ujar Maria yang sudah terlanjur sakit hati.


"Kalau begitu pulanglah demi ibuku, aku tidak akan memaksamu menjadi istriku sepenuhnya."


"Apa kau akan memenuhi janjimu untuk menceraikanku!''


"Setelah kau menemukan pria yang kau cintai, aku akan melepaskanmu pergi untuk bisa hidup bahagia bersamanya," ucap Alehandro, entah mengapa hatinya mendesir sakit dan tidak rela.


"Kau janji?"


"Aku janji!"


"Aku akan memikirkannya," jawab Maria lagi membuat Alehandro kesal dan menyerah. Dia lalu menurunkan bahunya ke bawah.


"Sekarang kembali ke tempatmu karena kita telah selesai membicarakan masalah ini."


"Aku akan disini Maria hingga kau mengatakan iya!"


Maria terdiam.


"Aku hanya punya satu kasur ini dan pasti tidak nyaman untuk kau tiduri."


Alehandro tersenyum sedih. Entah apa yang ada dalam pikiran wanita ini, apa dia sebegitu menyebalkan untuk Maria.

__ADS_1


"Maria aku bisa tidur dilantai," kata Alehandro.


"Terserah? Tapi ku peringatkan jika ini adalah kos-kosan wanita!"


"Aku tahu!"


"Dan kau akan mati bosan bermalam di sini! " ujar Maria.


"Kita buktikan saja nanti!"


''Tidak ada kamar mandi di sini!"


"Di luar ada kan?"


"Tidak ada makanan!" Dalam hati Alejandro tidak bisa membayangkan kehidupan apa yang dijalani Maria selama ini.


"Kita bisa membelinya di luar!"


"Tidak ada AC, tidak ada pengharum ruangan tidak ada...." kata Maria jengkel ingin mengusir Alehandro dari kamarnya tetapi perkataannya tertahan ketika jari telunjuk Alehandro ada di bibirnya.


"Ada dirimu itu cukup untukku," sejenak perkataan itu mempengaruhi diri Maria namun detik itu juga dia meyakinkan diri jika pria itu adalah perayu yang unggul.


"Kau yang lebih keras kepala," ujar Alehandro. Maria menyipitkan mata menatap tajam Alehandro lalu membuang mukanya membuat Alehandro tertawa karena gemas.


"Aku ingin mandi gerah!" kata maria bangkit dan mengambil handuk dan baju dari lemari. Dia lalu keluar dari kamarnya.


Alehandro yang mulai merasa gerah dan panas lalu melepaskan kemeja serta celana panjangnya. Benar apa kata Maria jika udara di dalam ruangan ini sangat panas. Dia lalu menghubungi Krish untuk membawakannya kipas angin.


Lima belas menit kemudian Maria sudah kembali dari kamar mandi. Dia terlihat lebih segar dan menggoda. Dia hanya memakai tanktop yang memperlihatkan lekukan tubuhnya dan hot pants yang menggoda. Rupanya istrinya itu ingin mengerjai nya semalaman ini.


Maria memang cantik. Bagai kuncup bunga yang baru mekar dan dia belum tersentuh sama sekali. Alehandro akan merasa beruntung jika memilikinya. Alehandro mendesah ketika melihat Maria yang duduk di depannya sembari menggosok rambutnya yang basah dengan handuk.


Aroma sampai dan sabun merakyat terasa bagai aroma wangi surga. Ini lebih harum daripada parfum mahal yang dipakai oleh para wanita sosialita. Sesuatu dalam diri Alehandro bangkit walau tanpa digoda. Ini suatu penyiksaan yang nyata terlihat namun tidak bisa disentuh. Seperti makanan di dalam etalase toko, terlihat nikmat tetapi hanya dipajang. Okey, dia punya uang untuk membelinya tapi Maria? Dia tidak punya keberanian untuk mendekatinya.


Kenapa? Alehandro pun tidak tahu. Dia tidak ingin menyakiti wanita itu sedikit pun, bukan karena takut pada Ibunya apalagi Cristian. Dia menghormati Maria karena wanita itu pantas dihormati. Di balik sifatnya yang keras kepala Maria adalah wanita mandiri yang pantang menyerah, dia juga wanita yang selalu menjaga kehormatannya dengan baik. Banyak wanita di luaran sana yang sudah banyak di cicipi oleh pria tanpa ikatan pernikahan. Akan tetapi Maria nya selalu menjaga diri. Dia akan merasa terhormat jika Maria sendiri yang menyerahkan diri padanya.

__ADS_1


Alehandro mendesah keras membuat Maria menengok ke arahnya. Mengangkat kedua alis seolah bertanya kenapa?


Maria sendiri sudah merasa tidak nyaman dengan kehadiran Alehandro di kamar ini. Apalagi ruangan ini terasa begitu kecil ketika bersamanya. Ruangan itu penuh oleh aroma parfumnya yang maskulin. Tubuhnya yang tinggi besar serasa mengancam dirinya, mengancam sisi kewanitaannya. Dia takut jika Alehandro berbuat macam-macam, dia tidak bisa menolak karena dia memang istrinya. Lagi pula ini kamar kost tanpa peredam suara. Tidak mungkin dirinya berteriak meminta tolong yang ada tetangga kos malah akan menertawakannya.


Maria melihat jam di dinding. Baru jam lima sore, waktu terasa lambat untuknya. Maria lalu melaksakan kewajibannya sebagai seorang muslim, dia mengambil mukena dan sholat.


Alehandro melihatnya dengan takjub. Dia memang muslim tetapi tidak pernah melakukan itu. Bukan dia tidak percaya Tuhan, tetapi dia pernah belajar tentang hal berbau agama kecuali di sekolah.


Rasa beruntung memiliki Maria terasa lebih besar sekarang. Dia percaya Maria bisa merawat anaknya nanti dengan baik. Kali ini dia berjanji pada diri sendiri tidak akan pernah melepaskan Maria. Insting ibunya memang benar, jika hanya Maria wanita yang tepat untuknya.


Maria melakukan salam dan berdoa setelah itu dia duduk bersandar di tembok menunggu maghrib tiba.


Dia mengambil handphone miliknya dan membuka pesan yang masuk. Ada pesan masuk dari Dara.


'Suamimu di kamar ya, Say. Ya udah nikmatin aja malam pertama kalian. Besok kalau jalan yang normal aja ya, suruh jangan kebanyakan gaya karena kamu masih bersegel.'


Dara lalu membalas sembari mengigit jarinya.


'Teman lucknut, bukannya bantuin mikirin cara biar domba ini pergi malah ngomongin malam pertama!'


Terdengar bunyi notifikasi pesan masuk lagi.


'Tutorial malam pertama yang baik'


Maria melebarkan matanya dan menutup chat itu dengan kesal tanpa menyelesaikan bacaan chat Dara.


Dia menghela nafas dalam dan melihat Alehandro sedang menatapnya.


"Ada apa?" tanya Maria.


"Aku membayangkanmu memakai hijab, pasti cantik," jawab Alehandro.


"Gombal," ujar Maria sebal.


"Aku senang jika kau mau melakukannya untukku, aku tidak rela melihatmu memperlihatkan kecantikanmu pada pria lain."

__ADS_1


"Ale!" seru Maria tertahan sembari menatapnya tajam.


"Dan aku tidak akan membiarkan pria lain menyentuhmu, Maria," imbuhnya lagi.


__ADS_2