
Tok ... tok ... tok .
"Ada tamu, Mom!" kata Calesta.
Cinta yang sedang menyiapkan makan malam untuk keluarga menghentikan kegiatannya.
"Biar Mommi yang membukanya saja," kata Cinta.
"Akh, ini sulit. Aku tidak bisa," kata Calesta kesal ketika melihat soal-soal matematika di hadapannya.
"Biar aku lihat soal-soalnya," kata Ardi. Ardi lalu memangku Calesta dan mulai mengajarinya.
"Jangan kau beri jawabannya Ardi, kau ajari saja biar dia mengerti," teriak Cinta sembari membuka pintu rumah.
Mata Cinta terbelalak lalu tangannya menutup pintu dengan cepat. Namun pintu itu ditahan oleh sepatu sneakers dan di buka lagi. Cinta melangkah mundur dan menelan salivanya yang tercekat di tenggorokan.
"Hai ... lama tidak bertemu denganmu," ucap Cristian sembari melangkah maju. Cinta hanya bisa mengigit bibirnya panik dan gugup. Untuk lari pun sepertinya percuma saja.
"Bagaimana keadaanmu?" tanya Cristian santai.
"Bagaimana kau bisa tahu jika aku ada di sini?" tanya Cinta bodoh. Bukankah tadi Ardi sudah memberitahunya jika Cristian akan tahu semuanya dan akan datang malam ini. Namun Cinta tidak mengira secepat ini.
__ADS_1
Cristian mengeluarkan senyum iblis andalannya. Dia menatap ke arah Cinta yang berdiri kaku di hadapannya. Tidak banyak yang berubah dari Cinta, hanya saja dia kini terlihat dewasa dan matang, juga tambah berisi di tempat-tempat yang seharusnya.
"Kau kira, kau bisa selamanya bersembunyi dariku?" bisik Cristian di telinga Cinta dan membuat wanita itu meremang di seluruh tubuhnya.
"Yeah ... ini terlihat mudah jika aku mengerjakannya bersamamu, aku sangat menyayangimu, muah...," teriak Calesta dari ruang keluarga.
Cristian segera berjalan mendekati arah suara itu. Tangannya mengepal ketika melihat anaknya berdiri memeluk Ardi dan mencium keningnya.
"My Princess aku juga sangat menyayangimu," balas Ardi memeluk erat Calesta dan menciuminya.
"Ha ... ha ... ha ... geli, hentikan," ujar Calesta.
"Kau sudah datang rupanya," tanggap Ardi santai.
"Ehm ... Sayangku Cintaku, Om akan pulang dulu ke rumah. Kau selesaikan saja ini sendiri Okey!"
"Tapi Om," ucap Calesta keberatan.
"Ada Om Ganteng, minta dia untuk mengajarimu." Ardi lalu berdiri berjalan ke depan Cristian.
"Jangan buat Cinta menangis lagi!" kata Ardi sebelum meninggalkan rumah. Rumahnya berada di samping Cinta.
__ADS_1
Cinta memegang tangan Ardi. Ardi menggenggamnya. "Tidakkah kau lelah bersembunyi, hadapi masalahmu sendiri kali ini,'' ucap Ardi. Dia lalu melepaskan pegangan itu dan melangkah keluar dari rumah.
Sejenak suasana menjadi hening seketika.
" Hai Calesta," sapa Cristian dengan suara bergetar. Dia merasa terharu melihat anaknya sudah besar dan ada dihadapannya.
"Hai, Om Ganteng. Om teman Mommi kah? Kok bisa kemari?" tanya Calesta polos.
"Yah, teman sangat baik. Hanya saja Mommimu pergi terlalu lama dan kita berpisah," kata Cristian melihat ke arah Cinta yang sedang membuang muka.
"Oh ya! Mommi tidak pernah mengatakan jika punya teman sehebat Om," ucap Calesta polos.
"Mommi memang nakal tidak mengatakan siapa Om padamu, kalau begitu bagaimana jika kita berkenalan." Cristian duduk di sebelah Calesta dan mengulurkan tangannya.
"Siapa namamu, anak Cantik?" tanya Cristian.
"Namaku Calesta Maharani, aku anak dari Ibu Cinta Aurora."
"Siapa ayahmu?" tanya Cristian membuat gugup Cinta.
Calesta memandangi wajah ibunya.
__ADS_1