
"Aku akan ikut Ibu kemanapun dia pergi," Rose lalu menunduk sembari melirik ke arah ibunya, "tetapi aku juga ingin mempunyai ayah dan tinggal bersamanya. Seperti anak-anak lain."
Ada nada kepedihan yang tersimpan dari nada bicara Rose membuat semua terdiam dan merenunginya.
Kaisar lalu meletakkan sendok yang digenggamnya ke piring. Lalu menatap tajam ke arah Rose.
"Aku tidak punya ibu tetapi Ayah menjadi ayah serta ibu yang baik untukku," sela Kaisar tiba-tiba. Alehandro lalu melihat ke arah Kaisar mengusap kepalanya lembut. Dara menaikkan kedua alisnya ke atas dan menghentikan gerakannya yang sedang makan. Rose melihat ke arah Kaisar dengan intens.
"Ibu juga jadi ibu yang baik untukku, Ibu juga selalu menjadi pahlawanku," kata Rose setengah berbisik.
"Ayah aku ingin pulang," pinta Kaisar.
"Apa kau tidak apa kutinggal sendiri Dara?" tanya Alehandro menatap bola mata Dara yang bergerak, menggambarkan kepanikan dan keberatan.
"Biar nanti Kris yang akan membawa kalian pulang. Sementara itu, kalian bisa saling berbicara satu sama lain dan Rose bisa mengenal ayahnya terlebih dahulu."
"Ide yang bagus, Pak," ujar Kris bahagia, lalu menoleh ke arah Dara yang terlihat cuek tidak mau menatapnya. Rose sendiri melihat ayahnya dengan perasaan bahagia.
__ADS_1
"Ayah bisa mengajakmu jalan-jalan nanti," kata Kris.
"Hore!" tawa Rose riang sembari bertepuk tangan lalu memeluk ayahnya lagi. Dara lalu memberi tanda pada Alehandro untuk melihat Kaisar.
Kaisar berjalan terlebih dahulu meninggalkan ayahnya tanpa mau berpamitan pada Rose ataupun melihatnya. Alehandro terkejut dia lalu bangkit.
"Aku pergi dulu, Rose, Kris dan Dara," pamit Alehandro segera dan mengejar Kaisar. Dia seperti tahu perasaan anaknya yang sedang terluka.
Dara yang menatap itu hanya bisa mendesah. Dara tahu jika Kaisar terlihat kecewa setelah melihat kebersamaan Rose dengan Ayahnya.
Tangan Alehandro akhirnya merengkuh tubuh Kaisar dan menggendongnya.
"Aku sudah besar Ayah, kau tidak perlu menggendongku," ujar Kaisar dengan nada bicara yang ketus.
"Bagi Ayah kau masih seperti anak kecil." Alehandro lalu membawa mereka kembali ke mobil sepanjang perjalanan Kaisar hanya terdiam dan melamun saja
"Kenapa kau bersedih?" tanya Alehandro pada Kaisar yang duduk di sebelahnya.
__ADS_1
"Apa kau sedih karena Rose kita tinggal di sana?"
"Yah, kenapa Ibu pergi lebih dahulu tanpa membesarkan aku?" tanya Kaisar tiba-tiba.
"Apa Ibu membenciku sehingga tidak mau hidup bersamaku," imbuh Kaisar.
"Atau Ibu juga seperti ayahnya Rose yang sedang pergi suatu saat akan kembali lagi," imbuh Kaisar membuat hati Alehandro sakit bagai tertikam sembilu tajam.
"Jika Ibu tidak kembali mengapa Ayah tidak cari ibu lain, yang akan menyayangiku, memperhatikan aku, menciumku dan meletakkan aku dalam dekapan hangatnya?"
Kaisar menyeka air matanya. Alehandro hanya bisa terdiam tidak mampu untuk menjawab pertanyaan Kaisar.
"Ibumu sangat menyayangimu. Bukankah kau selalu mendapat surat darinya setiap tahun? Bukankah dia juga mengatakan selalu menyayangimu," ucap Alehandro. "Lalu mengapa kau berpikir Ibu tidak menyayangimu?"
Kaisar lalu menaikkan kedua kakinya dan menekuk di dada. Menyilangkan kedua tangan diatas lutut dan membenamkan wajahnya. Tubuhnya bergetar karena menangis.
"Karena aku juga ingin mempunyai ibu, aku ingin dipeluk dan dimanja oleh Ibu seperti Rose. Bisakah Ayah membelikanku seorang ibu seperti itu?"
__ADS_1