
Maria bingung, dia menunjuk ke arah pintu tempat tadi Lusi keluar dari ruangan ini.
"Apa maksudnya? Menikah ... Besok ... ," kata Maria bingung.
Alehandro mengusap wajahnya kasar. Dia lalu mendudukkan Maria di kursi sehingga mereka saling berhadapan.
"Dengar ini masalahku kau tidak perlu pusing memikirkannya. Aku akan mengatasi ini secepatnya," ucap bijak pria itu.
"Tapi tadi, ibu eh Mommie-mu itu mengatakan," tanya Maria.
"Jika kau bersedia menikah denganku maka kita akan menikah besok," kata Alehandro.
"Kau jangan bercanda,bertemu denganmu membuat hariku sial," ujar Maria.
"Aku serius. Aku lebih baik menikah denganmu orang yang kukenal dari pada menikahi wanita yang aku belum pernah menemuinya sama sekali," jawab Alehandro.
Maria terkekeh sembari menutup mulutnya. "Kau jangan gila, ini sangat ... ." Maria bingung untuk mengatakan apa.
Dia lalu memegang dua pipinya dan mencubit.
__ADS_1
Tapi Alehandro malah mencubit pipi Maria lebih keras.
"Aww ...," pekik Maria."Sakit tau!"
Alehandro terkekeh. "Kau memang sedang tidak bermimpi."
"Aku tidak ingin menikah denganmu kau bisa menikahi wanita lain tapi tidak aku," jawab Maria.
"Kenapa?"
"Pertama kau itu sudah berumur, jarak rentang usia antara kita berdua sangat banyak. Yang kedua aku masih sangat muda, kuliah saja belum selesai dan aku masih punya masa rencana masa depanku dan yang ketiga aku tidak mau berhubungan dengan pria bekas banyak wanita." Maria menerangkan alasannya secara komplit.
"Aku tidak tua, aku masih perkasa bisa memberimu banyak ronde dalam satu malam, dan aku juga tampan. Buktinya kau memilihku sebagai sasaran ciumanmu," Alehandro menghentikan perkataannya karena melihat ekspresi natural dari Maria yang tidak dibuat-buat.
Wanita itu tanpa sadar menggigit bibirnya tatkala mendengar kata 'ciuman'.
"Kedua aku tidak akan menghentikan kegiatanku diluar sana jika kita menikah. Kau bebas melakukan yang kau mau," ucap Alehandro memandang wajah Maria dari dekat membuat wanita itu lagi-lagi merona merah karena kikuk.
"Dan yang ketiga aku selalu memeriksakan diriku jadi kau tidak perlu khawatir kalau aku akan menularkan penyakit HIV padamu. Jika kau jijik kita tidak perlu melakukan hubungan itu karena aku hanya menikah untuk memenuhi tanggung jawabku sebagai seorang anak pada ibunya," mendengar kata ibu membuat hati Maria menjadi trenyuh.
__ADS_1
"Kita tidak akan melakukan hubungan itu kecuali jika kau menginginkannya," kata Alehandro lagi.
Alehandro mengambil tangan Maria dan menangkupkannya.
"Ku mohon bantu aku untuk kali ini saja. Kita hanya akan menikah minimal satu tahun saja setelah itu kau bisa mengajukan cerai. Aku tidak ingin mengecewakan Mommie, aku tidak mau dia mati dengan rasa penasaran karena melihat anaknya belum menikah," jelas Alehandro. "Aku hanya ingin membahagiakannya di saat saat terakhir hidupnya."
Maria orang yang paling tahu bagaimana sedihnya ditinggal pergi ibunya saat usianya masih kecil. Ayahnya sendiri mengidap kanker paru-paru. Setiap harinya dia dirundung ketakutan karena takut melihat ayahnya telah tiada keesokan harinya. Dia selalu melakukan yang terbaik agar bisa membuat ayahnya bangga dan bahagia. Namun suatu hari dia menemukan ayahnya tergeletak tidak bernyawa. Sejak saat itu dia hampir tidak bisa tertawa lagi. Dia kesepian dan hatinya merana.
"Hanya untuk membahagiakan ibumu," tanya Maria.
Alehandro menganggukkan kepalanya.
"Tidak akan menyentuhku," kata Maria.
"Itu jika kau tidak mengijinkannya," jawab Alehandro.
"A-Aku tidak mau aset berhargaku sia-sia dimakan rayap sepertimu lalu menjadi janda tanpa ada yang bisa dibanggakan lagi," ucap Maria.
"Kalau begitu kita jangan bercerai agar kau tidak menjadi janda," jawab Alehandro lagi sembari tersenyum lucu.
__ADS_1