
"Seperti itukah? Aku ingin sekali melihat keadaannya sekarang tante?" kata Bella lirih. 'Kehilangan miliknya yang berharga. Dia takut jika Cristian down karena kehilangan Cinta.
"Selain membawa hadiah untukmu tante juga ingin mengajakmu ke rumah untuk melihat keadaan Cristian. Mungkin dengan kedatanganmu akan menjadi obat untuk lukanya," sindir Aura pada Cinta.
Cinta hanya menunduk memainkan kakinya di lantai. Ardi menyentuh tangan Cinta memberi kekuatan padanya. Tapi hal itu membuat Aura muak dan marah.
"Cinta kenapa kau tidak menyambut kedatanganku?" tanya Aura sinis.
Cinta langsung menengadahkan kepalanya dan berdiri lalu berjalan menuruni beberapa anak tangga dan mendekati Aura.
"Maaf tante, selamat datang," ucap Cinta kagok hendak mengambil tangan Aura untuk mencium telapak tangannya. Tapi Aura berbalik dan masuk ke dalam mobil. Dia berbalik lagi dengan beberapa kotak besar di tangannya.
"Kau bantu aku membawa hadiah ini masuk ke dalam. Hati-hati, di dalamnya berisi pakaian dan beberapa perhiasan yang Cristian belikan untuk isterinya kelak." Cinta menelan salivanya dalam-dalam.
Dia menerima kotak itu yang bersusun hingga menutupi penglihatannya. Ardi sudah berdiri di dekat tiang untuk membantu Cinta namun Cinta menggelengkan kepalanya. Ardi hanya berdiri saja. Cinta berjalan menaiki tangga.
Aura lalu mengambil beberapa kotak lagi dari dalam mobilnya.
"Banyak sekali tante hadiahnya?" tanggap Bella antusias dan senang.
"Apa yang Cristian tidak lakukan untuk istrinya kelak, bukan ini saja yang Cristian siapkan, dia bahkan sudah memesan beberapa lemari dan berniat mengisi dengan barang-barang baru milik nyonya rumahnya," ujar Aura.
Bugh!
Cinta terjatuh ketika menaiki tangga ke terasnya. Dia menjatuhkan semua barang itu hingga bersebaran ke lantai. Semua orang memperhatikannya. Ardi dengan cepat turun.
Cinta memegang perutnya dengan wajah pucat. Ardi menyentuh perut Cinta.
"Kau baik-baik saja? Adakah yang sakit?" tanya Ardi cemas.
Cinta hanya merasa sedikit tegang di perutnya. Dia menatap Ardi dan melihat kecemasannya.
"Aku baik-baik saja?" ucap Cinta menyingkirkan tangan Ardi dari perutnya.
Aura melihat semua itu dengan seksama. Timbul kecurigaan dari dalam hatinya. Kecurigaan yang akan dia buktikan nantinya.
"Ya, Tuhan Cinta apa yang kau lakukan! Mengapa kau membuat semuanya berantakan!" teriak Riska di pintu. Dia mendekati Cinta dengan raut muka tidak senang.
"Kau memang selalu membuat masalah, katakan saja jika kau cemburu dengan Bella," bisik Riska yang tahu sebagian kebenaran tentang hubungan Cinta dan Cristian.
__ADS_1
Aura bisa melihat tatapan benci Riska pada Cinta. Dia merasa ada yang salah di sini namun apa?
Rencana awal yang ingin menjatuhkan Cinta kini dia rubah. Dia ingin tahu kebenarannya, Cristian pasti melewatkan sesuatu. Anak itu selalu mendahulukan emosi dari pada akal sehatnya.
Cinta mulai merapikan barang bawaan Aura dan mulai menyusunnya lagi.
"Biar aku bantu," ucap Ardi mengambil semua barang itu.
Mereka berdua membawa barang itu ke kamar Bella. Dan Bella membawa kotak-kotak perhiasan yang diperuntukkan untuknya.
"Terima kasih lho Jeng sudah repot-repot membelikan semua ini untuk Bella. Hadiahnya banyak sekali,'' ujar Riska ketika semua orang ada kamar Bella yang sudah dihias.
"Ini semua Cristian persiapkan sendiri untuk istrinya. Saya hanya membawakannya kemari. Cristian sedang tidak enak badan." Aura melirik ke arah Cinta yang sudah menyusun kotak-kotak itu.
"Bella kau coba beberapa perhiasan itu dan kau pilih mana yang akan kau pakai di acara pernikahanmu," ucap Aura.
Bella mulai membuka salah satu kotak perhiasan dan memekik terkejut dengan mewahnya satu set perhiasan emas berlian itu.
''Ini indah sekali, Tante!" ucap Bella. Lalu mulai memakai satu persatu. Kulit Bella yang putih terlihat lebih cerah tatkala anting dan kalung itu mulai digunakannya.
Cinta hendak keluar kamar namun pergelangan tangannya di genggam Aura secara tiba-tiba. Cinta melirik ke arah Aura.
Cinta lalu membalikkan tubuhnya melihat ke arah Bella.
"Gelang ini sangat indah, Tante." Gelang itu dirancang dengan ukiran khusus dan dihiasi dengan beberapa mata berlian berwarna merah tertanam pada gelang itu.
"Ini seperti sebuah simbol huruf tante?" tanya Bella pada Aura.
" Tante tidak melihatnya! Mungkin itu hanya sebuah ukiran saja. Kalau pun iya itu jenis huruf apa?" Jawab Aura santai.
Bella mulai memasukkan gelang besar itu di tangannya. Namun tidak muat. Dia mencobanya lagi dan sedikit memaksa namun tetap tidak bisa.
"Akh Sayang! seharusnya Cristian mengukur tanganmu dulu baru memperbaikinya agar muat ketika kau hendak memakainya," kata Aura mengambil gelang itu dari tangan Bella.
"Itu akan merusak keindahan gelang itu Tante karena harus merubahnya," balas Bella dengan senyum kecut.
"Akhirnya gelang ini harus kembali ke tanganku lagi, ini gelang warisan keluarga."
"Aku harus pergi ada pekerjaan lain yang harus ku selesaikan. Kak, kau terlihat sangat cantik ketika mengenakannya," ujar Cinta tulus.
__ADS_1
Lagi-lagi tangan Cinta diambil paksa oleh aura dan gelang itu langsung dipakaikan ke tangannya.
Semua orang terkejut.
"Ini muat di tanganmu Cinta," kata Aura dengan wajah puas.
Cinta membelalakkan matanya, wajahnya pucat pasi melihat ibu dan kakaknya. Kerongkongannya seperti tercekat oleh sesuatu. Dia menelan salivanya dengan sulit.
"Apa maksudmu Jeng, bukankah itu gelang untuk Bella," ucap Riska terkejut. Bella hanya membuka lebar mulutnya tanpa mengatakan satu patah kata pun.
"Aku hanya iseng ingin mencobanya saja. Eh ternyata pas di tangan Cinta. Kita bisa mengeluarkannya lagi," jawab Aura enteng.
Dada Cinta terasa sesak, dia mencoba mengeluarkan gelang itu dari tangannya, Namun sulit. Dia tetap menariknya hingga kulit tangannya memerah. Namun tetap saja tidak bisa dikeluarkan.
"Kau akan menyakiti dirimu sendiri jika memaksa untuk mengeluarkannya Cinta," ujar Aura.
"Ini milik Kak Bella, aku tidak berhak memakainya. Aku akan mengeluarkannya," ucap Cinta terus menarik gelang itu dari tangannya hingga punggung tangannya lecet.
''Cinta hentikan nanti tanganmu sakit, lihat tanganmu sudah terluka," ucap Aura.
Riska masih terdiam melihat hal itu. Bella mengambil sebuah handbody lotion dan menuangkan di tangan Cinta.
"Mungkin ini bisa mempermudahnya," ucap Bella mencoba membantu adiknya dengan menarik gelang itu. Cinta mendesis kesakitan tatkala gelang itu melukai kulitnya.
Melihat Cinta yang kesakitan Bella menghentikan aksinya.
"Tante bolehkah gelang itu dipakai oleh Cinta. Dia kesakitan ketika akan mengeluarkannya. Kulitnya juga memerah dan lecet-lecet," pinta Bella yang membuat terkejut ibunya. Aura tersenyum tipis yang hampir tidak terlihat.
"Kita bisa memotongnya dan menyatukannya lagi," ujar Riska.
"Itu akan mengurangi keindahan gelang ini, dan akan membuat gelang ini cacat tidak sebagus tadinya," jawab Bella lirih di akhir kalimat. Entah mengapa dia merasa ini sebuah pertanda buruk untuknya.
"Apa kau rela menyerahkan gelang itu pada Cinta, Bella?" tanya Aura.
***
Like ...
Vote ...
__ADS_1
Dan komennya ...