Mencintai Calon Kakak Ipar

Mencintai Calon Kakak Ipar
Posisi


__ADS_3

"Sebaiknya kita keluar dari kamar," ajak Dara yang mulai gerah melihat kamar.


Alehandro mempersilahkan Dara untuk keluar terlebih dahulu, baru dia berjalan di belakang Dara dengan meletakkan kedua tangan di dalam saku bajunya.


"Kau mau minum apa?" tanya Alehandro.


"Bagaimana kalau kubuatkan kopi untukmu," tawar Dara.


"Ide yang bagus," kata Alehandro. Mereka lalu pergi ke dapur. Dara mulai membuat kopi dan Alehandro berdiri di bar dapur.


"Aku kira akan mengajakmu minum," kata Alehandro ketika mereka sudah berdiri di balkon kamar menatap keluar pemandangan pantai Sanur yang indah.


"Kita akan minum dan anak-anak akan melihat, huh suatu perbuatan yang terpuji," ucap Dara sarkas.


Sejenak mereka terdiam menatap ombak yang saling kejar mengejar di laut lepas.


"Bagaimana keadaan Ibu Lusi," tanya Dara.


"Sudah lama, hampir setahun dia terbaring sakit di kamarnya," ucap Alehandro.


Dara menutup mulut dan menatap pria itu.


"Maaf aku tidak tahu," kata Dara.


"Bagaimana kau akan tahu jika kau menutup dirimu dari dunia luar," timpal Alehandro.


"Aku hanya ingin melindungi Rose, aku lelah dengan semua perdebatan itu," ujar Dara.


"Hanya itu?" tanya Alehandro.


Dara memalingkan wajahnya ke arah lain dan menghela nafas. Cukup dia yang tahu apa yang dia rasakan pada saat itu.


Dua tangan Alehandro memegang pundak Dara dan menggerakkan tubuh wanita itu agar melihat ke arahnya. Dia lalu menunduk karena tubuh Dara hanya sebatas tulang selangka Alehandro.

__ADS_1


"Tatap aku Dara, hanya itu alasannya? Padahal kita bisa menyelesaikan itu bersama-sama dengan mudah."


"Aku kuat ketika semua orang mencemooh dan menghinaku, atau menyiksaku. Namun, ketika Kris mengatakan akan mengambil anak itu rasa takutku lebih besar dari kekuatanku. Aku butuh tempat bersandar pada saat itu, namun aku merasa sendiri."


"Ada aku di sana," tanya Alehandro.


"Kau dan masalahmu. Aku tidak bisa menambah beban untukmu, kau baru saja kehilangan Maria dan aku menjadi masalah baru untukmu. Aku tidak bisa," ungkap Dara terisak. Alehandro memeluknya.


"Aku mencarimu mengelilingi Jakarta namun tidak menemukanmu," ungkap Alehandro.


"Untuk apa, aku bukan bagian dari dirimu. Aku hanya orang asing yang kebetulan mampir di rumahmu," ucap Dara.


"Kau sudah kuanggap sebagai adikku sendiri," ungkap Alehandro.


"Semua orang tidak mengerti perasaanmu, apa yang akan mereka katakan tentang hubungan kita nantinya. Aku mempunyai seorang anak dan hidup bersama pria tanpa ikatan. Aku tidak mau menjadi sumber masalahmu yang baru," untuk pertama kali dalam hidupnya dia menemukan tempat mencurahkan perasaannya.


"Tetapi tidak dengan pergi tanpa pamit dan pesan," ucap Alehandro.


Dara lalu merenggangkan pelukannya dan mengusap air mata di pipinya.


"Aku benci memperlihatkan kerapuhanku pada seseorang."


"Ada kalanya manusia butuh orang lain untuk mengeluarkan semua beban di hatinya," kata Alehandro.


"Jika kau pergi kemari siapa yang merawat ibu di rumah?" tanya Dara.


"Tidak ada hanya pelayan," jawab Alehandro bersandar pada tembok pembatas. Mengeluarkan rokok dari saku bajunya dan sebuah pematik.


Dia lalu mulai menyalakan rokok itu, menghisapnya pelan, lalu menghembuskan asap yang berbentuk bulatan.


"Berarti kau harus pulang cepat," kata Dara.


"Hmmm."

__ADS_1


Dara menghela nafasnya. 'Berarti Alehandro belum menikah jika sudah maka ada wanita yang akan menemani ibunya di rumah,' batin Dara


"Sayang sekali, padahal kita harus bertemu namun harus berpisah dengan cepat," ucap Dara tiba-tiba.


"Apa kau tidak ingin melihat keadaan ibuku Dara?" tanya Alehandro. Pertanyaan Alehandro membuat tubuh Dara terpaku untuk sesaat. Dia bingung harus mengatakan apa. Dia ingin menemuinya hanya saja dia tidak ingin kembali ke permasalahan awal yang membuat dia pergi dari kota itu.


"Aku ingin tetapi," Dara ragu untuk mengungkapkan ketakutannya.


"Masalah bukan untuk dihindari tetapi untuk dihadapi," ucap Alehandro menoleh dan menatap Dara. Manik mata mereka untuk sesaat saling bertemu namun Dara langsung memutuskannya.


"Aku bahagia hidup di sini, Jakarta seperti sebuah mimpi buruk untukku," ujar Dara.


"Kalau begitu jadikan hal itu sebagai mimpi indah untukmu," balas Alehandro.


"Caranya?"


"Lawanlah ketakutanmu dan hadapi semunya dengan kepala tegak. Sekarang kau bukan Dara yang bodoh, bukan Dara tanpa nama, kau punya usaha, kau punya rumah, kau punya semua yang orang inginkan," kata Alehandro.


"Tetapi masih tetap terlihat rendah bagi semua orang," sambung Dara dia lalu membalikkan tubuh dan kembali melihat ombak.


"Apa yang membuatmu merasa rendah? Hinaan atau pandangan mereka?" Alehandro lalu menghisap rokok kuat dan membuangnya ke asbak yang terletak di meja balkon.


Dia lalu berdiri di belakang Dara memegang pundak Dara, membuat wanita itu terkejut.


"Tegakkan tubuhmu," kepala Alehandro berada di sebelah kepala Dara satu tangannya memegang dagu Dara dan mengangkatnya. "Lihat ke depan dan jangan pernah kau tundukkan kepalamu!"


Dada Dara berdegub kencang. Tubuh mereka sangat dekat dan aroma parfum Chinnamon berpadu dengan rempah kuat merasuk ke indera penciuman Dara. Sedikit saja Dara bergerak maka kulit wajah mereka saling bersentuhan. Dara tidak fokus dengan perkataan Alehandro. Pria itu bisa membuatnya gila.


Dara lalu membalikkan tubuh dan mendorong tubuh Alehandro.


"Tingkahmu ini membuat kepalaku pening," ujar Dara memegang kepalanya menuju ke dalam ruangan. Alehandro mengangkat kedua telapak tangannya sembari mengikuti langkah kaki Dara.


"Memang apa yang aku lakukan? Aku hanya mengajarimu cara menghadapi dunia," kata Alehandro.

__ADS_1


"Tetapi tidak dengan posisi seperti itu... ." Dara lalu duduk di sofa dengan wajah ditekuk.


"Lalu kau ingin posisi seperti apa?"


__ADS_2