Mencintai Calon Kakak Ipar

Mencintai Calon Kakak Ipar
Seperti Ibu Kandung


__ADS_3

"Dia tidak sepenuhnya salah Mom, kami hanya salah paham saja," ujar Maria.


"Yang pasti sudah kau pulang, Mom senang melihatnya. Mom kira Mom akan hidup kesepian hingga akhir hayat, tetapi kau datang membawa cahaya dan kehangatan untuk jiwa yang telah tua dan rapuh ini. Terimakasih," tutur Lusi.


"Seharusnya aku yang berterima kasih karena telah mendapat Ibu mertua sebaik dirimu," ujar Maria.


"Aku yakin kau akan jadi putri dan menantu yang baik bagi rumah ini. Tapi satu pesanku Maria sebelum kau masuk ke rumah ini."


"Apa itu Mom?"


"Andaikata suatu hari aku sakit dan hanya menjadi beban keluarga ini, aku berharap kau tidak menjadikanku sampah tidak berguna. Jika kau sudah bosan mengurus ku kau bisa menyewa perawat untuk melakukan semua pekerjaanmu. Kau tidak perlu repot-repot merawatku dan menjadikanku beban hidupmu. Kau tahu, aku ingin mati di rumah ini jadi jangan kau buang aku ke panti jompo," ujar Lusi.


"Aku berjanji tidak akan melakukannya, aku akan merawatmu dengan tanganku sendiri dan aku tidak akan terbebani dengan itu. Mom tidak perlu ketakutan aku akan membawamu ke panti asuhan karena aku orang pertama yang akan mencegahnya. Mom adalah ibu Alehandro tentu saja ibuku juga, Surga Alehandro ada di kaki mu dan surgaku ada di kaki Alehandro jadi bagaimana bisa aku bisa merusak surga itu sendiri dan membuangnya jauh-jauh dari hidupku!" jelas Maria membuat Lusi menatap kagum pada menantunya itu. Dia memeluk Maria erat. Instingnya tidak salah telah menjadi kan wanita itu sebagai istri bagi Alehandro.


Dara yang melihat itu menjadi iri pada Maria. Dia punya segala yang tidak dia miliki. Akan tetapi, dia ikut bahagia melihat sahabatnya itu menemukan kebahagiaan nya.


"Siapa dia?" tunjuk Lusi pada Dara.


"Dia sahabat baikku yang selalu menemani aku selama ini."


"Kalau begitu mari kita masuk bersama!"


"Tidak usah Nyonya Lusi, karena aku akan mengantarnya pulang sedangkan aku sedang diburu waktu untuk kembali ke Surabaya lagi," tolak Krish. Dara hanya bisa tersenyum mengiyakan perkataan Krish padahal dia ingin sekali berkenalan dengan mertua Mari yang terlihat baik.


"Ya sudah kalau begitu,'' kata Maria. Dara dan Krish lalu pamit dan beranjak pergi.


Lusi lalu mengajak Maria masuk ke dalam rumah.


Deg!


Maria menarik nafas panjang ketika melangkah masuk ke dalam rumah itu lagi. Rasa berbeda dirasakannya kini. Dia seolah bisa merasakan sapuan angin yang menyapanya. Maria masih teringat kata-kata Alehandro sebelum dia meninggalkan rumah.

__ADS_1


"Pergilah, aku tidak akan mencegahmu kali ini. Hanya saja jika nanti kau kembali lagi, kau tidak bisa pergi untuk selamanya."


"Kalau boleh tahu Mom ingin bertanya alasanmu datang kembali ke rumah ini? Padahal Alehandro telah menyakitu hatimu. Dan Mom bisa menebak jika hubungan kalian belum membaik, jika iya dia sendiri yang akan membawaku pulang," tanya Lusi.


Maria terdiam. Lusi lalu menariknya duduk di salah satu sofa tamu. Mereka berdua duduk saling berhadapan.


"Aku melihatnya sedang bermesraaan dengan seorang wanita. Aku tidak langsung menemuinya tetapi langsung memintanya memutuskan hubungan kami saat itu juga." Maria mendesah, dia sangat kenal anaknya itu dan dia tahu bagaimana nakalnya dia. Tetapi dia berselingkuh setelah menikah itu salah.


"Kenapa kau tidak menemuinya seharusnya kau memukulnya dengan palu!" kata Lusi kesal. Maria kaget dengan tanggapan dari Lusi dia mengangkat satu alisnya ke atas dan tersenyum.


"Aku tidak tahu Mom kenapa aku tidak melakukannya aku hanya merasa marah dan kecewa lalu pergi begitu saja."


"Lalu apa yang membuatmu ingin kembali ke rumah ini?"


"Kemarin Alehandro datang ke rumah dan membawa makanan, awalnya kami baik-baik saja tetapi setelah melihat aku sholat dia terlihat berbeda, dia mengatakan penyesalannya dan itu membuatku tersentuh."


Lusi memiringkan kepalanya dan tersenyum melihat Maria. "Dia melakukan itu padamu?" Maria menganggukkan kepalanya.


"Dia mengatakan dia tidak pantas untukku, Mom," lanjut Maria.


"Dan itu yang membuat hatimu terbuka karena kau merasa dihargai sebagai wanita," tanya Maria.


"Ya kau benar, Mom. Aku hanya ingin pria yang mencintaiku dan sepenuhnya menjadi milikku, aku tidak ingin dia melihat wanita lain selain aku," ungkap Maria.


"Dan tadinya kau ragu jika Alehandro bisa melakukannya?"


Maria menganggukkan kepalanya.


"Lalu mengapa sekarang kau berubah pikiran kata-kata anakku bisa saja hanya sebuah kebohongan untuk membujukmu kembali pulang," cecar Lusi.


"Mungkin apa yang kau katakan itu benar, Mom. Tapi aku melihat ketulusan ucapan nya. Aku bisa merasakan kejujuran dalam setiap kata-katanya."

__ADS_1


"Kau terbuai oleh kata-katanya dan langsung jatuh cinta?" goda Lusi membuat wajah Marua memerah. "Apapun itu aku bahagia kau pulang kembali ke rumah ini dan aku lebih bahagia Alehandro menemukan wanita yang baik sepertimu," ujar Lusi.


Maria merasa nyaman bersama Lusi dia seperti seorang putri yang menceritakan perasaannya pada sang ibu.


"Kembalilah ke kamarmu di atas. Aku akan menyuruh Alehandro pulang ke rumah. Tapi aku tidak akan mengatakan kau ada di sini. Biar jadi kejutan."


Maria tersenyum.


"Oh ya kebetulan sekali, nanti malam adalah anniversary ulang tahun pernikahan pamanmu Erick. Aku bisa menggunakan ini sebagai alasan untuk Alehandro datang."


"Aku hampir melupakannya Mom, aku harus datang kesana!" kata Maria terkejut.


"Kau akan datang. Untuk itu kau harus berpenampilan secantik mungkin. Melihat penampilanmu sekarang yang lusuh, aku yakin kau tidak pernah merawat diri selama ini.''


"Mom, selama ini aku hanya menjadi pengantar Pizza atau pelayan!" terang Maria.


"Kau memang wanita yang mandiri tetapi sekarang kau harus pandai merawat diri, agar Alehandro tidak berpaling melihat wanita lainnya."


"Apa Mom yakin aku bisa melakukannya?" tanya Maria. Masih ada keraguan dalam diri Maria jika Alehandro bisa menjadi pria yang setia pada satu wanita.


"Kau itu sangat cantik hanya perlu sedikit polesan saja maka kau menjadi mutiara paling bersinar nanti."


"Mom, kau terlalu memuji." Lusi mengusap lembut rambut Maria.


"Istirahatlah dulu di kamarmu, satu jam lagi akan ada orang yang datang untuk menyiapkan semua keperluan kita," ucapnya lirih dan lembut. Maria lalu berdiri hendak naik ke kamarnya.


"Mom, aku tidak mempunyai baju yang layak untuk ke pesta," ujar Maria tiba-tiba.


"Aku akan mengurus semuanya, kau hanya perlu menuruti semua perintahku saja."


"Mom aku menyayangimu," ungkap Maria memeluk Lusi.

__ADS_1


__ADS_2