Mencintai Calon Kakak Ipar

Mencintai Calon Kakak Ipar
Wanita Keras Kepala


__ADS_3

"Wanita keras kepala!" gumam Alehandro menaiki tangga. Mom Lusi yang berada di sebelahnya terlihat bingung dengan pertengkaran dua orang itu.


"Ada apa Dara?" tanya Mom Lusi.


"Aku ingin pulang dan putra Anda malah mengurung saya di rumah ini."


"Mengurung?!"


"Iya dia memerintahkan pada penjaga untuk melarangku keluar dari rumah."


"Aku itu warga negara yang berhak hidup bebas mengapa dia melakukan ini. Padahal kita tidak punya hubungan apa-apa yang membuat dia bisa berbuat seenaknya padaku," cerocos Dara.


Mom Lusi menganggukkan kepalanya.


"Aku mengerti," jawab wanita paruh baya itu.


"Ibu mengerti kan! kalau begitu bantu aku untuk kembali ke rumah," pinta Dara.


"Tidak bisa!"


"Kenapa?"


"Karena aku juga numpang hidup pada anakku jadi dia yang punya peraturan di rumah ini," jawab Mom Lusi.


Dara mengerang kesal.


"Duduk dulu." Mom Lusi lalu membalikkan tubuhnya. "Mbak tolong ambilkan segelas tega hangat kemari."


"Ibu hamil tidak boleh stres dan marah-marah."


Dara melihat ke arah wanita itu.


"Sekarang ambil nafas panjang dan keluarkan!"


Dara menuruti ucapan wanita paruh baya itu. "Tenangkan dirimu terlebih dahulu."

__ADS_1


Teh hangat lalu datang dibawa oleh salah seorang pelayan.


"Minum dulu hingga perasaanmu lebih baik."


Dara mulai meminum teh itu. Perutnya yang sedari tadi belum diisi mulai berbunyi keras membuat orang yang ada di sana mendengar.


Wajahnya memerah seketika.


"Kau lapar?"


Dara menggelengkan kepalanya. "Anakku yang kelaparan."


Mom Lusi menganggukkan kepalanya. "Sebaiknya kita ke ruang makan dan menyiapkan makanan untukmu."


Dara yang sedang kesal dibuat bingung oleh tingkah Mom Lusi. Wanita itu begitu pandai membuat suasana hatinya berubah.


Alehandro yang melihat dari atas hanya bisa tersenyum menggelengkan kepalanya.


"Wanita gila!"


"Ini terlalu banyak," kata Dara melihat berbagai jenis makanan.


"Kau menyukainya?" tanya Mom Lusi.


"Aku pernah mencobanya karena Kris sering sekali membeli makanan itu dan memaksaku untuk memakannya," tutur Dara.


"Oh, ya! Kalau begitu makanlah jika kau suka," ujar Mom Lusi.


"Apakah Ibu sudah makan?" tanya Dara.


"Sudah tadi."


Dara lalu mulai menyuap makanan masuk ke dalam mulutnya.


"Hummm sangat lezat," ujar Dara.

__ADS_1


"Kau menyukainya?"


"Ya, ini makanan western tetapi diperpadukan dengan bumbu Indonesia," ujar Dara.


"Kau benar. Bumbu khas orang kita akan menguatkan rasa makanan ini."


"Kaisar apakah dia sudah sehat?" tanya Dara.


"Demamnya sudah turun dan dia sudah mau bermain serta tertawa kembali."


"Syukurlah," ujar Dara meneruskan lagi makannya. Tanpa terasa dia telah menambah dua piring makanan tanpa nasi. Dia sangat membenci itu ketika hamil mungkin karena ayahnya Kris menyukai makanan luar yang tidak memakai nasi membuat anak dalam kandungannya bertingkah demikian.


"Dara apa rencanamu ke depannya?"


"Aku tidak tahu, untuk sementara ini aku hanya fokus dengan kelahiran anakku nanti. Mungkin aku akan mencari seseorang untuk membantu membuka warung karena aku tidak bisa melakukannya sendiri."


"Sangat berbahaya bagi ibu hamil untuk bekerja Dara," terang Mom Lusi dengan sabar. Walau Alehandro tidak mengatakan apapun tetapi dia tahu maksud Alehandro yang khawatir terhadap Dara.


"Aku bosan jika hanya duduk dan menunggu hari lewat begitu saja," ungkap Dara.


Mom Lusi tersenyum. "Kalau begitu kau tinggal di sini sembari menunggu Kaisar."


"Tidak Bu, aku tidak ingin melibatkan siapa pun dalam masalah ku. Aku tahu kau berusaha membujukku dengan dalih Kaisar tetapi aku tidak ingin melakukannya."


"Bukan seperti itu."


"Aku mengerti jika kalian sangat mencemaskan keadaan diriku tetapi percayalah aku bisa menjaga diri sendiri. Ijinkan aku pulang ke rumah," pinta Dara memelas.


Mom Lusi tersenyum lalu berjalan ke arah Dara dan memegang kedua pundak Dara.


"Dara, kau tahu Maria pernah meninggal karena kami kurang cepat membawanya ke rumah sakit, itu membuat kami trauma berat. Oleh karena itu, kami tidak ingin melihat hal itu terulang lagi."


"Bu ... ."


"Percayalah kami ingin yang terbaik untukmu dan anakmu," lanjut Mom Lusi.

__ADS_1


"Aku... ."


__ADS_2