
Bella menghela nafas panjang dan memalingkan wajahnya.
"Jangan kemari, jangan kemari," jerit Bella dalam hati.
Cantik berjalan ke arahnya, suara sesenggukan masih terdengar di telinga Bella namun dia enggan untuk melihat ke arahnya. Dia bukan wanita kejam yang akan membiarkan seorang anak menangis terlalu lama. Tapi ini adalah cara licik David untuk membuat hatinya luluh. Batin Bella.
"Apa Ibu marah padaku hingga meninggalkan meja tanpa makan terlebih dahulu!" tanya Cantik terisak-isak.
Bella masih terdiam memejamkan matanya.
"Ini biar Ibu yang makan, aku tidak menginginkannya. Aku hanya ingin melihat Ibu makan saja," kata Cantik lalu meletakkan piring berisi sandwich yang telah di potong oleh Bella di atas meja.
"Punyaku juga boleh Ibu makan. Aku cuma tidak ingin melihat Ibu marah saja,'' kata Cantik lalu berlari keluar dari kamar Bella dengan mengusap air matanya.
"Puas!" ucap Bella pada David setelah Cantik pergi.
"Apa salahku?" tanya David.
"Kau memanfaatkan anak polos itu untuk mendekatiku," kata Bella tajam.
David menyeringai.
"Kau kira aku selicik itu? Dia sudah menunggumu lama dan kau malah bersikap acuh. Apa kau tidak lihat bagaimana dia senang melihatmu datang dan langsung memanggilmu Ibu? Dia masih kecil baru berumur empat tahun, masih polos bukan seperti wanita dewasa yang pandai berakting!" balas David.
"Setiap kali dia melihat fotomu, dia akan bertanya kapan kau datang? Dia punya segudang mimpi indah untuk bisa bersamamu, dan kau ingin menghancurkan mimpinya. Kenapa Bella? Apa karena dia anak Sofi wanita yang telah menyakiti hatimu atau rivalmu?" tanya David.
"Seperti katamu tadi, dia adalah anak Sofi kenapa kau malah berusaha mendekatkan dia padaku? Kenapa kau tidak berusaha mendekatkan dia pada ibunya saja?" tanya Bella. Dua tangan David mengepal keras hingga bergetar.
"Kau tanya pada Cantik mengapa dia ingin dekat denganmu, hanya seorang wanita asing yang tidak dikenalnya? Padahal kau bukan ibunya kandungnya!" kata David tajam lalu keluar dari kamar Bella dengan hati geram dan kecewa.
Bella memegang dadanya. Mengatur nafas. David yang memaksanya masuk ke rumah ini dan dia juga memaksanya untuk dekat dengan anaknya, itu tidak adil.
Pandangan Bella turun pada sandwich buatannya. Dia mengambil satu potong dan berniat menggigitnya. Namun, perkataan Cantik terngiang di telinganya. Dia meletakkan lagi sandwich itu.
Dia membenci Ayah dan Ibunya bukan berarti dia juga harus membenci pada anaknya. Dia itu anak yang tidak berdosa korban keegoisan orang tuanya.
Bella lalu mengambil piring sandwich itu lagi dan berjalan keluar kamar Dia celingukan mencari kamar Cantik. David pasti akan meletakkan kamar Cantik dekat dengannya. Satu kamar di sebelahnya terbuka.
Bella berjalan ke arah kamar itu dan benar saja dia melihat Cantik menangis memegang bonekanya.
"Aku sedih sekali karena Ibu juga tidak menyayangiku, padahal kata Ayah ibu itu orang yang baik dan penyayang. Tapi mengapa Ibu terlihat seperti membenciku? Apa aku kelihatan jelek? Atau aku nakal? Atau ayah yang berbohong?" kata Cantik pada bonekanya.
"Aku ingin punya Ibu seperti anak lain," imbuh Cantik. "Aku sedih sekali Luna."
__ADS_1
Mendengar perkataan Cantik membuat mata Bella merebak. Apakah bisa anak ini mengatakan hal itu jika bukan dari hatinya. David benar, Cantik tidak mungkin berakting.
Bella lalu mengetuk kamar Cantik.
"Bolehkah aku masuk!" Cantik terkejut. Dia lalu bergerak mundur ke belakang.
Dua tangan Cantik di letakkan di daun telinganya.
"Ibu aku tidak akan nakal lagi, maafkan aku jangan marahi aku!" kata Cantik dengan wajah ketakutan.
Bella jadi bingung melihatnya.
"Hei aku datang bukan untuk memarahimu," ucap Bella membuat Cantik terdiam dan melihat ke arahnya.
"Ibu tidak akan memarahiku?" tanya Cantik seksama.
"Tidak!"
"Ibu kemari untuk apa?" tanya Cantik.
"Untuk mengajakmu makan," Bella memperlihatkan piring di tangannya.
"Ibu tidak akan menghukum ku?" tanya Cantik ragu.
Bella tertawa kecil, "Untuk apa aku menghukummu?"
Bella membulatkan mulutnya lebar. "Ha ... aku tidak akan melakukan hal itu, aku bukan orang sekejam itu yang akan menghukum seorang anak manis sepertimu!"
"Sungguh!"
Bella mengangkat jari telunjuk dan tengah ke atas. "Aku janji."
Bella lalu berjalan mendekati Cantik. Dia duduk di sebelah Cantik.
"Siapa nama temanmu ini?" tunjuk Bella pada boneka yang di peluk Cantik.
"Luna," jawab Cantik.
"Hai Luna, apa kau mau ikut makan juga bersama Cantik?"
"Aku mau," jawab Cantik sembari tertawa geli. Dua lesung pipinya terlihat jelas. Sama seperti punya David. Dagunya pun sama seperti ayahnya. Bella baru memperhatikannya.
Bella lalu mulai menyuapi Cantik. Dia bertanya-tanya tentang mainan Cantik dan Cantik memberikan jawabannya. Hingga dalam waktu sekejap makanan itu habis.
__ADS_1
"A... a ... ," Cantik membuka mulutnya ketika makanan di mulutnya sudah habis.
"Sudah habis, Sayang," kata Bella memperlihatkan piring di tangannya.
"Enak Ibu, ehm ... besok buat lagi makanan seperti itu," ucap Cantik.
David yang sudah rapih dalam balutan pakaian kerjanya masuk ke kamar Cantik.
Dia terkejut melihat Bella ada di kamar Putrinya. Lalu tersenyum sedetik kemudian.
"Okey. Sekarang aku harus kembali ke kamarku dulu," kata Bella mencoba menghindari David. Dia bangkit dan berjalan keluar kamar. Namun tangan David meraih tangan Bella erat.
"My Princess, Ayah harus pergi berangkat bekerja dulu. Kau baik-baik di rumah," kata David. Cantik turun dari tempat tidur guna mencium pipi Ayahnya.
David membungkuk dan menggendong Cantik dengan satu tangannya yang lain. Kedua pipinya dicium oleh Cantik.
"Jangan nakal pada Ibumu?" kata David melirik pada Bella. Bella membuang mukanya.
"Aku akan baik pada Ibu. Ehm ... Ibu baru saja menyuapiku dan Luna," jawab Cantik.
"Oh, ya!" David melihat ke arah Bella.
"Kau senang," tanya David.
Cantik tertawa hingga kepalanya ke arah belakang. "Aku suka Ayah." Cantik memang anak yang periang. Bila hatinya merasa sedikit senang dia akan tertawa.David membalikkan badannya dan hendak berjalan keluar namun Bella tetap berada di tempatnya. Dia tidak mungkin menyeret Bella untuk keluar bersamanya.
Dia melepaskan cekalan di tangan Bella, namun meraih kepala wanita itu dan mencium didahinya cepat sebelum wanita itu menghindar. Bella terkejut dengan serangan mendadak yang David berikan.
"Aku berangkat kerja dulu," pamit David. Dia lalu melepaskan Bella dan berjalan keluar dari kamar Cantik.
Bella masih berdiri di tempatnya. Mengusap bekas bibir David dengan marah.
"Aku membencimu," ucapnya kesal.
Bella merasa dipermainkan perasaannya oleh pria itu. Dengan mudah dia menuduhnya tanpa bertanya terlebih dahulu dan dengan mudah dia membawanya kembali ke sisinya tanpa bertanya dahulu apakah dia ingin ini atau tidak?
Dia telah menutup hatinya untuk David. Tidak hari ini tidak besok hingga sampai kapan pun. Tekad Bella.
***
Ngopi yuk... sambil baca cerita...
Likenya menunggu ....
__ADS_1
Votenya yang belum
Komentarnya