Mencintai Calon Kakak Ipar

Mencintai Calon Kakak Ipar
Akal Licik


__ADS_3

"Kami laki-laki enggan untuk menceritakan masalah kami pada orang lain," jawab David. Dia tersenyum bisa melihat Bella yang telah tenang. David menangkup pipi Bella dengan kedua tangannya. Menatap kedua manik mata Bella yang hitam pekat.


"Setelah tahu semuanya apakah kau mau memberikan aku satu kesempatan lagi?"


"Aku ingin pulang David, ini semua terasa menyesakkan untukku," ucap Bella. David melepaskan pegangannya pada wajah Bella dengan hati yang sangat kacau serta kecewa. Dia lalu bergerak di sisi Bella dan meletakkan kepalanya di pinggiran tempat tidur menengadah ke atas.


"Aku memang melakukan kesalahan besar dan kau pun pantas untuk marah padaku. Hanya saja kemarahanmu tidak ada habisnya hingga aku jatuh dan lelah untuk menggapaimu," ungkap David. Bella menoleh ke samping hingga mereka saling menatap.


"Mungkin aku harus belajar untuk melupakanmu," David tersenyum canggung.


"Oh, Bella kau tidak tahu betapa besar rasa cintaku untukmu tapi aku tidak bisa egois hanya memikirkan perasaanku saja bukan?" tangan kiri David bergerak membelai pipi Bella lembut dengan ibu jarinya.


"Aku ... ."


"Only one Kiss, Bella, setelah itu kau boleh melakukan apa yang kau inginkan bahkan jika kau ingin pergi lagi dari sini," pinta David.


Bella terdiam tidak menjawab apapun. David mendesah dan mengeluarkan senyum yang sangat dipaksakan tidak sampai hingga ke mata.


"Satu ciuman perpisahan saja enggan untuk kau berikan. Apalah dayaku," David berdiri hendak melangkah pergi tapi tangan Bella memegang telapak tangannya.


"One Kiss," ucap Bella. "Setelah itu bebaskan aku."


David menganggukkan kepalanya, lalu duduk kembali, memandangi Bella.


"Tutup matamu," pinta Bella. Dengan hati yang berdebar Bella mendekati David melihat bibir pria itu yang lama tidak dia lakukan, yang hanya hadir di mimpinya saja.


"Ini sebuah ciuman perpisahan saja Bella, kau tidak perlu menggunakan perasaanmu."


Dengan pelan Bella mendekatkan dirinya pada David. Naik ke atas pangkuannya dan mulai menempelkan bibirnya pelan.


Seluruh tubuhnya meremang, mengikuti aliran listrik statis yang tiba-tiba muncul. Dia bergerak dia sendiri yang terbuai dan meminta lebih. Dia akui dia merindukan ini. Semakin dalam dan semakin liar seolah dari dalam dirinya mencari sesuatu yang dia rindukan selama ini. Dia ingin David membalasnya. Perasaan itu tiba-tiba muncul begitu saja dan dia kecewa merasakan David hanya terdiam. Kenapa harus kecewa, bukankah ini yang dia inginkan. Satu ciuman saja Bella. Lepaskan.


Dengan hati yang berat Bella hendak menyudahinya tapi tangan David merengkuh pinggangnya erat satu tangan berada di tengkuknya. Dia bermain mempermainkan Bella, membuatnya hanyut dalam percikan api rindu yang mulai membesar.


Kali ini tanpa kemarahan hanya penyerahan. David menuntutnya semakin dalam dan tangannya bergerak menggoda menyentuh Bella membuat wanita itu mendesah. Hingga dia tidak ingin melepaskan saat ini. Satu kali ini saja dia melakukannya bersama David. Pikir Bella.


Dia menyerah pada kelihaian David yang membuatnya melayang menembus awan.Seluruh tubuhnya serasa menyambut belaiannya, sentuhannya, dan kecupannya.


Entah bagaimana semuanya bermula tapi kini mereka saling bergumul tanpa kata hanya ada ******* dan erangan. Hingga David menghentikan semuanya di saat Bella sedang terbuai. Pria itu hanya duduk bersimpuh memandangi wanita tanpa busana itu.


"Pergilah sekarang jika kau mau," kata David.

__ADS_1


Bella kebingungan atas semua yang terjadi. Pria ini membawanya ke atas tiba-tiba menjatuhkannya seketika. Hasratnya telah tinggi dan dia hanya memandanginya.


Bella menemukan kembali kepingan kesadaran yang tadi hilang untuk sesaat.


Dengan bibir terbuka nafasnya keluar masuk terengah-engah. Dia memandangi David yang masih lengkap pakaiannya sedangkan dia sudah tidak tertutup benang sehelaipun, Betapa menjijikkan dirinya. Itu sama saja mengatakan pada pria itu bahwa dia juga merindukannya.


Bella tertawa.


"Aku tahu kau cerdik David dan aku tidak menyangka jika aku masuk ke dalam perangkapmu sekali lagi."


"Aku hanya tidak ingin kau melakukannya dengan sangat 'terpaksa'. Aku ingin kau melakukannya dengan keinginanmu sendiri seperti pertama kali kau datang padaku dengan penyerahan diri."


Bella menarik selimut dan menutupi tubuhnya.


"Itu artinya kau tetap tinggal dan meneruskan ini atau kau pergi saat ini juga?"


"Yes!"


Otak kecil Bella berfikir dengan cepat apa yang akan dilakukannya? Dia memiringkan tubuhnya dan melihat ke arah balkon kamar.


"Aku takut kau menyakitiku lagi," ucap Bella. David berbaring di sisinya menelusuri bahu Bella yang sempurna dengan jarinya membuat bulu roma wanita itu menegang. Satu kecupan mendarat di belakang telinga wanita itu membuat Bella mendesis. Dia begitu lemah dalam sentuhan pria itu.


"Tinggallah di sini dan kita mulai semua dari awal lagi. Aku membutuhkanmu dan kau pun membutuhkanku," sesuatu yang basah bergerak di punggung Bella.


"Karena di dalam hatimu masih ada aku walau kau mencoba menyangkalnya, karena kau sepenuhnya milikku, karena kau sangat merindukanku," bisik David.


***


David menciumi bahu Bella yang telanjang setelah membuat wanita itu lelah dan tertidur pulas. Dia bahagia bisa merayu Bella untuk tetap tinggal di rumahnya. Dia masih Bella yang sama yang dia rindukan selama ini. Hanya beberapa bagian tubuhnya terasa lebih berisi dan padat membuat dia semakin bertambah seksi.


Dia melihat jam dinding menunjukkan pukul dua belas siang. Saatnya makan siang dan mereka belum makan samasekali. Namun, juniornya sudah kenyang dan puas setelah berpuasa selama empat tahun lebih.


"I love you," bisik David di telinga Bella. Mencium pipinya membuat tidur wanita itu terusik. David lalu tersenyum lebar.


David bangkit dan berjalan ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Setelah itu dia berpakaian dan keluar mencari anaknya.


"Masaklah beberapa makanan yang berbeda!" David memberi perintah pada pelayan yang ditemuinya.


Dia lalu berjalan mencari Cantik di ruang bermainnya.


"Hai ayah!" Sapa Cantik ketika melihat David.

__ADS_1


"Mana Ibu?" tanya Cantik.


"Sedang tidur di kamarnya." Dia duduk di lantai menemani Cantik bermain rumah-rumahan.


"Apakah Ibu masih marah?" tanya Cantik.


"Tidak."


"Apakah dia akan pergi lagi?" tanya Cantik.


"Tidak."


"Ayah pasti membujuk Ibu seperti membujukku sewaktu aku sedih agar aku tidak menangis lagi."


"Kau tahu jika Ayahmu adalah ayah yang terbaik."


"Tapi tadi Ayah berbuat buruk pada Ibu," kata Cantik. "Dan aku sangat tidak suka."


"Iya Tuan Putri Ayah tidak akan mengulanginya lagi."


"Apa kau sudah makan siang?" tanya David.


"Belum Ayah aku menunggu kalian berdua," kata Cantik.


"Kau makanlah terlebih dahulu, biar mba-nya menyuapimu."


"Lalu Ibu dan Ayah?"


"Ibumu masih tidur dan Ayah akan menunggunya bangun. Ayah masih harus merayu Ibumu agar tidak marah lagi pada Ayah. Ayah harap kau mau mengerti," terang David.


"Biar aku bantu membujuk Ibu. Aku akan ke kamar Ibu," kata Cantik.


"Tidak usah." huft, bagaimana jika gadis kecilnya melihat Bella tidur tanpa pakaian.


***


Like...


Mau protes boleh ... tinggal komentar aja ...


ngopi aja dulu sambil mikir buat Minggu besok.

__ADS_1


Mulai Senin besok aku akan crazy up lho...


Dukung ya! Beri Komen biar rame karena akan masuk beranda.


__ADS_2