Mencintai Calon Kakak Ipar

Mencintai Calon Kakak Ipar
Tidak Pernah Kehilangan


__ADS_3

Pertanyaan Alehandro membuat Dara tersenyum kecut. Ibu Savitri yang terlihat ribut jika dia sering naik turun tangga.


"Tentu saja dia cemas, namun posisi ruangan dalam rumah memang seperti ini," jawab Dara yang masih dapat di dengar oleh Mom Lusi dan Savitri.


Sedangkan air muka Savitri terlihat sedih ketika mendengar jawaban Dara. Wanita itu selalu nampak tegar, tidak pernah dia menangis dan mengutarakan kesedihannya pada orang lain.


"Suami macam apa itu yang tidak memperhatikan keadaan istrinya yang sedang hamil," komentar Alehandro.


"Kau jangan menjelekkan pasanganku," ujar Dara yang tidak suka jika Kris dijelekkan. Baginya Kris pasti akan memperhatikannya jika dia tahu bahwa Dara hamil. Pria itu sangat protektif padanya. Apalagi di sana ada ibu Savitri bisa-bisa wanita itu yang akan sedih mendengar perkataan Alehandro.


"Tidak hanya saja...." perkataan Alehandro terhenti ketika melihat Mom Lusi menatapnya tajam.


"Aku akan membuatkan kopi untukmu," kata Dara masuk ke dalam dapur.


"Di mana Kaisar? Mom tidak mendengar lagi suara tangisnya?" menatap Alehandro yang duduk di sebelahnya .


"Dia sudah tidur lelap di kamar Dara." Pria itu lalu mengambil sebungkus kacang bawang dan mulai membukanya. Dia memakan kacang itu sembari melihat keadaan warung. Apa yang akan dilakukan Maria ketika melihat Dara di warung ini. Mereka pasti akan berpelukan dan bercerita panjang lebar.


Dia tidak menyangka jika Maria menyerahkan gelang itu pada Dara padahal itu perhiasan yang paling disukainya.


Pantas saja jika dia menyampaikan pesan terakhir itu disuratnya. Alehandro menghela nafas berat.


Dara datang dengan segelas kopi di tangannya. Meletakkannya di depan Alehandro.


"Terima kasih," kata Alehandro.


"Kau harus membayarnya," goda Dara.


"Tenang saja dia bisa membayar mahal untuk kopi itu," kata Mom Lusi menaikkan kedua alisnya dan menggerakkannya.


"Aku hanya bercanda."


"Tidak apa-apa. Aku malah sangat berterima kasih bisa berteduh di sini dan kau juga bisa membuat Kaisar tidur tenang." Mom Lusi menyeruput teh hangat yang tadi diberikan oleh


Dara melihat jam di dinding. Waktu sudah menunjukkan pukul empat lebih, sudah sore.


"Kalian mengobrol saja di sini aku akan ke etalase dahulu."


"Apakah kalian mau makan?" tanya Savitri.


"Aku sudah kenyang," kata Mom Lusi. Dia tadi sempat makan siang. Dia lalu melihat ke arah Alehandro. Anaknya belum makan semenjak kemarin malam. Makannya tidak teratur semenjak istrinya tiada.


Namun, ini warung makan kecil dan Alehandro terbiasa makan di rumah atau rumah makan.


"Ale kau belum makan semenjak kemarin," kata Mom Lusi.

__ADS_1


"Aku malas Mom," kata Alehandro.


"Dara, ambilkan makan untuk suami temanmu ini," ucap Savitri sedikit keras. Warung sudah sepi pelanggan terakhir sudah meninggalkan warung sedari tadi.


"Kau mau makan dengan apa?" tanya Dara dari etalase.


Mom Lusi lalu mendorong tubuh Alehandro agar bangkit dan melihat makanan yang tersedia.


"Makanlah dulu agar kau tidak sakit seperti anakmu itu dan membuat pekerjaanku bertambah."


Alehandro tetap terdiam dan duduk di tempatnya. Dara yang melihat Alehandro tidak bergerak lalu mengambilkan makanan untuknya satu piring berisi nasi dan piring lain berisi sayur dan lauk pauk yang masih tersedia.


Dia lalu mendekati Alehandro dan menyerahkan dua piring itu di depan pria itu.


"Tunggu dulu kebetulan aku mempunyai sayur asam dengan iga sapi. Aku ingat jika Maria pernah bercerita kau sangat menyukai sayur asam." Dara lalu masuk ke dalam dapur.


"Sebuah kebetulan sekali," gumam lirih Mom Lusi.


"Anak itu pandai sekali memasak," kata Savitri.


"Kau pasti beruntung mempunyai menantu sepertinya," kata Mom Lusi.


"Sangat," jawab Savitri. Namun matanya memperlihatkan sebuah kesedihan ketika menatap Dara yang datang membawa semangkuk sayur asam itu.


Dara lalu meletakkan mangkuk itu di depan Alehandro. Mata Alehandro merebak melihat sayur itu. Dulu sewaktu Maria sehat dia sering memasak ini untuknya.


"Aku suka makan sayur asam setiap hari semenjak hamil, rasanya yang manis, asin dan asam terasa cocok di lidah."


"Dia tidak mau makan kalau tidak ada sayur asam," imbuh Savitri. Dara lalu duduk di sebelah Savitri berhadapan dengan Alehandro.


"Kenapa kau tidak memakannya? Tenang itu higienis, aku mencuci bersih semua sayuran yang dimasak di rumah makan ini," kata Dara.


"Ayolah makan Ale, isi perutmu itu walau sesuap nasi saja," bujuk Mom Lusi.


Dara teringat akan Kris yang enggan untuk makan dan dia akan menyuapinya.


"Mungkin dia merindukan Maria yang akan menyuapinya," celoteh Dara.


"Kau benar, Maria sangat memanjakannya hingga dia seperti anak kecil bila bersamanya."


"Kukira Maria tidak akan suka jika melihatmu bersedih lalu jatuh sakit karena tidak mengurus tubuhmu sendiri," ucap Dara membuat Alehandro menatap ke arahnya.


"Kau tahu apa tentang rasanya kehilangan!" seru Alehandro emosi.


Mata binar Dara langsung meredup terkejut dengan sikap Alehandro.

__ADS_1


"Kau selalu tahu apa rasanya memiliki dan kehilangan, sedangkan aku tidak pernah mempunyai rasa memiliki sesuatu dan seseorang sehingga aku tidak tahu apa itu rasanya kehilangan!" ucap Dara lalu bangkit dan meninggalkan Alehandro naik ke atas. Sedangkan yang lain hanya terdiam dan melihat pertengkaran itu.


Kata-kata Dara dan tingkah laku Dara membuat Alehandro terhenyak. Tanpa sadar dia sudah menyakiti seseorang yang ingin berbuat baik padanya.


"Kau itu!" ujar Mom Lusi menggelengkan kepalanya.


"Makan habis itu lalu kita pulang!" seru Mom Lusi naik ke atas untuk melihat cucunya.


"Aku tidak bermaksud ... ." Alehandro kesal dengan dirinya sendiri.


"Aku tahu kau masih terluka dan bersedih karena kehilangan istrimu dan Dada juga hamil jadi emosinya naik turun dan mudah bersedih," ucap Savitri.


"Maaf," ujar Alehandro.


"Makanlah itu sampai habis sebagai ucapan maafmu," kata Savitri lalu bangkit berdiri. Meninggalkan Alehandro sendiri.


Alehandro menyesali tindakannya sendiri, seharusnya dia tidak melakukan hal itu. Dia lalu mulai memakan makanan itu.


"Rasanya berbeda dengan masakan Maria namun cukup enak."


"Aku akan minta maaf padanya nanti," gumam Alehandro sembari memikirkan kata-kata Dara.


'Kalimat aneh yang dia ucapkan,' pikir Alehandro


Tanpa dia sadari dia telah memakan habis nasi dan sayur asam itu sedangkan yang lain tidak dia sentuh sama sekali.


Setelah itu dia membawa masuk piring itu ke dapur.


"Sudah biar letakkan itu di tempat cuci piring," kata Savitri.


"Bu, sudah sore tetapi suami Dara belum pulang ke rumah?" tanya Alehandro.


"Mungkin agak malam pulangnya," jawab Savitri tanpa mau melihat ke arah Alehandro. Dia tahu jika Kris pernah bekerja pada pria itu dari Dara.


"Pak Alehandro apakah Anda mengenal Kris?" tanya Savitri tergelitik hatinya ingin mendengar kabar anaknya.


"Ya, dia mantan anak buah saya namun sekarang dia mengurus perusahaan milik kakeknya sayang ... ."


Alehandro melihat ke arah Savitri.


"Mengapa Ibu bertanya tentang Kris? Apakah ibu mengenalnya?" tanya Alehandro.


"Aku hanya ingin tahu keadaannya," jawab Savitri dengan suara bergetar


"Dia sempat mengalami kecelakaan hebat yang membuat dia koma na... ." Belum juga Alehandro menyelesaikan ucapannya Savitri sudah menangis keras.

__ADS_1


__ADS_2