
Cristian mencium panjang perut Cinta. ''Ibumu sangat keras kepala sekali, Nak. Dia tidak tahu jika Ayahmu ini akan melakukan apapun asal bisa membuat kalian bahagia."
Cristian bangkit dan tersenyum ke arah Cinta.
"Apa yang kau rencanakan?" tanya Cinta curiga dengan senyum hantu yang Cristian perlihatkan. Dia tahu jika Cristian pasti sudah merencanakan sesuatu yang buruk.
"Aku tidak merencanakan apa-apa. Aku akan mengantarkanmu pulang," ucap Cristian.
"Aku akan pulang sendiri saja." Cinta hendak keluar dari kamarnya, namun pergelangan tangannya di cekal oleh Cristian.
"Jangan membantahku, aku tidak suka di bantah!" seru Cristian pelan.
Jika sudah begini Cinta akan diam. Dia tahu percuma saja membantah pria ini.
Cristian menggenggam tangan Cinta menuju ke arah luar rumah. Mereka menuruni anak tangga dan sadar bahwa Erick, Aura dan Ardi sedang memandang ke arah mereka.
"Ardi kau datang menjemputku," pekik senang Cinta tapi berbeda dengan Cristian mukanya ditekuk ke dalam melihat kedatangan saingannya.
"Kau sendiri yang mengatakan agar menjemputmu jika belum pulang hingga sore hari." Ardi memandang tangan Cinta dan Cristian yang saling berpegangan.
"Yah ... kau benar," jawab Cinta melepaskan tangan itu namun Cristian menggenggamnya erat. Cinta tersenyum canggung pada semua orang.
"Rupanya kalian sudah baikkan. Mommy senang melihatnya benar kan Pa!" Aura menepuk pelan paha Erick.
"Hmmm," hanya itu jawaban yang terdengar dari mulut Erick.
"Cinta akan pulang bersamaku, kau pulang sendiri saja," kata Cristian tidak senang lalu pergi meninggalkan mereka dan menarik tangan Cinta.
"Anakmu sangat tidak sopan!" celetuk Erick.
"Anak kita berdua, Pa!" balas Aura.
Erick hanya menghembuskan nafas kasar saja menanggapi jawaban Aura.
"Karena Cinta sudah pergi saya pamitan untuk pulang terlebih dahulu,"pamit Ardi yang sedikit kesal karena di suruh menunggu dua jam ditemani oleh Aura. Ibu Cristian melarang Ardi untuk melihat Cinta. Atau mungkin dia tidak ingin jika pasangan itu di ganggu oleh Ardi.
Benar tebakannya Cinta pasti akan ke kamar bersama Cristian. Wanita itu begitu lemah jika bertemu dengan makhluk penyengat seperti Cristian. Pikir Ardi.
Sepanjang jalan Cinta hanya diam dan memandangi Cristian saja.Sedangkan Cristian menyetir dengan tangan selalu menggenggam Cinta seolah takut jika mereka akan berpisah lagi. Sesekali dia memandang wajah Cinta.
Cristian meminggirkan kendaraannya ketika berada di tengah perjalanan.
"Kenapa kau terlihat berbeda hari ini, kau memandangiku sedari tadi," ucap Cristian setelah mematikan mobilnya.
"Memang tidak boleh?" tanya Cinta. Dia lalu bersedekap dan melihat ke arah depan dengan muka di tekuk. Cristian memegang salah satu pipi Cinta agar menghadap padanya.
__ADS_1
"Boleh hanya saja caramu memandangku seolah berbeda," Cristian bisa melihat sebuah kesedihan yang di sembunyikan oleh Cinta di dalam kedalaman matanya.
"Apa yang sedang kau rencanakan atau rasakan?" tanya Cristian.
"Aku tidak ingin pulang malam ini dan ingin bermalam denganmu, untuk yang terakhir kalinya. Tapi aku tidak bisa melakukannya jadi aku hanya akan memandangimu karena setelah besok kau sudah tidak bisa kupandangi seperti ini," ucap Cinta yang terasa nyeri sampai ke ulu hati.
Cristian merengkuh tubuh Cinta dan meletakkannya di pangkuannya.
"Kita akan melewati setiap malam bersama jika kau mau mengikuti semua yang kukatakan. Namun kau terlalu takut untuk mengambil resiko itu."
Cinta memeluk Cristian dan meletakkan kepalanya di dada pria itu.
"Jika kemarin begitu mudah kulakukan karena tahu jika kau membenciku, namun ini begitu sulit untuk sekedar membayangkannya. Aku hanya ingin mencium aroma tubuhmu setiap hari tapi apakah itu sebanding dengan kehancuran keluargaku. Aku tidak bisa melakukannya,"
"Egoislah sedikit Cinta," ungkap kesal Cristian.
Cinta mengeratkan pelukannya dan menaruh kepalanya diceruk leher Cristian.
"Bolehkah aku memilikimu satu malam ini," ucap Cinta. Dia tidak tahu bagaimana dia mempunyai keberanian untuk mengucapkan hal ini. Dia merasa bagai wanita ****** yang sedang meminta untuk dipuaskan. Apalah itu, dia tidak ingin pulang malam ini dan menghabiskan waktu bersama Cristian satu malam hingga pagi.
Namun akal sehatnya kembali lagi.
"Tapi bohong!" Cinta tersenyum hendak bangkit namun tangan Cristian menahannya.
Dia tidak segila itu untuk melakukan semua keinginannya.
"Rumahku!" kata Cinta. Dia ingat dengan kata "Rumah" itu merujuk ke rumah Cristian.
"Rumahmu," jawab Cristian gemes lalu menjepit kecil pucuk hidung Cinta.
"Sakit," ujar Cinta manja. Cristian mengambil tangan Cinta.
"Jangan lepaskan gelang ini sampai kapan pun," pinta Cristian.
"Ini ... " perkataan Cinta terpotong ketika Cristian menggelengkan kepalanya.
Matanya berubah menjadi sayu dan menatap Cinta dengan penuh harap. Cinta menggerakkan bibirnya ke samping menampilkan senyum yang dipaksakan.
"Baiklah," ujar Cinta mengalah.
Cristian menyalakan starter mobilnya lagi dan mulai melajukan pelan. Dia berharap perjalanan ini masih panjang. Sesekali dia mencium pipi Cinta yang meringkuk dalam pelukannya.
''Te quiero amor mio(Aku mencintaimu, Sayang),'' bisik Cristian.
"Te amo mucho tambien (Aku juga sangat mencintaimu),'' jawab Cinta.
__ADS_1
''Kau mengerti apa yang kukatakan!" tanya Cristian terkejut.
''Aku sedikit mengerti bahasa spanyol karena guru tariku orang asli spanyol," jawab Cinta.
"Karena itu tarian salsamu sangat bagus untuk kalangan orang asia,''
"Salsa aku belajar karena menyukai gerakannya. Aku merasa seksi jika menari dengan tarian itu," kata Cinta bersemangat jika membicarakan masalah tarian.
"Kau memang seksi jika sedang menari. Aku rindu saat kita menari bersama," Cristian.
"Aku juga!" jawab Cinta.
Mereka lalu diam larut dalam pikiran masing-masing. Tangan Cristian sesekali hinggap di pinggangnya memeluknya erat. Jika lampu merah bibir Cristian mencium pipi Cinta. Akhirnya mobil berhenti seratus meter dari rumah Cinta sesuai dengan permintaannya.
Cinta langsung mencium bibir Cristian. Membuat pria terkejut. Ciuman yang panas dan membuat keduanya terhanyut. Saling membelit dan menghisap, seolah Cinta sedang menumpahkan semua perasaannya lewat ciuman itu. Hasrat, cinta, dan kerinduan dia salurkan. Hingga mereka melepaskan ciuman itu. Nafasnya terengah-engah.
"Selamat tinggal Cristian," kata Cinta dengan mata berkaca-kaca. Dadanya terasa sesak dan berat. Dia hendak bangkit namun tubuhnya di cekal oleh Cristian.
"Kita tidak akan berpisah,'' ucap Cristian dengan mata nanar.
"Bukankah kau akan menikahi kakak besok. Jadi ini saat terakhir kita ... ." Cinta menghentikan kata-katanya ketika telunjuk Cristian berada di bibirnya. Kepalanya di gelengkan.
Cristian hanya diam memeluk Cinta erat seeolah enggan untuk berpisah dengannya.
"Lepaskan aku, Cristian," ucap Cinta dengan suara serak dan terisak.
"Bagaimana aku bisa melepaskanmu jika kau saja tidak rela untuk meninggalkanku. Aku marah dan ingin membawamu pergi jauh dari sini saat ini juga," ungkap Cristian. Kepalanya berada di punggung Cinta. Sesuatu yang basah terasa mengenai kulit punggungnya.
Cristian menangis, Cinta memejamkan matanya. Tubuh keduanya bergetar karena menangis.
Cinta mengusap air matanya.
"Cristian kau harus merelakanku, seperti aku merelakanmu. Aku berjanji akan merawat anak kita dengan baik dan selamanya hanya kau yang memilikiku tidak ada yang lain. Namun, lepaskan aku... menikahlah dengan Kakak besok."
Cristian lalu menangkup pipi Cinta dan mencium seluruh wajahnya. "Kau hanya milikku Cinta, hanya milikku."
Cinta menganggukkan kepalanya menerima ciuman Cristian. Mereka lalu menyatukan dahi mereka.
"Aku mencintaimu, Cinta," lirih Cristian.
"Aku juga mencintaimu sangat mencintaimu,"
Tiin. Suara klakson dari motor Ardi membuat mereka terkejut.
"Aku harus pergi," bisik Cinta.
__ADS_1
Akhirnya dengan berat hati Cristian melepaskan Cinta.