
Dara tidak tahu harus melakukan apa karena Alehandro benar-benar melarangnya untuk mengerjakan apapun termasuk untuk memasak. Dia hanya boleh melakukan senam hamil dengan catatan tidak boleh terlalu lelah.
Dia suka diperhatikan seperti itu namun ini sudah keterlaluan.
"Biarkan aku masak!" geram Dara dengan gigi terkatup.
"Ada pelayan yang memasak lalu untuk apa kau harus bersusah payah."
"Kau juga ada pegawai yang bekerja kenapa harus pergi ke kantor? Ini adalah hidup dan kita harus punya kegiatan yang menantang jiwa kita. Jika semuanya flat datar akan cepat bosan. Jenuh dan stres kau mau aku terkena tekanan batin karena hanya duduk saja tanpa mengerjakan apapun," ucap Dara cepat dengan nada rendah tetapi penuh penekanan.
"Sayang, aku hanya tidak mau melihat kau dan bayiku kenapa-kenapa," ungkap Alehandro.
"Aku baik-baik saja. Aku sehat dan aku butuh ruang untuk mengekspresikan diriku. Aku tidak minta jalan-jalan atau melakukan pekerjaan di luar rumah hanya meminta kau membebaskanku melakukan pekerjaan rumah. Hanya itu," kata Dara.
"Ijinkan aku memasak dan mengurus kebunku, aku berjanji akan menjaga diriku dengan baik."
Alehandro menarik nafas panjang mengisi paru-parunya dengan oksigen agar bisa berpikir jernih. Kematian Maria sewaktu hamil sedikit banyak membuatnya takut jika kejadian itu terjadi pada Dara. Namun, wanita itu memang terlihat tegar dan sehat sangat berbeda dengan Maria.
"Baiklah kau boleh memasak makanan hanya saja harus dibantu asisten. Jangan seperti biasa pekerjaan itu kau lakukan sendiri dan ji..." Dara menutup mulut Alehandro.
"Aku tahu batasanku," jawabnya pelan lalu berjinjit dan mencium pipi pria itu.
Dara lalu membalikkan tubuhnya hendak berjalan. Namun lengannya di tarik oleh Alehandro.
"Kau kemana?" tanyanya.
"Memasak, aku sudah merindukan dapur," ucap Dara pergi ke dapur meninggalkan Alehandro.
Di sana dia kembali bersenandung dengan suaranya yang merdu sesuatu yang sudah lama tidak dilakukan Dara. Atun yang sedang ikut membantu Dara melihat Alehandro mendekat dan memberi isyarat agar dia menyingkir.
"Tun, itu cabainya tolong ambilkan," kata Dara tanpa melihat ke belakang. Alehandro lalu menyerahkan potongan cabai pada Dara.
"Kita masak apalagi ya Tun kalau ini sudah selesai. Aku sedang bersemangat ini. Tuanmu itu baru memberiku ijin memasak setelah tiga bulan hanya duduk saja dan melihat semua bekerja. Dia kira duduk terus itu enak, bisa-bisa aku mati bosan karenanya. Dia enak bisa keluar rumah setiap hari, bertemu dengan orang yang berbeda dan berinteraksi dengan mereka. lah aku yang kulihat cuma ini itu saja," curahan hati Dara sembari mengoleh makanannya. Alehandro yang melihat hanya memutar bola matanya malas.
__ADS_1
"Eh kok kurang mantap ya, ehm gula putihnya Tun," kata Dara mengulurkan tangannya ke belakang. Alehandro melihat semua wadah bumbu, baginya garam, gula dan penyedap rasa itu sama saja bentuknya. Akhirnya Alehandro memberikan asal tanpa mencobanya terlebih dahulu.
Dara hendak memasukkan apa yang diberikan oleh Alehandro tetapi melihat bentuk butiran itu Dara mengernyit.
"Aku minta gu ... ," Dara menoleh ke belakang untuk memarahi Atun tetapi terkejut melihat Alehandro di belakangnya.
"Kau, mengapa masih di sini apa tidak pergi bekerja?" tanya Dara salah tingkah. Dalam hatinya bertanya sejak kapan pria itu berdiri di belakangnya. Apa pria itu mendengar semua yang telah dia katakan?
"Tiba-tiba aku ingin pergi keluar mengajakmu pergi, mumpung anak-anak sedang dibawa Kris ke rumahnya. Namun kau malah sibuk di dapur saja sedari tadi." Alehandro berdiri di pinggir wastafel dan menatap istrinya.
"Kau tidak mengatakan padaku jika mau pergi." sudut Dara mengatasi rasa malunya.
"Kau sudah mengomel sedari pagi mana aku berani untuk menyela," bela pria itu.
"Ish." Wajah Dara dimanyunkan, dia mengambil gula dan menaruhnya sedikit ke masakan. Bau harum masakan mulai terasa.
"Aku juga baru tahu jika dibelakangku, kau sering menggosipkan suamimu yang tampan ini."
"Aku tidak menggosip hanya mencurahkan perasaan," ungkap Dara mematikan kompornya. Lalu mencuci tangan. Alehandro menganggukkan kepalanya. Itulah wanita dimana-mana selalu benar dan suami yang salah.
"Kau, tolong aku meletakkan sayur ini ke wadah berwarna hijau itu sebagian kau bawa ke belakang untuk kalian semua."
Setelah itu Dara berjalan meninggalkan Alehandro sendiri di dapur. Semenjak umur kehamilannya bertambah mood Dara sering naik turun tidak menentu. Alehandro mencoba untuk mengerti keadaannya dan selalu bersikap mengalah walau dia tetap protektif.
"Kau mau kemana?" tanya Alehandro mengikuti langkah istrinya.
"Kau itu, tadi katanya mengajakku pergi, maka aku akan bersiap." Alehandro terdiam di tempatnya.
Baru berjalan beberapa langkah Dara lalu membalikkan tubuhnya.
"Kita mau kemana?" tanyanya.
"Terserah kau saja?" kata Alehandro.
__ADS_1
"Kau mengajakku pergi tetapi tidak tahu tujuan kita mau kemana?"
"Kemana saja yang kau inginkan aku akan mengikuti," kata Alehandro dia sadar, jika dia sering pulang malam karena pekerjaan. Rasa bersalah karena sering mengabaikannya membuatnya berpikir untuk mengajaknya berlibur. Dia melakukan ini semata untuk membuat wanita itu bahagia. Walau pun telah memenuhi semua kebutuhan istrinya tetapi dia berpikir istrinya juga butuh waktu untuk dimanja dan di sayang.
"Aku sendiri tidak tahu ingin pergi kemana," kata Dara.
"Pilihannya tiga, mall, pantai, atau puncak?" tanya Alehandro.
"Pantai, aku ingin kakiku berjalan bebas di pasir."
"Baiklah kita ke pantai. Kau bisa menggunakan dastermu," kata Alehandro.
"Apa kau akan menggunakan celana kolor saja di sana?"
"Perutku sedikit buncit sekarang ini. Aku tidak pede jika harus memperlihatkannya pada wanita. Kau pandai sekali membuatku tampak tidak menarik dihadapan mereka."
Dara yang gemas mencubit perut Alehandro. "Kau saja yang malas bergerak dan berolah raga jangan salahkan aku yang telah memberimu makan."
Alehandro lalu mengangkat tubuh Dara tiba-tiba dan menggendongnya. Membuat Dara terkejut tetapi dia lalu mengalungkan tangannya ke leher pria itu. Alehandro lalu membawanya ke kamar mereka yang sudah pindah ke lantai dasar.
"Aku meminta Kris dan istrinya untuk menjaga anak kita hingga besok," kata Alehandro.
"Kenapa? Bagaimana jika Sheila kewalahan mengurus mereka?"
"Istri Kris malah senang jika ada anak-anak katanya rumah itu terasa ramai." Alehandro lalu menurunkan Dara dengan hati-hati.
"Bagaimana kalau kita menginap di luar untuk honeymoon."
Alehandro lalu menggerakkan tubuh Dara untuk berdansa.
"Berdansa di bawah sinar bulan, di pinggir pantai lepas, makan malam, lalu menginap di hotel," ujar Alehandro.
"Apa kau tidak bosan, bukankah kita melakukannya hampir setiap malam."
__ADS_1
"Tidak akan pernah, aku akan membuat malam ini berbeda. Kau tinggal menikmati saja bulan madu kita yang kesekian." Kekeh Alehandro.