
"Sedang apa kau di sini?" tanya Dara heran.
Tangan Alehandro mengusap tengkuknya yang tidak gatal. Dia lalu tersenyum malu pada Dara.
"Aku mengajak kalian untuk pergi makan malam," ucap Alehandro.
"Aku dan Kaisar juga akan turun untuk makan malam," ungkap Dara.
"Kalau begitu kita turun bersama," Alehandro lalu mengangkat tubuh Kaisar ke atas pundaknya dan berjalan bersama Dara menuju ke ruang makan.
Dara yang merasa kehilangan Rose sedikit terobati hatinya dengan kehadiran Kaisar. Dia melayani anak itu makan dan ayahnya lalu menemani Kaisar tidur setelah menceritakan dongeng pengantar tidur sembari mengusap tubuh anak itu.
Belum setengah jam Dara bercerita Kaisar sudah terlelap. Wanita itu kembali teringat pada Rose. Sedang apa anak itu saat ini, apakah dia akan kembali besok? Dia berharap Kris menepati janjinya untuk membiarkan Rose dirawat oleh keduanya bersama-sama.
Dara mulai bangkit dari tempat tidurnya dan membenarkan selimut Kaisar. Dia lalu memutar tubuhnya dan melihat Alehandro sedang berdiri di pintu memandanginya.
Wanita itu lalu berjalan ke arah pintu kamar tidur untuk kembali ke kamarnya.
"Dara," panggil Alehandro ketika wanita itu melewati dirinya.
"Bisakah kita mengobrol di belakang rumah," ajak Alehandro.
"Baiklah," jawab Dara mereka lalu berjalan beriringan ke arah belakang rumah di mana ada kolam renang dengan taman di pinggirnya.
Mereka lalu duduk di sebuah kursi malas yang panjang. Sejenak mereka terdiam hanya melihat pemandangan sekitar.
"Dara kau belum menjawab pertanyaanku dengan jelas apakah kau menerima lamaranku," kata Alehandro.
"Aku kira kau itu mantan playboy yang berbakat namun kau tidak bisa melamar seorang wanita dengan romantis," ucap Dara sembari menggigit bibirnya dan tersenyum geli melirik ke arah Alehandro.
Alehandro mengusap rahangnya yang penuh dengan bulu-bulu halus.
__ADS_1
"Dara itu hanya untuk pasangan yang belum pernah menikah," ujar Alehandro memberi alasan.
"Aku belum pernah menikah," jawab Dara kecut.
Alehandro memejamkan mata menyadari kesalahan katanya. Dia lalu bergerak ke depan Dara dan bersimpuh di hadapan wanita itu.
"Bukan di bintang-bintang untuk menahan takdir kita tetapi di dalam diri kita sendiri, dan aku ingin membuat takdir kita ke depan bersama denganmu. Melewati hari demi hari melewati masa sembari melihat anak kita tumbuh bersama."
Pria itu menghela nafas panjang dan menatap manik mata onyx Dara yang kelam.
"Aku memang bukan pria yang sempurna yang seperti kau harapkan, aku juga bukan pria yang bisa menawarimu sejuta kebahagiaan, tetapi aku berharap kau mau berbagi mimpi denganku, bersama merajut asa melewati kehidupan bersama dalam suka dan duka."
Dara mendengarkan setiap perkataan Alehandro dengan khidmat.
"Dara maukah kau menerimaku menjadi suamimu?" tanya Alehandro.
Sejenak Dara terdiam. Bolehkah dia menawar sesuatu hal. Ada sedikit rasa kecewa yang terselip. Sesuatu yang belum dia dapatkan dari Kris cinta sejati. Kini dia juga tidak mendengar ungkap cinta dari Alehandro.
Dia tidak tahu haruskah dia menolak atau menerimanya. Namun, jauh di dalam lubuk hatinya dia memerlukan cinta tulus seorang pria.
"Dara aku," perkataan Alehandro tertahan ketika Dara merenggangkan tangan di depannya.
"Kita akan menikah jika sudah ada cinta, jika belum maka tidak ada pernikahan."
"Dara aku," ucap Alehandro namun terpotong oleh Dara.
"Tidak ada tawar menawar!" tegas Dara.
Alehandro lalu bangkit dan tersenyum. Dia kembali duduk di sisi Dara yang terlihat kecewa dengan perkataannya.
Dara masih melihat ke arah samping enggan untuk melihat wajah pria itu. Dadanya terasa sesak karena merasa menjadi wanita yang tidak pantas untuk dicintai.
__ADS_1
Alehandro lalu memegang kedua bahu dan membuat wanita itu menghadap ke arahnya. Satu tangannya mulai meraih dagu panjang wanita itu.
"Mengapa? Kau kecewa?'' tanya Alehandro. Dara enggan untuk melihat ke arah Alehandro
"Tatap aku Dada katakan apa yang ingin kau katakan," lanjut Alehandro.
"Aku tidak pernah merasakan bagaimana rasanya dicintai apakah salah jika aku menginginkan hal itu dari suamiku kelak?" tanya Dara.
"Tidak kau berhak mendapatkannya," jawab Alehandro.
"Dan kau tidak menawarkan hal itu," kata Dara terus terang.
"Apakah cinta itu harus dikatakan, kau bisa melihat dan merasakannya," ucap pria itu mengusap lembut pipi Dara. Wanita itu menatap jauh ke dalam mata Alehandro mencari kedalaman hati pria itu.
Mata Dara merebak. "Kau menyebalkan," ucapnya.
"Aku harap pria menyebalkan ini diterima menjadi suamimu," sambung Alehandro. Lalu merenggangkan tangan. Dara mulai masuk ke dalam pelukan pria itu.
"Aku sudah berumur dan malu untuk menyatakan kalimat cinta," ucap pria itu.
"Ya kau sudah tua dan jarak usia kita sangat jauh, mungkin hampir dua puluhan," ucap Dara.
"Berapa usiamu?" tanya Alehandro.
"Dua puluh enam tahun," jawab Dara.
"Masih sangat muda dan kau sudah banyak menghadapi cobaan hidup yang membuat pemikiranmu lebih dewasa dari umur. Sedangkan aku sudah menginjak usia Empat puluh tiga tahun, tujuh belas tahun di atasmu," jawab Alehandro.
"Apakah kau melamarku hanya karena Kaisar?" tanya Dara lagi.
"Kau benar tetapi aku juga melakukan itu untuk diriku sendiri. Aku membutuhkan pendamping hidup yang satu jalan serta satu arah denganku," jawab Alehandro.
__ADS_1
"Setelah lama berpikir aku baru yakin pada diriku sendiri untuk melamarmu. Bukan semata karena Kaisar atau Rose tetapi aku yakin hanya kau yang bisa menyembuhkan lukaku karena kehilangan Maria. Kau bisa membuatku tertawa lagi setelah beberapa bulan aku terdiam menyendiri dalam kamar. Kau membuat semangat hidupku muncul lagi ketika melihatmu terus berjuang ketika kesulitan menerjang."
Dara lalu merenggang pelukan Alehandro dan mulai menatapnya tidak percaya.