
Dara mengalami masa kehamilan yang menyulitkannya. Seharian ini dia hanya terbaring lemah dan lesu. Keadaaan bertambah buruk karena dia muntah hebat selama beberapa hari ini.
"Sayang, ibumu ini sedang hidup sendiri tanpa ayahmu jadi jangan buat ibu kesusahan dengan rasa mual. Cobalah mengerti keadaan ibumu ini," kata Dara berucap sendiri dengan calon anak dalam perutnya, seusai memuntahkan kembali isi perutnya yang sudah kosong.
"Apa kau ingin ayahmu di sini?"
"Itu tidak mungkin karena ayahmu berada jauh dari sini," jawab Dara sendiri lagi.
"Memanggil ayahmu? Tidak akan mungkin ibu lakukan, ayahmu mungkin juga sudah mempunyai anak lainnya. Lagi pula ibu sudah mempunyai dirimu jadi ibu tidak kesepian lagi." Dara mengusap perutnya yang mulai membuncit sembari duduk bersandar di tempat tidur.
Perutnya terasa melilit karena lapar. Sepiring seblak panas yang pedas tiba-tiba terlintas dalam pikirannya.
"Apa kau menginginkannya?"
"Aku juga, sepertinya itu enak jika dimakan langsung di tempat. Akh! sudah malam di mana kita mencarinya sedangkan aku belum tahu tentang kota ini," ucap Dara menekuk wajahnya. Ray yang sering dimintai bantuannya sedang berada di luar kota. Tidak mungkin dia meminta tolong pada Ibu Kris.
Tiba-tiba hatinya mendesir sakit mengingat akan Kris. Pasti akan mudah jika kita mempunyai pasangan yang bisa kita mintai sesuatu jika sedang mengidam.
"Kris apakah kau merindukanku sama seperti ku merindukanmu?" lirih Dara. Air matanya menetes mengenang kebersamaan mereka.
Dia lalu membuang nafas keras. Menghapus air matanya dan melihat bantal berbaju milik Kris.
"Tuan Sempurna, apa yang akan kau lakukan jika tahu aku sedang hamil?" kata Dara pada bantalnya.
"Dara apa yang kudengar ini tidak salah? Kau hamil?" tanya Savitri di depan pintu kamar Dara. Dari tadi dia bolak-balik ke rumah anak itu untuk melihat keadaannya yang sedang sakit. Dia kira Dara demam karena banyak keluar malam untuk mengisi acara di cafe Ray. Namun, nyatanya anak ini malah sedang sakit karena hamil. Dia tidak tahu apakah berita ini membuatnya bahagia atau miris.
Dara menutup mulutnya dan mengumpat lirih pada dirinya sendiri. "Bodoh!"
Savitri mendekat ke arah Dara dan duduk di pinggir tempat tidur, sebelah Dara. Dia lalu melihat beberapa obat di atas meja kecil dekat tempat tidur. Obat penambah darah, calsium dan vitamin. Kecurigaan Savitri semakin kuat.
"Dara, Ibu tanya padamu apakah kau sedang hamil?" desak Savitri.
Dara meringis sembari menganggukkan kepalanya. Dia takut jika Savitri akan memakinya mengatakan jika dia wanita murahan atau sejenisnya. Namun hal lain terjadi, dia terkejut ketika tangan Savitri menonyor kepalanya.
"Dasar bodoh kenapa kau tidak menceritakan pada Ibu soal ini!" ucap Savitri.
"Apa ini anak Kris?" tanya Savitri antusias. Dara menganggukkan kepalanya. Savitri menarik nafas dan mengeluarkannya keras. Netranya berbinar-binar. Dia memeluk Dara erat.
Dara terlihat shock mendapat perlakuan Savitri. Dia kira wanita ini akan tidak percaya kata-katanya atau menolak anak dalam kandungannya adalah cucunya.
__ADS_1
"Kau memberikan kabar yang sangat membahagiakan untukku," Savitri lalu merenggangkan pelukannya dan menatap Dara.
"Kita akan merawatnya bersama!" ujar Savitri.
"Bagaimana jika Kris tahu dan mengambil anak ini?" tanya Dara takut. Savitri menengadahkan wajahnya satu jari telunjuknya di arahkan ke kening.
"Ya, Kris sudah tahu tempat ini. Jika dia mencintaimu dia pasti akan datang kembali hanya untuk melihatmu," kata Savitri. "Jika melihatmu hamil dia pasti akan curiga jika ini adalah anaknya?"
Dara mengangguk kepalanya setuju sembari ikut berpikir.
"Bukankah itu bagus, aku bisa bertemu dengan anakku lagi dan kau bisa hidup bersama Kris, dasar bodoh," maki Savitri.
"Ibu... apa kau lupa jika Kris sudah menikah?" ujar Dara.
"Apa kau yakin?" Wajah Savitri mendekat ke arah Dara sambil menyipitkan kedua matanya.
"Aku sangat yakin akan hal itu karena pernah melihat Kris bersama istrinya di cafe Ray," jawab Dara. Mereka berdua lalu terdiam dengan menopang dagu.
"Ini tidak baik!" ujar Savitri. Dara menganggukkan kepalanya.
"Kau benar Ibu!" jawab Dara.
"Ibu? Bagaimana kau bisa berbicara hal seburuk itu padaku," Dara memalingkan wajahnya. "Kau memintaku menjadi simpanan Kris, kau dan dia sama saja." Dara menurunkan bahu dan mendesah.
"Bukankah itu jalan terbaik, kau dan dia juga anak ini bisa bersama walau secara sembunyi-sembunyi," ungkap Savitri. "Aku juga bisa ikut menikmati kebersamaan kalian."
Kedua alis Savitri digerakkan naik turun.
"Ibu ini masalah pelik dan menyedihkan kenapa kau mengatakan hal ini seolah sesuatu yang mudah?" seru Dara sembari memutar bola matanya malas.
"Karena kau mempersulitnya sendiri. Kau lihat banyak sekali pelakor yang bisa merebut pria dari istri pertamanya kenapa kau tidak bisa melakukannya sedangkan statusmu itu lebih tinggi di hati Kris, ibu dari anaknya dan wanita yang dia cintai. Kau bisa dengan mudah menendang istri pertamanya," nasihat Savitri dengan penuh semangat.
Dara menutup mulutnya tidak percaya hal ini akan keluar dari wanita yang selalu menjaga kehormatan serta harga dirinya. Kepalanya bertambah pening. Sepiring Seblak yang tadi berputar-putar di dalam pikirannya kini hilang seketika.
"Kau tidak harus memeluk bantal jelek ini. Aku yakin ini Kris dalam imajinasi mu." Savitri memandangi bantal guling berpakaian Kris dan meletakkan lagi dengan wajah yang ditekuk.
"Ibu ...." panggil Dara keberatan.
"Jika kau melakukan itu kau bisa memeluk tubuh Kris asli bukan bayangannya saja," lanjut Savitri.
__ADS_1
Dara terdiam. Ya, dia mengakui jika dirinya sangat merindukan Kris.
Dara lalu mengambil guling itu dan memeluknya.
"Biarlah aku memeluk guling ini, esok jika akan ini lahir aku akan memeluknya sebagai ganti Kris," kata Dara.
"Dia juga butuh seorang ayah Dara, kau jangan egois," ungkap Savitri. Dara terdiam.
"Kalau begitu aku akan menikahi pria lain yang bisa dijadikan ayahnya," balas Dara.
"Kau itu keras kepala, lagian siapa yang mau menerima wanita hamil dari pria lain?"
"Ray!" jawab Dara membuat terkejut Savitri. Kepalanya lalu menjadi pusing seketika. Dia memijat keningnya perlahan.
"Kau itu gila!" ujar Savitri.
"Aku hanya meniru mu. Kau mengorbankan perasaanmu demi masa depan Kris sedangkan aku tidak akan menggagalkan masa depan yang dia bangun selama ini, Bu? Tidak mungkin."
Tangan Savitri merengkuh bahu Dara dan menariknya dalam pelukan. Dia merasa salut pada cinta Dara pada Kris yang begitu dalam.
"Kita akan merawat anak ini berdua dan jangan berpikir gila dengan mencari ayah untuk anak ini, apalagi pria itu adalah Ray. Ibunya bisa membunuhmu nanti." Dara tertawa lepas.
"Kecuali kau suatu hari menemukan cintamu yang lain. Aku akan mendukung hubunganmu itu," kata Savitri lagi. Dara lalu memeluk tubuh Savitri erat.
"Kita akan pindah ke Jakarta dan membuat usaha di sana."
"Kenapa harus ke Jakarta?
"Karena sesekali Ibu ingin melihat Kris walau dari jauh," kata Savitri. Hati Dara tersentuh mendengar hal itu. Ibu benar-benar menelan hati dan perasaannya hanya untuk keberhasilan anak semata wayangnya
"Apakah ibu pernah menengok Kris?" tanya Dara.
"Jika ibu merindukannya ibu akan menengoknya, walau kami tidak pernah bertemu walau melihatnya dari kejauhan dan tahu jika keadaannya baik-baik saja itu sudah cukup untuk ibu." Mata Savitri terlihat berkaca-kaca bila mengingat Kris.
"Namun, semenjak Kris berada di Amerika Ibu belum melihatnya lagi hingga tempo hari. Ibu terkejut menemukan dia datang ke rumahmu," tutur Savitri panjang lebar.
"Aku pun terkejut melihat Kris mengikutiku hingga kemari," ujar Dara.
"Itu tandanya kau berharga untuknya, jika dia hanya menjadikanmu mainan saja maka dia tidak sungkan kehilangan dirimu karena dia pasti akan menemukan Dara yang lain yang jauh lebih cantik, seksi dan berkelas."
__ADS_1