
"Ya, kau yang melakukan itu."
"Bagaimana bisa?" tanya Dara.
"Aku hampir putus asa dan kehilangan semangat hidup sepeninggal Maria. Semua pekerjaan kutinggalkan bagiku tujuan hidup hanya membesarkan Kaisar saja. Namun, ketika aku menemukanmu di Bali lewat orang kepercayaan ku, aku sadar jika pikiranku salah. Kau membangkitkan semangat hidupku lagi lewat perjuangan yang kau lakukan."
Cahaya malam membuat bayangan semu di pipi kiri Dara membuat wanita itu terlihat cantik. Apalagi gerakan matanya menimbulkan bayangan seperti ombak di bawah mata lembut miliknya.
Tangan Alehandro tidak berhenti mengusap pipi Dara.
"Kau berjuang keras melawan dunia dengan uang seadaanya. Berusaha untuk memberikan kenyamanan pada putrimu walau kau sendiri hidup dalam himpitan. Kau melewati hari-harimu dengan bekerja keras. Hal itu yang membuatku tersentil. Aku meninggalkan pekerjaanku karena terpuruk dengan kematian Maria yang jelas-jelas mencintaiku. Sedangkan kau yang seharusnya jatuh terpuruk karena penghinaan dari orang-orang sebab statusmu menjadi ibu tanpa suami, tidak menghalangi untuk tetap maju, terus bekerja keras demi putrimu."
"Aku masih mempunyai seorang ibu yang mendukungku dan harta berlimpah yang membuat hidupku nyaman, sedangkan kau hanya tidur di sebuah kost sederhana tanpa ada seorang pun yang membantumu melewati hari. Kau tetap bertahan dan melewati semuanya tanpa mengeluh apalagi terlihat lemah," ujar Alehandro.
Mulut Dara terbuka lebar. Nafasnya terasa sesak. Bagaimana pria ini tahu tentang kehidupannya di Bali ketika dia baru menginjakkan kaki di sana?
"Apakah kau selalu mengawasiku dari awal?" tanya Dara dengan mata yang merebak.
"Ya, aku khawatir dengan keadaanmu," jawab Alehandro. Dara lalu masuk ke dalam pelukan pria itu dan menangis.
"Aku kira saat itu aku sendiri tidak ada yang peduli pada nasibku dan anakku, ternyata aku salah," ujarnya.
__ADS_1
Alehandro mengusap punggung Dada lembut.
"Kau masih punya aku," cetus pria itu membuat hati Dara terharu karena merasa di lindungi oleh pria itu.
''Terimakasih karena telah memperhatikan diriku selama ini," ucap Dara.
"Hanya itu," ujar Alehandro.
"Lalu?"
"Menikahlah denganku," ujar pria itu.
"Kau itu membantuku karena punya maksud tertentu. Kau terlihat tidak ikhlas," gerutu Dara merenggangkan pelukannya.
"Memang berapa hutangku padamu?" tanya Dara. "Biar aku bayar."
"Aku memberimu kasih sayang tanpa kau ketahui dan kau harus membayarnya dengan cinta," bisik Alehandro di telinga Dara, membuat wajah Dara memerah.
Hidung pria itu mengusap pelan pipi Dara hingga berhenti tepat di hidung wanita itu.
"Apakah kau masih menolakku," tanya Alehandro. Dara memegang kedua pipi Alehandro lalu mulai meletakkan bibirnya pada bibir pria itu memagut pelan tetapi kemudian dia menyerah.
__ADS_1
"Aku tidak pandai dalam soal ini," ujar Dara malu.
"Aku kira kau?"
"Tidak aku hanya melakukan satu malam dengan Kris setelah itu aku pergi," kata Dara menatap Alehandro.
"Bukan maksudku untuk," ucapan Alehandro terhenti tatkala tangan Dara diletakkan di bibir pria itu.
"Apapun itu kau telah menerimaku dari awal dengan semua kekuranganku, itu sudah lebih dari cukup untukku," ucap wanita itu tulus.
"Kalau begitu biarkan aku mengajarimu cara melakukan itu dengan baik," kata Alehandro.
"Sudah malam sebaiknya kita kembali ke rumah," tolak Dara berdiri membuat Alehandro menggelengkan kepalanya dan tersenyum.
Mereka lalu kembali ke dalam rumah dengan bergandengan tangan.
"Aku ingin menikah denganmu secepatnya," ucap pria itu ketika mereka telah di depan kamar Dara.
"Kapan?"
"Besok!" ucap Alehandro.
__ADS_1
"Kau gila?"
"Aku masih waras, aku takut masuk ke dalam kamarmu diam-diam jika kita tidak menikah secepatnya," ujar Alehandro.