
"Tunggu dulu di sini, Bibik akan membicarakan masalah pembayaran dengan pemilik ruko ini," ujar Savitri berjalan meninggalkan dua orang itu.
Ray menyenderkan tubuhnya yang terasa lemas dan lelah di tembok sembari menyilangkan tangan di bawah dadanya.
Kepalanya menunduk dan satu kakinya di gesekkan ke tanah. Dara yang merasa tidak enak lantas pergi mencari kesibukan sendiri.
"Apakah pria yang menemuimu itu ayah dari anakmu?" tanya Ray. Dara lalu menoleh dan melihat ke arah Ray, terdiam karena enggan untuk menjawab. Dia kembali melihat sekeliling ruangan itu mencari sesuatu yang bisa dia gunakan untuk membersihkan rumah ini.
"Sial! Seharusnya aku sudah memperkirakan ini sebelumnya."
Dara terlihat ingin mengatakan sesuatu namun diurungkannya kembali. Mereka kembali terdiam. Seribu pertanyaan hinggap di diri Ray. Dia seperti tidak percaya pada apa yang Savitri katakan tetapi kediaman Dara telah menjawab semuanya bahwa hal itu benar adanya.
"Lalu mengapa kau menolak kehadirannya saat itu?" tanya Ray.
"Karena dia sudah menikah," jawab Savitri yang sudah kembali.
"Dasar pria brengsek! Menghamili satu wanita sedangkan dia sudah punya wanita lain sebagai istrinya," maki Ray. Memukul tembok yang berada di belakangnya.
"Itu tidak seperti yang kau duga," kata Dara membuat Ray terdiam.
"Kita bersihkan dulu tempat ini baru kita bisa duduk dan membicarakannya dengan tenang. Setidaknya aku berharap satu ruangan bersih untuk bisa kita jadikan tempat istirahat."
"Ray, bantu aku mengambil beberapa barang di bagasi mobil. Sedangkan kau Dara tetap diam di tempat dan jangan banyak bergerak agar janin di perutmu baik-baik saja."
"Tapi ... .''
"Tidak, ada tapi-tapian. Kau harus menjaganya untukku," ujar Savitri membuat Ray menautkan kedua alisnya. Dia tidak mengerti apa yang sebenernya telah terjadi.
Savitri turun ke lantai bawah dan menarik tangan Ray untuk ikut dengannya.
Satu jam kemudian satu ruang lantai atas telah bersih dan siap untuk di gunakan. Untungnya di ruangan itu masih ada satu kasur busa yang masih layak pakai. Savitri juga membawa kasur lipat. Jadi Savitri dan Dada akan tidur di tempat tidur dan Ray akan tidur di lantai.
"Jika Suami Dara tidak bertanggungjawab aku akan menikahinya jika dia menginginkannya," ujar Ray ketika mereka sudah duduk santai di ruangan itu.
__ADS_1
Dara menatap Ray dan melihat kesungguhan di matanya. Savitri menghela nafas panjang sebelum mengatakan sesuatu.
"Ini alasanku membawa Dara secepatnya dari rumah itu. Kau tahu masyarakat sana masih memegang teguh nilai adat. Apa yang nanti Dara alami jika orang-orang tahu akan kehamilannya. Bukannya rasa simpati malah cacian yang akan di dapat. Itu juga bukan salah mereka jika melakukan itu karena Dara yang telah melampaui batas pergaulan."
Dara menundukkan wajahnya, hatinya tersentuh oleh kata-kata yang Savitri ucapkan. Ternyata wanita itu sudah memikirkan masa depannya.
Ray hanya bisa menatapnya saja. Kini di hati Ray tertanam satu pertanyaan, mengapa Bibiknya rela mengorbankan dirinya demi seorang wanita muda yang bukan siapa-siapa?
Savitri seperti tahu apa yang Ray pikirkan.
"Kau pasti bingung melihat Bibik mau pindah kemari dengan Dara yang bukan siapa-siapa kita," ucap wanita itu.
Ray mengangkat wajahnya dan melihat ke arah Savitri.
"Kau ingat Kris?" tanya Savitri.
"Kak Kris, anak Bibik?"
"Ya."
Savitri melihat ke arah Dara.
"Kris adalah pria yang dekat dengan Dara," kata Savitri sembari meletakkan tangannya di atas tangan Dara. Wajah Ray pias seketika.
"Apakah pria itu Kak Kris?" tanya Ray. Dia merasa seperti dibodohi oleh semua yang ada di sini.
"Ya, dia Kris. Anakku," ujar Savitri.
Ray menarik nafasnya lalu melihat ke arah Dara dan Savitri yang ada di depannya.
"Kenapa kalian tidak mengatakan hal ini padaku sebelumnya?" tanya Ray.
"Karena aku juga baru tahu Dara hamil kemarin malam," jawab Savitri.
__ADS_1
"Lalu kapan Bibik tahu jika pria itu adalah Kris?"
"Sewaktu dia ke rumah Dara dan bertengkar dengan kalian. Bibik tanya pada Dara siapa pria itu dan Dara menceritakan semuanya," terang Savitri.
"Aku tidak mengerti mengapa semuanya seperti sebuah kebetulan semata. Dara maukah kau menerangkan semuanya padaku agar pikiranku terang. Jujur kali ini aku merasa marah karena merasa dibodohi, kesal dan patah hati karena merasa hatiku dipermainkan," ungkap Ray.
"Aku dan Kris hidup bersama selama beberapa bulan di apartemen miliknya. Kau boleh berpikir aku ini wanita murahan atau wanita nakal."
"Aku tidak akan menghujatmu sebelum tahu kebenarannya," tanggap Ray.
"Aku jatuh cinta padanya dan menyerahkan diri padanya. Tetapi cintaku tidak bisa membuatnya mencintaiku dan keluarganya memaksanya untuk menikahi wanita dari kalangan atas. Aku lebih memilih menyerah agar ambisinya bisa terpenuhi dan pergi dari kehidupannya."
"Tetapi bagaimana bisa ... ." Ray menunjuk Dara dan Savitri secara bergantian.
Dara menyunggingkan satu senyum yang samar, nyaris tidak terlihat.
"Aku tahu jika Kris mempunyai seorang ibu dan aku mencarinya di alamat yang dahulu, seseorang memberikan alamat rumahnya di Sukabumi jadi aku mencarinya di sana dan aku menemukannya. Lama aku mengintai, lalu aku tahu jika ada rumah yang sedang di jual di depan rumahnya dan itu jadi kesempatan bagiku untuk dekat dengannya setelah itu kubeli rumah itu."
"Kenapa kau tidak kembali ke rumah orang tuamu malah bersusah payah mencari alamat Bibik?"
Mata Dara berkaca. Dia menarik nafas dalam.
"Karena aku anak yatim-piatu yang tadinya hidup di panti asuhan. Takdir mempertemukan aku dengan Kris dan dia yang mengajariku apa itu cinta, kasih sayang dan rumah," ujar Dara tanpa terasa setetes air mata jatuh mengalir tanpa dia bisa cegah. Dara benci melihat kerapuhannya di depan orang lain. Dia langsung menyeka air mata itu dan tersenyum.
Savitri yang melihatnya langsung memeluk Dara dan mengusap punggung wanita itu.
"Aku akan jadi pengganti Kris untuk menjagamu dan menjaga anak yang kau kandung ini," kata Savitri.
"Bukankah pria itu ke rumahmu, mengapa kau tidak jujur padanya jika kau hamil?" tanya Ray yang masih penasaran.
Dara terkejut dengan pertanyaan Ray.
"Kau malah terkesan menutupinya dengan menjadikan aku sebagai perisaimu," imbuh Ray.
__ADS_1
"Maafkan aku! Jika hal itu membuatmu terluka." Dara lalu menundukkan wajahnya. "Dia sudah menikah dan aku tidak ingin merusak pernikahannya."
"Aku bisa melihat jika dia mencintaimu Dara. Dia juga berhak tahu tentang kehamilanmu karena dia ayahnya. Sedangkan kau egois karena ingin memilikinya sendiri. Aku yakin jika dia tahu kau hamil, dia akan memilihmu. Sebagai sesama pria aku bisa menilai perasaannya."