Mencintai Calon Kakak Ipar

Mencintai Calon Kakak Ipar
Merasa Terlindungi


__ADS_3

Acara ijab dilakukan dengan sangat sederhana. Tidak ada perayaan ataupun sesuatu hal yang spesial. Hanya acara akad biasa dan Mom Lusi serta anak-anak yang hadir diacara itu, saksi dari pihak penghulu dan asisten Alehandro.


"Sah... ," kata salah satu saksi.


"Sah ... ," jawab yang lain.


"Alhamdulillah," ucap semua orang lalu penghulu mulai melantunkan doa. Sedangkan Dara terus menangis sedari tadi sembari mengusap wajahnya dengan sapu tangan.


Tidak pernah terlintas dalam benak atau pikirannya akan menikahi orang seperti Alehandro. Dia sendiri takut untuk bermimpi.


Setelah acara doa selesai tinggal prosesi mencium tangan Alehandro.


"Ini bukan mimpi kan?" tanya Dara sembari menyeka air matanya. Alehandro tersenyum sembari menggelengkan kepalanya.


"Cubit aku biar aku sadar kalau ini bukan mimpi indah," ucap Dara lagi membuat semua orang di sana tertawa.


"Ih, Ibu," kata Rose yang duduk di sebelah Dara.


"Aww!" teriak Dara ketika Alehandro mencubit keras lengannya. "Sakit tahu." Dara mengusap lengannya yang terasa sakit.


"Tadi katanya ingin dicubit," balas pria itu lalu memberikan tangannya. Dara meraihnya dan mengecup tangan Alehandro. Selanjutnya Alehandro mengecup kening Dara.


"Sudah jangan menangis terus." Alehandro menyeka air mata Dara.


"Jadi istri yang sholekhah dan baik," bisiknya lirih. Dara menganggukkan kepala. Selanjutnya mereka berterima kasih pada penghulu dan pertugas yang ada. Sepeninggal orang-orang itu mereka lalu meminta restu pada Mom Lusi.


"Aku sekarang tenang setelah kau mendapatkan pasangan yang tepat Ale. Andai kata aku meninggal nanti aku telah siap tidak ada lagi yang akan jadi beban hidup yang akan kubawa sampai mati."


"Ibu mengapa mengatakan itu?" kata Dara.


Mom Lusi mengusap kepala Dara dengan lembut. "Panggil aku Mom, karena kau sudah jadi anakku sekarang."


"Dara benar Mom, kau tidak boleh mengatakan itu karena kami semua masih membutuhkanmu," ucap Alehandro.


"Mom sudah tua dan sudah lelah, kau juga sudah mempunyai istri yang akan mendampingimu selalu dalam suka dan duka."


"Aku berdoa semoga kalian berdua akan bahagia di dunia dan akhirat, memperoleh hidup yang berkah dan selalu dalam lindungan Tuhan yang Maha Esa."


"Amiin."

__ADS_1


"Sekarang Tante Dara telah jadi ibuku juga?" ungkap Kaisar senang. Rose memeluk ibunya erat.


"Ibu, apa kau akan menyayanginya, menyerahkan ku pada Ayah dan melupakan aku?"


Semua orang membuka mulutnya tidak percaya dengan apa yang Rose katakan.


"Siapa yang mengajarimu bicara seperti itu?"" tanya Dara.


"Temanku di sekolah tinggal bersama neneknya setelah ibunya menikah lagi," ujar Rose. Alehandro lalu mengambil Rose dari tangan Dara.


"Kau tetap putri kecilku. Aku bahkan membantu kelahiranmu dulu," ucap Alehandro.


Rose melihat ke arah ibunya. "Sewaktu aku masih bayi?" tanya Rose.


"Sewaktu kau akan keluar dari perut ibu, Om yang menjagamu dan membantu ibu hingga akhirnya kau lahir dengan selamat, Om juga yang menerimamu dari dokter sewaktu kau masih berdarah dan tali pusarmu belum dipotong," terang Dara. Rose menganggukkan kepalanya.


"Lalu dimana Ayah?"


Berbicara dengan Rose yang cerdas itu butuh kesabaran lebih. Dia akan menanyakan hal-hal yang sulit untuk dijawab.


"Ayahmu datang setelahnya dan menggendongmu," lanjut Alehandro. Rose menganggukkan kepalanya.


"Jika ibuku pergi ke dalam tanah setelah aku lahir," ucap Kaisar menundukkan kepala, "aku sudah tidak dapat melihat ibuku lagi."


Kaisar tersenyum lalu balas memeluk Rose.


"Sepertinya mereka akan akur sampai dewasa," ujar Alehandro.


"Semoga saja," kata Dara bersandar pada tubuh Alehandro.


"Sekarang kita pulang," ajak Alehandro. Mereka lalu berpamitan pada petugas masjid yang berjaga.


Dara heran melihat mereka tidak kembali ke jalan rumah tetapi malah pergi ke sebuah panti asuhan. Panti asuhan tempat Dara dibesarkan dahulu.


"Ale, kenapa kita kemari?" tanya Dara ketika mobil berbelok masuk ke sana.


"Kita akan merayakan kebahagiaan kita dengan keluargamu, bukankah mereka itu keluargamu?"


"Bagaimana kau tahu jika aku?" tanya Dara terkejut. Alehandro menepuk lembut kepala Dara.

__ADS_1


"Aku tahu semuanya," jawab Alehandro. Dara membisu larut dalam pikirannya sendiri.


Di halaman panti sudah ada dua mobil lain yang berisi makanan dan tas besar untuk di berikan pada penghuni panti asuhan.


"Ale, aku tidak mau kesana," ucap Dara membalikkan tubuhnya.


"Kenapa?"


"Ale, aku menyimpan kenangan yang buruk di sini," ujar Dara enggan untuk turun dari mobil.


"Kalau begitu kita akan membuat kenangan yang indah. Tidakkah kau ingin melihat adik-adikmu?" tanya Alehandro. Mata Dara merebak merah. Dia teringat adik-adik kelasnya yang masih berumur kecil ketika dia kabur dari panti asuhan ini. Sebagian dari mereka mungkin masih ada di panti ini.


Alehandro membuka pintu depan mobil penumpang setelah turun dari mobil namun Dara membatu di tempatnya. Dia teringat pada salah satu petugas panti pria yang ingin melakukan pelecehan padanya tetapi tidak berhasil karena Dara bisa menyelamatkan diri. Setelah itu, dia kabur dari panti ini.


"Ayo Ibu," teriak anak-anak yang sudah keluar dari mobil. Kaisar menarik tangan Rose ke dalam panti karena sudah terbiasa pergi ke tempat seperti ini bersama ayahnya.


Mom Lusi sudah turun dari mobil satunya dan di dorong masuk oleh seorang pelayan rumah. Tinggal Dara dan Alehandro sendiri yang berada di luar panti.


"Dara, memang apa yang kau alami sehingga kau tidak menyukai tempat ini," ucap Alehandro lirih.


Dara menelan Salivanya dalam-dalam dan menceritakan singkat kejadian yang dialaminya. Dia berharap adik kelasnya tidak ada yang mendapat perlakukan yang diterima olehnya.


Alehandro mengusap pelan rambut Dara. "Satu orang yang telah melukai hatimu tetapi masih banyak orang yang menyayangimu, apa kau tidak mau menemui mereka?''


Dara melihat ke arah Alehandro. "Kita selesaikan masalah ini di dalam," lanjut pria itu lagi.


Alehandro mengulurkan tangannya dan Dara menyambut uluran tangan itu. Untuk pertama kalinya Dara harus membagi perasaan dengan seseorang dan percaya akan ada orang yang berada di sisi serta melindungi dari hal buruk lainnya.


Dara melihat ke arah Alehandro yang berada di depannya. Hatinya merasa tenang, aman dan terlindungi. Perasaan yang tidak pernah dia rasakan sebelumnya.


"Tegakkan kepalamu dan lihatlah ke depan," ucap Alehandro ketika menoleh ke belakang. Dara menganggukkan kepalanya. Dia berjalan dengan menegakkan kepala dan masuk ke dalam panti asuhan itu.


"Kak Dara!" panggil seorang anak remaja mendekat ke arahnya. Dara mengernyitkan dahi menatap anak itu.


"Sunny," panggil Dara balik lalu tersenyum dan lalu memeluk tubuh anak itu.


"Ini kak Dara kan?" tanya anak yang lain. Dara lalu mulai dikerumuni oleh anak panti yang masih mengenalnya. Ibu panti dan pengurus lainnya yang melihat kerumunan itu lalu mendekat.


"Dara!" panggil ibu panti. Dara mendekati ibu panti dan menyalaminya.

__ADS_1


"Kaukah ini? Ibu khawatir sewaktu kau pergi tanpa pamit," kata ibu panti menepuk bahu Dara.


"Aku pergi karena seseorang berusaha untuk melecehkanku," ujar Dara membuat semua orang menutup mulutnya.


__ADS_2