
"Ale kau masih menyebalkan seperti dahulu," ujar Dara melemparkan bantal arah Alehandro dan ditangkap oleh pria itu.
Alehandro lalu duduk santai di sebelah Dara dengan menaikkan kedua kakinya ke atas. Membuat Dara kembali kikuk.
"Sana duduk di kursi lain," usir Dara mendorong tubuh Alehandro.
"Kenapa?"
"Kita bukan kakak adik, okey," jawab Dara.
"Kita sama-sama sudah dewasa Dara apa kau menginginkannya?" tanya Alehandro serius.
Dara meraih bantal lainnya dan memukul kepala Alehandro keras.
"Pikiranmu itu harus diluruskan!" ucap Dara kesal.
"Kau itu sangat mengerikan," ujar Alehandro mengusap kepalanya.
"Pertanyaanmu yang mengerikan," ucap Dara. Dia lalu menghela nafas panjang.
"Aku baru sadar jika kau itu cantik dan seksi Dara," kata Alehandro memandangi Dara.
"Ya Tuhan Ale, sadarlah!"
"Kau yang menyadarkan aku kalau aku bukan kakakmu," ucap pria itu.
"Astaga. Kau lama menduda sehingga pikiranmu kacau. Carilah wanita cantik yang bisa memuaskan nafsumu," kata Dara bersandar pada kursi.
"Aku mungkin bisa mencari banyak wanita cantik untuk diriku tetapi aku punya Kaisar yang butuh ibu dan Ibuku dia butuh menantu yang baik," jawab Alehandro ikut bersandar di sebelah Dara. Dara lalu menoleh sehingga untuk kesekian kalinya pandangan mereka bertemu.
"Maksudmu?"
"Hanya kau yang cocok untuk menjadi istriku," ucap Alehandro terus terang.
Dara menutup wajahnya dengan bantal yang dia pegang. Ingin dia berteriak keras. Dia lalu duduk bersila menghadap pria itu.
__ADS_1
"Dengar Ale," ucap Dara tetapi terhenti ketika jari Alehandro menyentuh bibir Dara. Membuat wanita itu terkesiap.
"Ibuku bukan wanita yang akan menghina asalmu, aku bukan pria plin plan yang tidak bertanggung jawab. Apakah itu belum cukup?"
"Ale, aku tidak ingin menikah dan membentuk hubungan dengan pria manapun untuk saat ini," ujar Dara.
"Apa kau masih mencintai Kris?" tanya Alehandro.
"Dia sudah kubuang jauh ke laut," ucap Dara. Membuat Alehandro tertawa kecil.
"Dia sedang dalam proses perceraian dengan Sheila jika kau memang masih mencintainya," beritahu Alehandro. Mata Dara melebar mendengar berita itu dari Alehandro.
"Ada harapan untukmu bersama Kris, membentuk bahagia rumah tangga bersama Rose. Dia butuh ayah, mungkin saat ini dia belum banyak bertanya tetapi semakin besar dia akan mencari keberadaan ayahnya," kata Alehandro.
"Saat inipun dia suka bertanya bagaimana rasanya mempunyai ayah," ungkap Dara sedih.
"Kalau begitu kembali ke Jakarta, Kris juga sering menanyakanmu padaku," kata Alehandro. Dara lalu melihat ke arah Alehandro.
"Kembali padanya dan menikahlah, toh Wasesa sudah tiada dan Kris mewarisi salah satu perusahaan Wasesa. Kau akan hidup mapan dan bahagia bersamanya."
"Tadi kau ingin agar aku menjadi istrimu kini kau menawariku untuk kembali pada Kris sebetulnya apa maumu?" tanya Dara.
"Apa... apa kau sudah tahu dimana aku tinggal semenjak dulu?" tanya Dara.
Alehandro tersenyum canggung menatap Dara.
"Ya," jawab Alehandro. Dara terdiam, matanya menyipit seketika melihat ke arah Alehandro.
"Apa kau turut campur pada kehidupanku?" tanya Dara. Kini dia mengerti mengapa semua terasa mudah untuknya. Mendapatkan rumah yang dia jadikan toko di lokasi strategis dengan harga murah. Pinjaman kredit dari bank yang meringankan. Dia juga selalu mendapat pesanan dari hotel Alehandro.
Dara memegang keningnya dan menangis. "Aku kira selama ini aku bekerja keras dan berhasil ternyata semua itu karena ada campur tangan mu. Kau jahat Alehandro."
"Dara semua itu juga dari kerja keras yang kau lakukan!" ucap pria itu.
"Kenyataannya jika kau tidak membantuku, aku tidak akan sesukses itu," teriak Dara marah.
__ADS_1
"Tidak sepenuhnya itu karena bantuanku, jika kau tidak melakukannya dengan baik maka kau tidak akan memperoleh kepercayaan dari pelangganmu. Ingat pelangganmu bukan hanya aku!" ledek Alehandro.
"Kenapa kau sekarang jadi cengeng seperti ini?'' tanya Alehandro.
"Kau membuatku menangis saja," ucap Dara.
"Ibu selalu menangis sendiri setiap malam," kata Rose yang baru bangun tidur.
"Oh, ya!" Alehandro melihat ke arah Dara. Dara memalingkan wajah sembari mengusap jejak air mata di pelupuknya.
Alehandro bangkit dan mendekati Rose lalu menggendongnya dan kembali duduk di sebelah Dara.
Rose melihat ke arah Alehandro lalu bergantian ke arah Dara.
"Apakah dia ayahku Bu?" tanya Rose. Mendengar pertanyaan itu membuat mata Dara membelalak lebar.
"Bukan! Ayahmu sedang pergi ke luar negeri," jawab Dara asal.
"Seperti ayah Prita yang pergi berlayar ke luar negeri?" tanya polos Rose.
"Ya, ayahmu sudah pergi jauh kelaut," jawab Dara. Alehandro memandangi Rose dan Dara secara bergantian.
"Tetapi Ayah Prita terkadang datang pulang kenapa ayah Rose tidak pernah pulang?"
"Karena?" Dara menggerakkan kakinya mencari sebuah jawaban yang pas.
"Karena kapal ayahmu tersesat dan belum menemukan jalan kembali," sambung Alehandro.
Dara kaget mendengar jawaban Alehandro tetapi selanjutnya dia menganggukkan kepalanya. "Ya, benar seperti itu."
"Lalu paman ini siapa?"
"Aku ayah dari Kaisar," jawab Alehandro geli.
"Bukan itu," kata Rose sembari menggelengkan kepalanya sehingga rambutnya yang panjang bergerak-gerak dengan riang.
__ADS_1
"Lalu?"
"Kenapa kalian seperti ayah dan ibu Prita, duduk berdua berdekatan?" Dara dan Alehandro saling memandang secara otomatis Dara duduk menyingkir ke pojok sofa.