
Bella menghentikan langkahnya tatkala namanya mulai di panggil. Dia menghela nafas panjang dan membalikkan tubuhnya menatap pria yang hanya memakai handuk di tulang panggulnya yang terlihat kokoh.
"Aku ada janji dengan klienku," ujar Bella menarik dua sudut bibirnya menghasilkan senyum yang terlihat sangat dipaksakan.
David mendekati tubuh Bella yang nampak kacau. "Bersihkanlah terlebih dahulu tubuhmu baru pergi dari sini." Merapikan rambut Bella. "Aku suka melihat penampilan ini yang terlihat natural tapi sangat tak pantas jika kau keluar dengan rambut kusut yang memperlihatkan muka bantalmu itu.
Bella mengatupkan dua bibirnya dan mengigit bagian dalam bibirnya. Dia terlalu bingung untuk memberi alasan apa yang tepat kali ini.
David sendiri curiga jika wanita itu ingin pergi tanpa pamit.
"Apa perlu aku mandikan?" goda David membuat wajah putih Bella merona merah tanpa sapuan blush on.
"Aku harus pergi saat ini," kata Bella memelas.
"Turuti atau kau akan kukurung di sini satu malam lagi!" ancam David.
"Kau tidak punya hak untuk melarangku!" ujar Bella. David lalu melangkah ke depan mendekati. Bella lalu memundurkan langkahnya.
"Kenapa sekarang kau takut padaku?" tanya David.
"Aku tidak takut hanya saja aku kira ... ." Bella menghentikan kata-katanya.
"Apa?"
"Aku melakukan kesalahan karena datang kemari, tidak seharusnya seperti ini. Tapi terimakasih karena kau telah memberikanku malam yang indah," ucap Bella bingung.
"Kesalahan?"
"Ya, tidak seharusnya aku melakukan ini dengan pria beristri sepertimu. Kini aku telah menyadarinya, so seperti yang kukatakan tadi. Jika ini hanya One Night Stand," lanjut Bella.
David yang geram mendengar ucapan Bella langsung maju dan meraih pinggangnya. Dia lalu meraih tubuhnya dan melempar tubuh tinggi semampai itu ke tempat tidur.
Bella memekik keras karena terkejut. Sebelum pikirannya stabil David sudah berada di atas tubuhnya.
"Sudah semua yang kau katakan?" tanya pria itu geram dengan gigi yang gemeletuk. Matanya menatap tajam pada Bella.
"Kau katakan jika itu hanya have fun belaka. Aku akan mengajarimu bagaimana have fun sebenarnya, hingga kau sendiri yang datang padaku karena merindukannya," ujar David memulai aksinya memberi pelajaran pada Bella hingga membuat gadis lemah dan lelah.
"Aku lelah dan menyerah. Biarkan aku tidur kali ini," lirih Bella sembari menutup matanya. Pria itu benar-benar tidak lelah. Dia hanya membiarkan Bella beristirahat sejenak dan membangunkannya lagi dan menghajarnya. Memberinya makan dan minum lalu melakukannya lagi.
__ADS_1
"Mandilah dulu," ujar David menggendong tubuh lemah Bella dan meletakkannya di bath up. Mulai mengisinya dengan air hangat.
"Biarkan aku melakukannya sendiri," ujar Bella.
David menatap tajam pada Bella membuat wanita itu terdiam. Dia membiarkan David memandikannya lalu mengeringkan tubuhnya di kamar. Dia sudah sangat lelah dan ingin lekas tidur.
Namun David membuka pangkal pahanya lebar-lebar.
"Jangan lagi!" lirih Bella menutupi miliknya yang sakit.
David lalu berjalan ke nakas dan mengambil salep.
"Biar aku saja," kata Bella. Di hadapan David dia bagai tidak punya rasa malu lagi. Pria itu telah melihat semua bagian tubuhnya bahkan merasainya. Desah Bella dalam hati.
"Aku yang membuat lukanya biarkan aku yang mengobatinya," ucap David. Dia lalu menyingkirkan tangan Bella dan mulai mengoles area yang sakit dengan salep anti radang. Sesudah mengolesinya jari bekas olesan itu dia masukkan ke mulutnya.
Mata Bella membelalak lebar dan pipinya merona.
"Kau sangat manis, aku sangat menyukainya.''
"Apa kau tak jijik?" tanya Bella.
"Apa kau tidak ingin pulang ke rumah dan bertemu istrimu?" Bella sangat penasaran tentang hal ini.
David kemudian ingat janjinya dengan Sofi jika dia akan menemuinya hari ini. Dan ini sudah hampir sore hari dia masih bersama Bella di sini.
"Kau ingin aku pergi sekarang atau aku menemanimu hingga kau bangun nanti?" tanya David. David menutupi tubuh Bella dengan selimut.
"Aku ... ," Bella bingung sendiri diberi pertanyaan itu.
"Yah, aku akan menuruti semua keinginanmu hanya jangan tiba-tiba pergi seperti tadi." Mata Bella yang sudah mengantuk tiba-tiba membesar.
"Sangat tidak adil jika kau menemaniku dan membuat istrimu khawatir, sedangkan kita tak ada hubungan apa-apa," ujar Bella.
"Mulai saat ini ada, karena semenjak ini terjadi aku tidak tahu apakah ada benihku yang tertanam di rahimmu atau tidak? Kau belum meminum obat anti hamil semenjak semalam," ujar David.
"A-aku lupa dan kau tidak memberikannya padaku. Hmmm ... jika aku meminumnya sekarang apakah aku masih bisa tetap hamil?" tanya Bella tidak mengerti.
"Biarkan saja itu tetap ada di sana," jawab David
__ADS_1
"Mengapa? Kau bahkan sudah punya keluarga sendiri, mungkin kau juga sudah punya Putri atau putra yang menunggumu di rumah?''
"Aku tidak peduli, kau tetap akan menjadi milikku, jika kau mau melegalkan hubungan ini aku siap untuk melakukannya. Jika kau hanya ingin menyembunyikannya terlebih dahulu, tidak mengapa?"
"Bajingan kau!" geram Bella sembari menutup rapat tubuhnya dengan selimut.
"Dari awal kita bertemu aku sudah mengatakan hal ini padamu?" ungkap David. "Dan soal Sofi, aku akan berterus terang soal hubungan kita padanya."
Bella teringat kata-katanya jika bersama David adalah sebuah kutukan buatnya. Kini semua itu menjadi kenyataan. Menjadi perempuan perebut suami orang adalah status terburuk yang akan disandangnya.
"Kenapa?" tanya lirih Bella. Kini dia merasa menjadi tawanan pria itu.
"Karena aku tidak bisa membayangkan kau dimiliki pria lain. Kau bisa mengatakan aku sangat egois, tapi itu yang kurasakan saat ini," jawab David terus terang.
"Apa kau tidak memikirkan betapa hancurnya hati istrimu nanti?"
"Aku tidak bisa untuk melepaskanmu, hanya itu yang ada di pikiranku saat ini." David mengusap lembut rambut Bella.
"Aku lelah memikirkan semua ini dan kau juga telah menghabisiku. Biarkan aku tidur sejenak," kata Bella lalu memiringkan tubuhnya, memunggungi David. Jiwanya resah dan galau. Tapi kelelahan membuat dia tertidur pulas kemudian.
David sendiri mengambil handphonenya dan menelfon asistennya untuk membawakan dua dress dan gaun tidur. Dia memutuskan akan bersama dengan Bella satu malam ini lagi.
Dia mulai menghubungi istrinya, Sofi.
"Sayang, kau sedang apa? Mengapa kau belum datang juga?" tanya Sofi.
"Aku ada urusan mendadak mungkin malam ini aku belum bisa datang ke sana. Maafkan aku, aku akan ke sana besok," kata David. Yah, Bella itu urusan pentingnya.
"Apa kau masih marah padaku karena aku telah meninggalkanmu beberapa bulan ini?" tanya Sofi.
"Tidak! Lupakan semuanya kita akan memulai semuanya dari awal lagi. Namun semuanya sudah tidak sama lagi seperti dulu," ujar David.
"Kenapa? Apakah ada wanita lain yang lebih baik dariku dan akan mengambil posisiku?" tanya Sofi. Dia tahu kebiasaan David yang selalu bermain-main di belakangnya. Tapi dia tidak pernah mempermasalahkannya asal hanya dia yang menjadi ratu di hati dan rumah David. Wanita-wanita itu layaknya selir yang akan dibuang setelah raja mereka bosan.
Ini sudah menjadi kebiasaan bos-bos besar menyimpan wanita dan Sofi tahu benar hal itu karena dia hidup di dunia itu. Untungnya David selalu jujur padanya dari awal.
"Katakan David!" teriak tidak sabar Sofi.
"Ya, kau benar," jawab David jujur. Seketika tubuh Sofi melemas.
__ADS_1