
Saat Kris bangun di pagi ini, langit tampak kelabu serta mendung, belum ada setetes hujan pun turun semenjak dia meninggalkan apartemen. Langit ini seperti menggambarkan suasana hatinya yang kelam.
Dia lalu berjalan menuju mobil yang dia parkir di lantai bawah apartemen. Tujuannya kali ini pergi ke rumah Dara. Dia sudah tidak sanggup lagi menahan semua perasaan yang ada. Dia akan memaafkan Dara untuk tindakannya yang pergi ke pria lain asalkan wanita itu mau kembali pada dirinya.
Kris masuk ke mobil dan mulai memutar kuncinya. Sejenak dia mengambil nafas terlebih dahulu sebelum dia mulai melajukan kendaraannya. Sebuah panggilan masuk ke handphone Kris. Panggilan dari Sheila.
Kris mengangkat panggilan itu.
"Kris kita akan mengadakan rapat penting dengan perusahaan dari Korea, aku harap kau tidak melupakannya," ujar Sheila dari balik layar.
"Maaf kau saja yang handle masalah itu aku ada urusan penting."
"Urusan apa yang lebih penting dari masalah ini!" seru Sheila yang terdengar kesal. Sebelum pikirannya berubah oleh kata-kata Sheila Kris lalu mematikan panggilan itu.
Dia lalu menekan pedal gas dan mulai menjalankan mobilnya menuju kota yang Dara tempati.
Kris melirik ke GPS dan melihat jika masih berjarak beberapa kilometer dari tujuannya. Hal yang membuatnya frustasi adalah dia harus berhenti di setiap lampu merah sepanjang perjalanan. Padahal lalu lintas terlihat ramai dan panas. Kenapa dia harus tergesa-gesa dia tidak tahu. Dia sendiri yakin jika Dara tidak akan pergi kemana-mana. Dia bekerja di cafe itu jika sore dan malam hari.
Jutaan pertanyaan melayang dalam benak Kris namun dia tidak akan tahu sebelum dia bertemu dengan Dara. Jawaban atas pertanyaan itu tidak akan dia dapat kan jika dia tidak menanyakannya langsung.
Satu jam kemudian Kris menepikan kendaraan dan berhenti di sebuah cafe dengan papan yang dipasang miring dengan gambar pria yang memegang sebatang rokok. Kris lalu memarkirkan mobilnya di sana. Hujan gerimis menyambut kedatangannya di sini.
Ini sudah sore dan menurut karyawan yang bertugas Dara akan datang sekitar pukul 3 sore berarti wanita itu kemungkinan besar sudah ada di sana.
Dia lalu mulai mengamati tempat itu. Banyak pasangan sedang duduk-duduk menghabiskan waktu di depan cafe. Beberapa pria seumuran dengannya masuk ke dalam cafe untuk menghabiskan waktu mereka dengan bersantai bersama kawan-kawannya. Mungkin banyak pria yang akan mendekati Dara.
Sambil menggelengkan kepalanya dan keluar dari mobil BMW-nya, Kris bergegas menuju pintu masuk, menepis tetesan hujan di bajunya. Melangkah melewati kanopi kecil di atas pintu.
__ADS_1
Begitu di dalam Kris memandang sekeliling cafe itu sebelum mengambil tempat duduk di sudut terjauh dari cafe itu. Seorang pelayan wanita menghampirinya dan meletakkan buku menu di meja.
"Kopi saja," gumamnya.
"Baiklah," kata si pelayan sambil melenggang menuju bar untuk menuangkan kopi.
Pelayan itu kembali sesaat kemudian dan meletakkan cangkir dengan sangat sembrono sehingga membuat cairan hitam itu menyentuh pinggir cangkir. Sambil tersenyum meminta maaf pelayan itu meletakkan serbet.
"Kalau ada yang bisa kuambilkan untukmu, panggil saja aku," kata pelayan itu genit. Kris memandang kesal namun dia sedang tidak ingin membuat keributan dan masalah. Dia hanya ingin menemui Dara. Kris hampir menanyai pelayan itu tentang Dara ketika pelayan itu membalikkan tubuh dan membelakanginya. Dia ingin memanggil namun kata-katany di telan kembali ketika dia melihat seorang pelayan lain mendekat ke arah pelayan yang baru saja menyediakan kopi untuknya.
"Dara si penyanyi baru itu telah mengundurkan diri," seru pelayan itu tertahan.
"Kenapa? Bukankah dia adalah penyanyi kesayangan Pak Ray, mereka sering terlihat bersama di ruang ganti. Aku curiga mereka punya hubungan lebih."
"Pak Ray juga sering mengantarnya pergi atau datang kemari bersama Dara. Apa mereka tinggal bersama?" ujar pelayan itu lagi.
Wajah Kris memerah mendengar gosip dari para pelayan itu. Dia hanya bisa mengepalkan telapak tangannya.
"Menurut salah satu sepupu Pak Ray, Dara itu adalah calon istrinya," imbuh pelayan itu lagi.
"Apa mereka akan menikah sehingga Dara keluar dari Cafe ini."
"Kemungkinan besar iya. Eh aku pernah melihatnya muntah-muntah di kamar mandi beberapa kali. Aku kira dia sedang hamil."
"Hamil anak Pak Ray?"
"Mungkin saja ... karena seperti katamu tadi mereka sering bersama di kamar ganti. Dan kita tidak tahu apa yang mereka lakukan di sana," imbuh pelayan itu sengit.
__ADS_1
Brak!
Kris langsung berdiri, menggeser kursinya dengan kasar sehingga menimbulkan suara keras. Dua pelayan itu terlihat terkejut dan menatap Kris.
"Pelayan ini uang untuk membayar kopinya," ujar Kris meletakkan yang selembar seratus ribuan lalu berjalan keluar.
"Tuan kembaliannya," teriak pelayan yang melayaninya tadi. Kris tetap terdiam tidak menjawab panggilan pelayan itu.
Hamil? Kris menarik nafas dalam-dalam, menenangkan diri. Sudah berapa bulan dia hamil jika tiga bulan berarti itu adalah anaknya. Tetapi jika kurang dari itu maka Dara hamil dari pria lain.
Kepala Kris terasa seperti di tusuk oleh ribuan jarum. Dia lalu pergi kembali ke arah mobilnya dan masuk untuk kembali menempuh perjalanan ke rumah Dara meminta jawaban atas semua pertanyaannya.
Perasaan takut menyumbat tenggorokan Kris, dan meremas hingga ke lubang hidungnya berkedut saat dia berusaha menarik nafas. Dia berharap anak ini adalah anaknya bukan anak pria lain.
Dara masuk ke dalam mobil yang akan membawanya ke Jakarta. Dia duduk di sebelah Ray yang bertugas sebagai sopir. Sedangkan Bu Savitri duduk di kursi belakang dengan tumpukan koper karena bagasi mereka telah penuh oleh barang-barang yang mereka perlukan nanti di sana.
Para tetangga dan sanak saudara keluarga Bu Savitri terlihat berdiri di luar mobil.
"Apa sudah kau bawa semuanya Dara dan tidak ada yang tertinggal?" tanya Savitri.
"Sebenarnya mengapa kalian harus pergi dari sini?" tanya Ray mendesah kesal. Dara yang baru masuk ke dalam mobil tersenyum menatap Bu Savitri.
"Tidak ada yang tertinggal, Bu. Aku ingin kembali ke Jakarta untuk memulai usahaku di sana," jawab Dara pada semua orang.
"Bukankah kau baru saja pindah ke sini Dara dan mengapa Bibi harus ikut juga?" tanya Ray bertambah kesal.
Dara tidak tahu harus mengatakan apalagi. Semua ini terasa mendadak untuknya. Entah mengapa tiba-tiba Ibu Savitri ingin agar mereka ke Jakarta hari ini juga. Tidak bisa dibicarakan terlebih dahulu. Tidak ada rencana, mereka akan kesana lalu mencari rumah kontrakan.
__ADS_1
Mobil lalu mulai berjalan pelan meninggalkan perumahan padat penduduk itu sedangkan semua orang mulai terlihat melambaikan tangan mengiringi kepergian mereka.
Tanpa sengaja mobil Kris yang tertutup berpapasan dengan mobil mereka.