
Semua kembali sunyi, yang terdengar hanya suara nafas Cristian yang berat saja.
"Aku tidak tahu harus bicara apa lagi padamu agar kau mau mengerti," ucap Cinta mengawali pembicaraan.
"Bukankah sudah kukatakan jika aku tidak mau melihat wajahmu lagi. Pergilah sebelum kesabaranmu habis dan aku mengusirmu paksa dari gedung ini," ujar Cristian.
Cristian kembali membuka berkasnya dan terlihat fokus kali ini.
Cinta lalu bersimpuh dan menundukkan kepalanya.
"Aku tahu aku salah, aku sudah menyadarinya, tapi jangan lakukan hal ini padaku. A-Aku tidak bisa hidup tanpa anakku," diam dan hanya ada suara Isak tangis.
"Dia hidupku dan matahariku, duniaku gelap tanpanya ... ," ucap serak Cinta. Dia tidak mampu lagi meneruskan kata-katanya.
Sejenak Cristian menghentikan kegiatannya, memejamkan matanya.
"Ku mohon maafkan aku! Kau boleh menghukumku apa saja tapi jangan pisahkan aku dari Calesta." Cinta menyerah untuk kali ini.
Dia bersujud di tanah pada Cristian.
Cristian memalingkan wajahnya, menggelengkan kepalanya.
__ADS_1
"Kau selalu menjual air matamu pada semua pria. Jangan harap aku tertipu untuk kali ini! Aku lelah dengan sandiwaramu itu."
"Kau pikir berpisah dengan anak adalah hal mudah bagiku! Sembilan bulan aku mengandungnya dan lima tahun aku menemaninya setiap saat setiap waktu. Kau datang tiba-tiba mengambilnya dariku. Apa ini cukup adil untukku!" ujar Cinta emosi.
"Adil, itu adil untukmu. Aku ayahnya dan kau pisahkan aku darinya semenjak dari dalam kandungan. Aku ayahnya kau bahkan tidak memberiku akses untuk menemuinya walau sedetik pun. Dan aku ayahnya kehilangan waktu untuk melihat perkembangannya. Itu semua karena mu." Cristian mengatakannya dengan nada datar namun bergetar penuh emosi.
Cinta menelan salivanya mendengar ungkapan hati Cristian.
"Beberapa lama kau baru berpisah darinya, sehari, setahun, dua tahun atau lima tahun? Kau baru berpisah dengannya delapan hari delapan malam dan kau sudah berteriak kesana kemari, seperti aku yang salah di sini.''
"Aku bagai orang gila ketika kau tinggalkan dan diwaktu yang sama ibu shock melihat kau pergi membawa calon cucunya. Dia bertarung dengan kematian selama tiga bulan lamanya. Apa kau peduli pada nasib kami! Tidak!" bentak Cristian diakhir kalimatnya.
"Jika kau peduli sedikit saja kau akan bertanya tentang keluarga kami, atau kau akan mencari kabar tentang kami. Namun kau malah asik menata hidupmu dengan pria lain, kau wanita yang tidak punya hati Cinta. Sungguh aku sangat kecewa dan membencimu."
"Tidakkah ada kesempatan untukku agar kau memaafkanku!" tanya Cinta penuh harap.
"Tidak! Pergilah sebelum aku mengusirmu!"
"Setidaknya ijinkan aku untuk menemui Calesta," pinta Cinta.
"Itu jika aku sudah memaafkanmu. Pergilah! Cari pria lain yang bisa menyenangkan hatimu, dan buatlah anak lain agar kau tidak teringat dengan Calesta terus menerus," ujar Cristian.
__ADS_1
"Kau cemburu padanya!" tanya Cinta sedikit tersenyum di sela tangisnya.
"Untuk apa aku cemburu padanya, aku hanya kasihan pada David karena akan menjadi korbanmu berikutnya."
Cristian kembali lagi berkutat dengan berkas-berkasnya. Cinta berdiri.
"Aku akan menempuh jalur hukum untuk mengambil Calesta kembali," kata Cinta.
"Silahkan, kau bisa melakukan apapun namun aku tidak akan melepaskannya." balas Cristian.
Cinta memejamkan matanya sejenak.
"Baiklah! Toh kau bukan orang yang suka dibantah. Aku bisa apa, tapi aku tetap akan mengambil lagi Calesta dengan cara apapun! Selamat siang." Cinta lalu menyeka air matanya dan berdiri lalu berjalan menuju ke arah pintu. Dia hendak membuka pintu namun Cristian memanggilnya.
"Hei, aku akan menghubungi David agar menjemputmu!"
"Baiklah itu bagus, dia pria baik yang pengertian dan dia terlihat khawatir ketika hendak meninggalkan ku disini sendiri, tolong katakan padanya, aku menunggunya dibawah."
Cinta menyembunyikan senyumnya lalu melangkah keluar dari ruangan itu.
"Baiklah! Permainan baru dimulai, Cristian," batinnya.
__ADS_1