
"Kita bisa memotongnya dan menyatukannya lagi," ujar Riska.
"Itu akan mengurangi keindahan gelang ini, dan akan membuat gelang ini cacat tidak sebagus tadinya," jawab Bella lirih di akhir kalimat. Entah mengapa dia merasa ini sebuah pertanda buruk untuknya.
"Apa kau rela menyerahkan gelang itu pada Cinta, Bella?" tanya Aura.
"Kakak aku akan melepaskannya, ini milikmu dan akan selalu menjadi milikmu." Cinta menatap kedua manik Bella dengan mata yang merebak.
"Tanganmu sudah terluka, kau jangan terus memaksanya lagi," tahan Bella.
Cinta meneteskan air matanya tatkala tahu kakaknya masih khawatir dengan keadaannya.
"Kak, ini milik menantu keluarga Slim jadi aku tidak berhak memakainya," kata Cinta.
"Tante aku rela menyerahkan gelang itu pada Cinta. Tolong katakan padanya agar jangan memaksakan diri lagi!"
"Mungkin aku memang harus rela melepaskan gelang itu untuk kau pakai Cinta. Tapi apakah Cristian rela jika gelang itu dipakai olehmu?" tanya Aura lagi.
"Cristian!" gumam Cinta lirih. Pria itu mungkin sudah sangat membencinya saat ini.
"Dia pasti tidak rela dan suka jika aku memakainya, aku akan berusaha melepaskannya kalau begitu," ujar Cinta berusaha melepaskannya lagi.
"Hentikan Cinta! Kulit tanganmu sudah terkelupas," cegah Bella.
"Kak, sungguh aku tidak bisa memakainya," teriak Cinta emosi dan menangis.
"Kita hubungi saja Cristian jika dia memperbolehkan kau mengenakannya maka kau tidak perlu melepaskannya," saran Aura.
Tadinya Aura hanya ingin melihat reaksi Cinta dan Bella ketika gelang itu tersemat di pergelangan tangan Cinta. Namun drama kembali terjadi. Gelang itu seperti menemui pemiliknya. Gelang itu enggan berpisah dari Cinta. Apa ini suatu pertanda?
Layar handphone mulai memperlihatkan gambar Cristian yang sedang duduk di balkon atas kamarnya. Cinta mengenali ruangan itu.
Penampilan pria itu nampak berantakan dengan bulu-bulu halus di sekitar wajahnya. Pria itu tidak melihat ke layar handphonenya.
"Cristian, ada masalah besar," ujar Aura.
"Masalah apalagi Mom, aku sudah lelah, aku ingin sendiri dulu!" ujar Cristian menundukkan kepalanya.
__ADS_1
"Gelang milik keluarga kita. Ada di tangan Cinta dan sulit untuk di keluarkan apakah dia boleh memakainya?" tanya Aura halus dan pelan. Dia memperlihatkan gelang di pergelangan tangan Cinta.
Cristian menutup matanya tatkala mendengar nama Cinta di sebut. Hatinya kembali merasa sakit dan pedih. Ada desiran nyeri di dadanya yang membuat nafasnya sesak.
"Kau lihat tangannya yang memerah dan terluka karena berusaha mengeluarkan gelang itu dari pergelangan tangannya.'' Aura memperjelas luka di tangan Cinta.
"Dia memang selalu berusaha melukai dirinya sendiri, dia tidak berfikir jika tindakannya juga melukai orang lain," jawab Cristian tanpa mau melihat ke arah layar handphonenya. Pria itu terlihat menekan pangkal hidungnya.
"Aku tidak peduli dia akan memakainya atau memotong tangannya untuk melepaskan gelang itu. Biarkan dia berbuat semaunya. Aku tidak peduli lagi," kata Cristian dengan suara serak dan getir. Nada suaranya rendah dan terdengar sedih. Dia tidak tahu jika semua orang mendengar pembicaraan itu.
Dada Cinta merasa penuh dan sesak. Dia menahan air mata itu mengalir kali ini. Karena bisa membuat Bella makin curiga.
"Aku akan melepaskannya Cristian," ucap Cinta lalu menunduk. Satu buliran bening itu lolos di punggung tangannya. Dia langsung menyeka dengan kaos miliknya.
Panggilan dimatikan oleh Cristian tatkala mendengar suara Cinta.
Cinta menengadahkan wajahnya dan tersenyum.
"Aku akan berusaha untuk mengeluarkan gelang ini tanpa menggoresnya, barang sedikitpun sebelum hari pernikahan kakak aku pasti akan mengembalikannya,'' kata Cinta mantap lalu keluar dari kamar Bella dengan kepala menunduk.
Bella masih mencerna perkataan Cristian tadi. Ada baiknya dia bertemu dulu dengan pria itu. Namun nanti malam ada acara untuk calon mempelai wanita. Dia dan Cinta harus ada disana.
"Kau ada acara pingitan dan tidak boleh keluar dari rumah ini sebelum acara pernikahan Bella," ujar Riska. Aura mengangkat dua tangannya menengadah ke atas.
"Ma, sebentar saja!" rajuk Bella. Ibunya menggelengkan kepala.
"Ya, sudah aku pulang dulu Bella sampai jumpa dua hari lagi di acara akad pernikahan," pamit Aura. Sepeninggal Aura, Bella masih merajuk untuk pergi menemui Cristian.
"Tidak Bella, ini adat jika, kau langgar bisa berakibat buruk." Riska mengatakan hal ini dengan tegas.
"Ini sudah jaman milenial dan ibu masih percaya hal itu,'' ujar Bella setengah kesal.
"Ini untuk kebaikanmu jika kau tidak percaya maka kau bisa melanggar dan menemui akibatnya," jelas Riska meninggalkan Bella. Pernikahan ini membuat pusing kepalanya dan ulah Cinta tadi membuat emosinya mendidih sekarang ditambah rajukan Bella membuat dia setengah ingin menjerit karena kesal.
Aura sendiri bertanya kepada pelayan yang sedang melintas di mana Cinta berada? Mereka menunjuk kamar di sebelah kamar Bella.
Aura menuju kamar Cinta dan membuka knop pintu itu. Tidak terkunci. Aura lalu melirik ke kanan kiri setelah dirasa aman dia lalu masuk ke dalam kamar Cinta.
__ADS_1
Cinta hanya terdengar suara isak tangis yang sangat lirih. Aura mencari asal suara itu. Cinta menangis di lantai pojok tempat tidur dengan menelungkupkan kepalanya di bantal.
Perlahan Aura mendekati Cinta dan mengusap lembut rambutnya.
"Cinta!" panggil Aura pelan membuat Cinta terkejut. Dia langsung mengusap air matanya.
"Ta-tante mengapa di sini?" Cinta gugup sekaligus takut.
"Hanya ingin berbicara berdua denganmu," kata Aura santai duduk dekat Cinta.
Cinta menengok ke balkon kamarnya takut jik ada yang melihat mereka.
"Sebaiknya tante pulang saja," ucap Cinta setengah mengusir.
"Kau mengusirku?" tanya Aura. Cinta me ganggukkan kepalanya lalu menggelengkannya lagi. Aura tersenyum dan mengacak rambut Cinta pelan.
"Kau itu polos Cinta. Aku tidak akan percaya kau mengugurkan kehamilanmu tapi Cristian menyaksikannya." Aura menghentikan kata-katanya dan menatap ke arah Cinta. Cinta menelan salivanya, tegang dengan perkataan Aura nanti.
"Aku masih berharap jika itu tidak terjadi," ucap Aura sedih. Cinta menundukkan pandangannya. Aura memegang dagu Cinta dan mengangkatnya ke atas.
"Katakan yang sebenarnya Cinta sebelum kesabaranku habis," kata Aura.
"Itu memang yang terjadi, Tante!" ucap Cinta serak dan menutup kedua matanya. Dia tidak sanggup menatap mata ibu Cristian ini.
"Aku tahu kau berbohong Cinta,"
''Datanglah ke rumahku besok jika kau masih ingin Cristian datang dan duduk di kursi pelaminan," ancam Aura.
"Aku!" Cinta hendak mengatakan tidak akan datang karena takut jika bertemu Cristian.
"Hanya kita berdua di sana, tidak ada orang lain. Kau juga tidak boleh membawa siapapun untuk datang. Ingat Cinta! Kau harus datang karena aku tidak pernah bermain-main dengan ucapan ku. Aku hanya ingin penjelasanmu untuk semua masalah ini." Aura bangkit dan meninggalkan Cinta sendiri.
***
Likenya dong... belum separuh dari subs nih... cuma pencet aja kok.
Yang punya Vote, dermakan ke novel ini sebagai bentuk dukungan.
__ADS_1
Komentar kalian ku tunggu. Love you