Petualangan Pendekar Kecapi

Petualangan Pendekar Kecapi
Bab 10


__ADS_3

"Dan aku adalah Hua Li putri dari Hua Tian yang juga ketua sebelum paman Chen Kun. Kami datang hendak menangkap kalian dasar buaya sungai berkepala busuk!" seru Hua Li dengan geramnya.


"Dasar gadis ingusan! Akan kubunuh kau terlebih dulu!" teriak Tek San dengan garangnya


"Hah! coba saja, aku tak takut sama sekali!" balas seru Hua Li yang sudah dalam posisi bersiap untuk menyerang.


"Hm, tadi pada saat aku lihat sampokan Tek San ketika menangkis lontaran tombak Hua Li tadi, rupanya mereka itu memiliki tenaga besar dan kepandaian yang luar biasa juga. Sepertinya jika harus melayani mereka di atas papan terompah air, tidak akan leluasa." gumam dalam hati Chen Bun.


"Li'er, marilah kita mendarat saja!" seru Chen Bun seraya melihat situasi.


Sebenarnya gadis itu tidak jerih sama sekali walaupun harus melayani mereka semua di atas papan terompah air, tetapi dia harus mengerti kalau Chen Bun memang belum mahir seperti dirinya yang menggunakan kepandaian itu.


"Hei, kalian! ayo kita lanjutkan ke daratan!" seru Hua Li dengan lantang.


"Tak akan aku biarkan kalian ke daratan!" seru Tek San yang kemudian memberi isyarat pada anak buahnya untuk menyerbu.


"Serang mereka...!"


Tak berapa lama biduk-biduk itu meluncur datang dan ujung-ujung senjata mereka digerakkan untuk menyerang Hua Li dan Chen Bun.


Kedua anak muda itu telah bersiap dan keduanya telah mencabut pedang mereka. Dengan beberapa kali gerakan pedang saja, Chen Bun dan Hua Li telah membuat beberapa orang bajak tercebur ke dalam air.


Kemudian kedua anak muda itu menggerakkan tubuh dan melompati perahu yang telah kosong itu untuk melepaskan diri dari kepungan, lalu dengan enak sekali mereka menuju ke tepi sungai.


Melihat hal itu Tek San sangat marah dan mengejar mengejar ke tepi sungai bersama kakak seperguruannya.


Lauw Seng melihat ada seseorang di biduk kedua anak muda itu, dan dia memerintahkan beberapa anak buahnya untuk menyerang orang yang ada di biduk kecil itu.


"Tangkap orang tua itu dan bawa dia ke sini, tapi jangan lukai dia!" teriak Lauw Seng.


Mendengar perintah dari Lauw Seng, beberapa orang anak buah mereka segera mendayung biduk mereka ke arah biduk di mana Hua Tian masih duduk berpeluk tangan tak bergerak.

__ADS_1


Chen Bun dan Thian Hwa melihat hal ini hanya tersenyum saja dan saling pandang.


Sementara itu para bajak segera mengurung kedua anak muda itu dan merupakan lingkaran besar, sedangkan kedua anak muda itu berdiri di tengahnya tetap dengan sikap yang tenang sekali.


"Apakah kalian masih berkeras kepala dan ingin mampus di sini!" bentak Tek Ma dengan berkacak pinggang.


"Hei buaya hitam! Kau ini benar-benar tidak memakai peraturan dan kesopanan sesama kaum sungai kuning ya! Tanpa alasan dan sebab kau telah memusuhi ayahku, yang sedang bersantai di biduk kami. Bukankah hal ini sangat merendahkan nama kalian sendiri!" seru Hua Li yang menatap Tek San dengan senyum sinisnya.


"Memang aku sengaja ingin membunuh orang tuamu, habis kau mau apa!" seru Tek San dengan ketus.


"He...he...he....!"


Lauw Seng dan para anak buahnya terkekeh menertawakan.


"Perbuatan kalian yang mengganggu perkampungan bambu kuning itu sebagai bukti kalau kalian menantang pihak kami, karena itulah aku mewakili ayahku datang ke sini hendak mencoba menjajal sampai di mana kekuatan kalian, yang ternyata tidak seberapa!" seru Chen Bun yang secara langsung membuat darah Tek San mendidih.


"Eh, anak kecil sombong, jangan Kau kira kepandaianmu sudah tiada lawannya dengan hanya memiliki ginkang dan permainan kanak-kanak di atas air itu saja! Majulah kau kalau hendak berkenalan dengan Tek San!" seru Tek San dengan geramnya sambil mencabut golok besarnya yang berkilauan karena tajamnya.


Tiba-tiba terdengar suara teriakan dari arah sungai. Mereka semua memandang dan terkejut melihat beberapa orang anak buah bajak sungai itu bersimbah darah.


Dan Hua Thian dengan sehelai kain diikat menutupi kedua matanya, dengan tangan kanan memegang pedang yang masih terlihat darah segar menetes diujung pedang yang diarahkan kebawah itu.


"Hei, orang tua, siapakah engkau sebenarnya?" gumam Lauw Seng yang penasaran.


"Ha....ha...! mau tahu namaku? baiklah biar kalian tak jadi hantu penasaran, namaku adalah Hua Tian." seru Hua Tian dengan lantang.


"Ketahuilah dulu ayahku selalu berjuang bersama Pendekar pedang Azuya!" seru Hua Li dan terkejutlah Tek San mendengar hal itu dan begitu juga semua anak buah mereka.


Lebih-lebih para bajak sungai yang tadi menyerang Hua Tian, seketika mereka gemetaran dan wajah mereka pucat sekali. Beberapa dari mereka segera maju dan menjatuhkan diri berlutut di depan Hua Tian sambil menganggukkan kepala mereka tanda minta ampun.


Lauw Seng yang melihat anak buahnya yang berlutut itu menjadi sangat sebal dan dia yang belum pernah mendengar nama Hua Tian, kemudian dia memajukan kaki dan tiba-tiba kedua tangannya memukul ke arah kepala Hua Tian dari kanan dan kiri.

__ADS_1


Kakak seperguruan Tek San itu hendak memperlihatkan kepandaiannya dan ingin sekali membunuh Hua Tian dengan serangan mautnyq dengan jurus Dewa Mabuknya.


Tapi Hua Tian yang masih dalam keadaan kedua matanya yang tertutup itu, tiba-tiba mengebutkan kedua lengan bajunya ke arah tangan Lauw Seng yang meluncur maju dan tepat sekali ujung lengan bajunya menyambar ke arah jalan darah di pergelangan lengan lawannya.


Bukan main terkejutnya Lauw Seng sehingga dia buru-buru menarik kembali kedua tangannya, karena kalau diteruskan, belum sampai kepalannya mendarat di kepala lawan, dia akan tertotok terlebih dulu.


Lauw Seng tahu betapa hebat ujung lengan baju itu, karena anginnya telah terasa dan membuat urat tangannya kesemutan.


"Eh, orang baju merah! sekarang mau apa lagi kau!" seru Hua Tian seraya mengarahkan ujung pedangnya pada Lauw Seng.


Dan Lauw Seng meloncat mundur dengan terkejut dan malu.


"Hei buaya keparat, jangan kau berani mengganggu ayahku!" seru Hua Li yang dengan geramnya.


Lauw Seng menjadi marah dan dia melepaskan sabuknya yang ternyata terbuat daripada baja emas dan merupakan senjata yang kuat.


Tanpa banyak kata lagi dia lalu menyerang Hua Li yang sudah siap dengan pedang di tangan. Dan pada saat itu juga, Tek San juga sudah mulai bertempur dengan Chen Bun.


Tek San dan Lauw Seng memang memiliki kepandaian yang tinggi dan ganas, ditambah lagi tenaga mereka besar.


Namun pada saat ini mereka harus menghadapi dua orang muda gemblengan Hua Tian yang telah menurunkan ilmu silat tinggi kepada kedua muridnya itu, dan baru bertempur beberapa puluh jurus saja keduanya sudah terdesak hebat oleh pedang Hua Li dan juga Chen Bun.


...~¥~...


...Mohon dukungannya dan terima kasih telah memberikan Like/komentar/rate 5/gift maupun votenya untuk novel Petualangan Pendekar Kecapi ini....


...Semoga sehat selalu dan dalam Lindungan Allah Subhana wa Ta'alla....


...Aamiin Ya Robbal Alaamiin....


...Terima kasih...

__ADS_1


...Bersambung...


__ADS_2