
Sementara itu Han Beng dan Hok Cu terus berjalan menuju ke arah dimana keberadaan guru pertama Hok Cu. Mereka kadan kejar samping mengejar, dan terkadang mereka berjalan beriringan.
"Kaisar macam apa yang kita miliki sekarang?" Gadis itu mengepal tinju.
"Rakyat diperas dan dipaksa untuk bekerja sampai mati menggali terusan. Guru Biksu Hek Bin pernah menjelaskan kepadaku bahwa bagaimanapun juga, niat menggali terusan itu masih dapat dibenarkan karena kalau hal itu sudah dilaksanakan, maka rakyat pula yang akan banyak menerima keuntungan. Terusan itu dapat dimanfaatkan oleh rakyat, bukan saja untuk mengairi sawah ladang di daerah yang dilalui terusan, akan tetapi juga mereka dapat mengangkut hasil ladang ke kota lain dengan lebih mudah dan murah. Biarlah, walau pelaksanaannya mengorbankan banyak rakyat, terusan itu kelak akan berguna pula bagi rakyat. Akan tetapi istana yang besar dan indah? Apa gunanya untuk rakyat? Hanya untuk kesenangan kaisar dan keluarganya saja! Dan pembangunan itu menggunakan uang negara yang besar! Sungguh membikin hatiku penasaran dan aku harus melihat pembangunan itu dengan mata sendiri." gerutu Hok Cu.
Han Beng dapat mengerti akan kemarahan di hati Hok Cu. Dia sendiri, kalau tidak digembleng oleh Kwe Ong tentang kehidupan dan isinya, pasti akan merasa penasaran pula. Akibat pembangunan dan penggalian Terusan Besar gadis itu kehilangan ayah ibunya, seperti juga dia.
Gadis itu masih bersabar dan menerima nasib. Nasihat Biksu Hek Bin agaknya menyadarkannya bahwa kematian ayah ibunya sebagai akibat penggalian terusan itu dapat dianggap, sebagai pengorbanan karena kelak terusan itu akan dinikmati pula oleh rakyat banyak.
Akan tetapi pembangunan istana yang megah dan mewah? Memang membuat orang merasa penasaran, setidaknya orang-orang yang masih menghargai keadilan di dunia ini.
Betapa banyaknya rakyat jelata yang hidup di bawah garis kemiskinan, untuk makan esok hari pun masih belum ada ketentuan. Dan kaisar mereka membangun istana untuk pelesir.
Padahal, biaya untuk membangun istana itu kalau dibagikan rakyat yang kelaparan, akan menolong puluhan ribu, bahkan mungkin ratusan ribu nyawa orang.
Pada pagi hari itu, Han Beng dan Hok Cu memasuki kota Lok-yang.
"Hok Cu, aku berpesan kepadamu dengan sungguh, agar kau menahan kesabaran hatimu. Jangan menurutkan hati yang panas kalau melihat bangunan istana itu. Ingat kalau kau menimbulkan keributan, hal itu sama sekali tidak akan menolong rakyat, tidak akan menghentikan pembangunan itu. Sebaliknya, kau hanya akan menimbulkan kekacauan yang membahayakan kita sendiri." pesan Han Beng.
"Aku tidak takut!" jawab gadis itu dengan lantang.
Han Beng tersenyum karena Hok Cu sungguh merupakan seorang gadis yang tabah dan pemberani, terlalu pemberani malah. Teringatlah dia akan anak perempuan yang menjadi sahabatnya dahulu.
Sejak kecil Hok Cu memang nakal, manja, lincah Jenaka dan pemberani. Betapa seorang anak perempuan berani melawan seekor ular anak naga, hanya untuk membantu dia yang telah digigit ular itu.
__ADS_1
Hok Cu juga menggigit ular dengan keberanian luar biasa, dan pada saat ini setelah menjadi seorang gadis yang dewasa, cantik jelita, dan memiliki ilmu silat tinggi, tentu saja keberaniannya semakin hebat.
"Aku percaya bahwa kau tidak takut, Hok Cu. Aku pun tidak menghadapi ancaman bahaya. Akan tetapi untuk apa kita membiarkan diri dalam bahaya kalau bukan untuk suatu tujuan yang memang perlu sekali kita lakukan. Dalam hal pembangunan istana ini kita tidak mempunyai kepentingan apa pun dan tidak akan dapat mencampuri sama sekali. Dan kita masih menghadapi tugas yang lebih penting, yaitu mencari Mo Li maka tidak perlu terjun ke dalam bahaya untuk yang tidak ada sangkut pautnya dengan kita." jelas Han Beng.
"Baiklah, Han Beng. Aku pun hanya ingin melihat seperti apa bangunan istana yang menjadi bahan percakapan semua orang itu. Setelah melihat kita akan melanjutkan perjalanan ke Ceng-touw." balas Hok Cu yang sebelumnya menganggukkan kepalanya.
Tentu saja Han Beng menjadi girang sekali. Makin lama dia merasa semakin kagum dan suka kepada gadis yang dulu menjadi sahabat baiknya di waktu kecil ini.
Seorang gadis yang lincah Jenaka dan pandai bicara, akan tetapi juga bijaksana dan mau menerima pendapat orang lain. Biasanya, gadis yang lincah dan pandai seperti ini suka berwatak tinggi hati dan merasa pintar sendiri sehingga nampak kebodohannya.
Akan tetapi Hok Cu tidak. Ia dapat menerima pendapat orang lain dan menyetujuinya kalau dianggapnya pendapat itu patut dituruti karena memang tepat dan benar.
"Kalau begitu, kita tidak perlu bermalam di sini, bukan? Hari ini masih pagi, kita dapat melihat-lihat sehari ini dan siang nanti kita melanjutkan perjalanan menuju ke Ceng-touw. Bagaimana pendapatmu?" tanya Han Beng yang penasaran.
Dan keduanya tak lama kemudian sudah terpukau memandang bangunan istana itu dari luar pagar, dari tempat yang agak jauh karena selain para pekerja, mereka atau orang luar tidak diperkenankan memasuki pagar.
Dari jauh pun sudah nampak bangunan yang hebat itu Istana induknya sudah jadi dan menjulang tinggi di atas pohon-pohon, sudah nampak megah walaupun belum dicat. Para pekerja yang seperti semut banyaknya, sepagi itu sudah bekerja, karena memang siang malam pembangunan itu dikerjakan tiada hentinya.
Mereka kini sudah mulai dengan bangunan-bangunan lebih kecil yang mengelilingi bangunan induk, sudah jadi lebih dan dua puluh buah.
"Wah...!" seru Han Beng yang tertegun karena selama hidupnya belum pernah dia melihat bangunan semewah itu.
"Alangkah besar dan luasnya!"lanjut seru Han Beng.
"Hemmm, entah berapa banyak emas dan perak dikeluarkan untuk membiayai bangunan itu. Akan tetapi lihat, Han Beng! para pekerja itu bekerja dengan giat dan gembira. Jelas bahwa mereka bukanlah pekerja-pekerja paksa, bahkan mungkin mereka mendapatkan perlakuan baik dan gaji yang cukup besar," kata Hok Cu.
__ADS_1
Ternyata bukan hanya mereka saja yang berada di luar pagar dan melihat pembangunan istana itu. Ada pula belasan orang lain dan di antara mereka terdapat empat orang pemuda yang usianya antara dua puluh sampai dua puluh lima tahun.
Mereka itu berpakaian seperti para pemuda kota, dengan lagak yang tinggi hati dan nakal. Seorang pemuda mungkin tidak akan begitu berani berlagak atau berbuat sesuatu yang tidak layak, tidak begitu nampak kenakalannya.
Akan tetapi kalau pemuda itu berkumpul dengan pemuda-pemuda lain yang menjadi kawannya, maka dia pun akan menjadi berbeda daripada kalau dia seorang diri saja.
Kalau dia seorang diri, walaupun nafsu mendorong dan membujuknya untuk melakukan hal-hal yang tidak patut, masih ada rasa takut, rasa malu dan sebagainya yang menghalangi dia melakukan tindakan yang didorong nafsu dan setan.
Akan tetapi, kalau sudah berkelompok, maka rasa takut, malu atau yang lain itu pun menipis atau bahkan lenyap sama sekali
Menghadapi segerombolan orang muda, setan menjadi lebih leluasa menggoda hati.
...~¥~...
...Mohon dukungannya dan terima kasih telah memberikan Like/komentar/rate 5/gift maupun votenya untuk novel Petualangan Pendekar Kecapi ini....
...Semoga sehat selalu dan dalam Lindungan Allah Subhana wa Ta'alla....
...Aamiin Ya Robbal Alaamiin....
...Terima kasih ini...
...Bersambung...
... ...
__ADS_1