Petualangan Pendekar Kecapi

Petualangan Pendekar Kecapi
Bab 126


__ADS_3

Melihat dua orang anak yang diperebutkan itu melarikan diri mereka yang mengeroyok Mo Li segera meninggalkan iblis betina itu dan melakukan pengejaran.


Mo Li mengeluarkan teriakan marah. Tubuhnya berkelebat dan dua orang penumpang perahu terlempar keluar. Ia lalu dengan cepatnya melakukan pengejaran pula.


Terjadilah kejar-kejaran yang hiruk-pikuk dan mengangkan. Perahu yang didayung oleh dua orang anak kecil itu ternyata dapat melaju dengan amat cepatnya sehingga membikin banyak orang menjadi heran dan juga bingung.


Perahu itu menyelinap diantara perahu-perahu yang menghadang, mengepung dan mengejar dan sampai lama tidak dapat orang menangkap mereka. Akan tetapi Kian Beng dan Hok Cu jadi bingung karena mereka tidak dapat menemukan dua buah perahu keluarga mereka.


 Mereka berputar-putar dan pandang mata mereka semakin berkunang, kepala semikin pening dan tubuh semakin panas. Tiba-tiba ada benda hitam menyambar dar atas dan tahu-tahu selembar jala hitam telah jatuh menimpa tubuh Kian Beng dan Hok Cu.


Dua orang anak ini terkejut akan tetapi karena sudah pening, ketika jala itu menyelimuti mereka dan kemudian ditarik mereka pun jatuh ke air, di dalam jala yang amt kuat itu.


Mereka meronta, namun tidak berdaya dan mereka terseret ke dalam air oleh tiga orang yang memegangi tali dan ujung jala. Bagaikan tiga ekor ikan saja, tiga orang ini menyelam dan menyeret jala yang terisi dua orang anak itu.


Kian beng dan Hok Cu gelagapan, tapi karena mereka sudah biasa bermain di dalam air, mereka segera menahan napas dan membiarkan diri mereka diseret.


"Kedua anak itu di tahan Tiga setan sungai kuning!"


Terdengar teriakan dan keadaan menjadi semkin kacau.


Mereka semua mengenal siapa adanya Tiga setan Sungai Kuning, yaitu tiga orang tokoh sesat yang amat terkenal di sepanjang sungai kuning.


Jurus silat tiga orang ini tidaklah amat tinggi, akan tetapi mereka memiliki ilmu di dalam air yang membuat semua orang merasa jerih kalau harus melawan mereka di air.


Mereka tiada ubahnya ikan-ikan saja. Dan kini mereka menawan dua orang bocah yang dijadikan rebutan itu dan membawa dua orang anak-anak itu menyelam ke dalam air.


Tak ada ya g tahu kemana Tiga Setan sungai kuning itu membawa Kian Beng dan juga Hok Cu.   


Perahu-perahu hilir mudik mencari-cari dan mengharapkan melihat tiga setan itu muncul di permukaan air membawa dua orang tawanannya agar mereka dapat menyerang dan merampas dua orang anak itu.


Tiga setan sungai kuning itu berenang di dalam air, menyeret dua orang tawanan mereka, menuju ke tepi sungai sebelah selatan. Sebagai tiga setan sungai Kuning, mereka agaknya hafal akan keadaan sungai itu.

__ADS_1


Bahkan ketika berada di dalam air, mereka dapat mengira-ngira ke tepi bagaian mana mereka dapat tanpa diketahui orang lain. Mereka memilih tepi yang sunyi, tepi yang merupakan bagian dari hutan lebat.


Tiga setan sungai kuning mendarat di tepi yang landai dan yang bersambung dengan padang rumput di tepi jalan itu.


Mereka mendarat dan menyeret jala yang berisi Kian Beng dan Hok Cu. Dua orang anak itu kini pingsan dengan perut agak kembung kemasukan air ketika mereka diseret di bawah permukaan air.


Dua orang anak itu masih berada di dalam jala dan tidak bergerak seperti dua ekor ikan besar terjala.


Tiba-tiba berkelebat bayangan dua orang dari kanan kiri.


 "Serahkan seorang anak kepadaku!" bentak orang yang datang dari kiri.


Dia adalah Gan Lok si Harimau ekor sembilanyang bertubuh tinggi kurus dan di tangan kanannya nampak sebatang pecut berekor sembilan.


"Yang seorang lagi serahkan kepadaku!" bentak orang yang datang dari kanan dan dia ini adalah Kim kauw pendekar dari lembah maut yang berperut gendut dan tubuhnya pendek itu. sebatang tongkat berada di tangannya dan dia bertolak pinggang dengan sikap angkuh.


Tiga setan sungai Kuning itu terkejut mereka memandang kepada dua orang itu, di bawah sinar bulan purnama mereka dapat mengenal kedua orang itu yang merupakan tokoh-tokoh persilatan yang tangguh.


"Saya harap kalian berdua tidak mengganggu kami. Dua ekor ikan ini adalah hasil jala kami dan menjadi hak kami." kata orang pertama dari tiga setan sungai kuning, yang dahinya terdapat bekas luka memanjang yang memberi hormat kepada mereka berdua.


Sadar akan kemampuannya yang dibawah kedua lawannya, tiga setan sungai kuning merasa berhasil mendapatkan dua orang anak itu, dan tentu saja mereka tidak menyerahkan korban itu begitu saja kepada orang lain.


Mereka segera mencabut pedang masing-masing yang tergantung dipunggung, siap melakukan perlawanan.


Dua orang jagoan itu pun menggerakkan senjata masing-masing menyerbu ke depan, disambut oleh tiga setan sungai kuning dan terjadilah perkelahian mati-matian di tepi sungai yang sunyi itu.


Sementara itu Kian Beng lebih dulu siuman dari pingsannya. Dia merasa betapa tubuhnya masih panas terbakar dari dalam, akan tetapi perutnya kembung penuh air.


Aneh sekali, ketika dia menggunakan tangan menekan perutnya ada hawa panas yang kuat mendesak perut itu dan Kian Beng membuka mulutnya, memuntahkan air dari dalam perut seperti pancuran. Dan air itu pun panas, mengeluarkan uap.


Dan sebentar saja perutnya mengempis dan tidak terasa kembung lagi.

__ADS_1


Pada saat itu, Hok Cu juga mengeluh dan bergerak. Kian Beng membantu anak perempuan itu melepaskan diri dari libatan tali jala dan ketika Hok Cu mengeluh tentang perutnya yang membesar kembung,


 


"Tekan perutmu itu dengan tangan agar airnya keluar lagi melalui mulutmu!" seru Kian Beng yang teringat akan keadaan dirinya.


Hok Cu menurut dan menekan-nekan perutnya, akan tetapi tidak berhasil.


"Mari kubantu," kata Kian Beng dan tanpa ragu-ragu diapun ikut menekan perut kembung anak perempuan itu dengan telapak tangannya.


Seketika ada hawa panas yang kuat menekan perut dan mendesak keluar air dari perut kembung itu. Hok Cu muntah-muntah dan air dari dalam perutnya memancur keluar.


Air ini pun panas, namun tidak sepanas air yang keluar dari perut Hok Beng.


Walaupun kepala mereka masih pening dan tubuh panas sekali namun kedua orang anak ini masih dapat melihat betapa tiga orang yang menjala mereka dan menyeret mereka ke dalam air tadi kini berkelahi melawan dua orang laki-laki yang usianya sudah lima puluh tahun lebih.


Ketika melihat tiga orang yang tadi menangkap dia dan Hok Cu berkelahi melawan dua orang pendekar, Kian Beng mengambil kesimpulan bahwa tentu dua orang gagah itu yang berusaha menolong dia dan Hok Cu.


...~¥~...


...Mohon dukungannya dan terima kasih telah memberikan Like/komentar/rate 5/gift maupun votenya untuk novel Petualangan Pendekar Kecapi ini....


...Semoga sehat selalu dan dalam Lindungan Allah Subhana wa Ta'alla....


...Aamiin Ya Robbal Alaamiin....


...Terima kasih...


...Bersambung...


   

__ADS_1


   


   


__ADS_2