
Karena dua-duanya saling pandang, maka akhirnya mereka sama-sama menundukkan muka dan wajah Hua Li menjadi merah karena segan dan malu.
Belum pernah ia merasa malu di bawah pandang mata laki-laki dan ia merasa betapa dadanya berdebar aneh.
"Nona silakan duduk." ajak pangeran Leng Song dengan ramah dan cepat-cepat dia perintahkan pelayan untuk mengeluarkan hidangan.
"Jangan repot-repot Pangeran," kata Hua Li dengan sikap hormat, lalu ia duduk di atas sebuah bangku yang terukir indah yang menghadap meja, dan Pangeran Leng song duduk di hadapannya
"Pangeran, bagaimana anda bisa tahu bahwa saya sudah bertempur dengan iblis bongkok itu?" tanya Hua Li yang sedikit heran mendengar kata-kata pangeran Leng Song yang seakan-akan tahu akan kejadian-kejadian yang dialaminya di gedung Pangeran Leng Cun.
"Tentu saja aku tahu, Nona. Bahkan aku tahu pula bahwa kau diperintah oleh Pangeran Leng Cun untuk membunuhku!" jawab pangeran Leng Song itu dengan tersenyum.
"Tapi sa..saya tidak menyanggupinya!" seru Hua Li dengan cepat memotong.
"Tentu saja. Aku pun takkan percaya bahwa seorang seperti anda ini dapat berwatak sekejam itu, membunuh saya yang tak kau kenal sama sekali!" balas pangeran Leng Song yang masih perlihatkan senyumnya yang menariknya.
Mendengar pujian ini, kembali Hua Li merasa dadanya berdebar-debar.
"Tapi, bagaimana kau bisa mengetahui semua itu, pangeran?" tanya Hua Li yang penasaran.
"Kau ingin tahu? Nah, mari kuperkenalkan kau dengan para pembantuku!" jawab pangeran Leng Song itu yang kemudian Dia bertepuk tangan tiga kali.
"Plokk....plokk...plok....!"
Tiba-tiba dari segenap penjuru, melalui pintu, jendela dan juga melayang turun dari atas genteng, muncullah lima orang setengah tua yang mempunyai gerakan gesit dan ringan sekali.
Hua Li sangat terkejut karena melihat kepandaian ke lima orang ini sangat tinggi.
"Perkenalkanlah, mereka ini adalah Lima Dewa dari Utara!" kata pangeran Leng Song dan ke lima orang itu dengan tersenyum menjura di depan Hua Li, dan Hua Li segera berdiri membalas hormat mereka.
Ia belum pernah mendengar nama ini, tapi ia dapat menduga bahwa mereka ini tentu tokoh-tokoh ternama di daerah utara.
__ADS_1
"Nona, ilmu pedangmu sungguh membuat kami takluk dan tidak kosonglah nama Hua Tian, ayah angkat dan juga guru anda yang tersohor itu!" kata salah seorang di antara mereka.
Pangeran Leng Song lalu mempersilakan mereka semua duduk dan malam itu diadakan perjamuan makan minum untuk menghormat Hua Li.
Mereka bercakap-cakap gembira sekali dan Hua Li mendapat kesan baik dari mereka. Ia menganggap bahwa ke lima orang itu bersikap baik dan sopan, sedangkan pangeran muda yang tampan itu betul-betul telah memikat hatinya dan membuat ia tertarik sekali.
Pada kesempatan ini ia diberitahu bahwa Pangeran Leng Song banyak dimusuhi bangsawan-bangsawan yang menjadi penjilat kaisar, dan bahwa pangeran muda ini telah beberapa kali hendak dibunuh.
Oleh karena inilah maka ia mempelajari ilmu silat dan bahkan mengundang Lima Dewa dari Utara untuk menjadi pengawalnya.
Selesai perjamuan pangeran yang masih muda dan tampan itu memerintahkan para pengawalnya untuk mengundurkan diri dan dia bercakap-cakap berdua dengan Hua Li.
Sikapnya selalu ramah tamah dan sopan sehingga Hua Li merasa betah di situ.
"Nona, anda seorang gadis muda yang berasal dari daerah selatan, mengapa sampai bisa datang di kota raja? Dan mengapa pula anda sampai dapat berhubungan dengan orang-orang macam Pangeran Leng cun itu?" tanya Pangeran Leng Song yang penasaran.
Kemudian Hua Li menceritakan riwayatnya dengan terus terang. Ia menganggap bahwa pangeran ini sangat baik dan jujur, maka pantaslah kalau ia minta tolong dan mendapat kepercayaannya.
"Aku yang muda dan bodoh ini sampai menjadi nekad dan datang ke kota besar ini untuk mencari kedua orang tuaku." ucap Hua Li.
"Nona katakan tadi bahwa orang tua nona adalah orang yang tinggal di sekitaran aliran sungai kuning?" tanya Pangeran Leng Song seraya mengernyitkan kedua alisnya.
"Demikianlah menurut penuturan ayah angkatku. Katanya saya diketemukan oleh ayah dan mendiang ibu angkatku saat banjir yang melanda di setiap aliran sungai kuning." jawab Hua Li yang mengangguk dengan sedih.
Ketika ia menceritakan hal ini, kebetulan sekali pelayan wanita yang sudah tua dan sangat hormat sikapnya sedang membersihkan meja dan mengangkut semua sisa makanan atas perintah pangeran Leng Song.
Semula wanita setengah baya itu bekerja sambil menundukkan wajahnya, tapi ketika ia mendengar cerita Hua Li, agaknya dia menjadi terharu dan mengangkat wajahnya dan memandang Hua Li.
Kebetulan Hua Li tak sengaja memandangnya. Untuk sesaat pelayan itu membelalakkan matanya, kemudian dia menunduk kembali dan Hua Li melihat wajah yang baik dan sabar, bahkan ia merasa seakan-akan wajah pelayan itu tidak asing baginya. Setelah orang tua itu mengangkut pergi semua sisa makanan, Cu Kiong berkata,
"Nona, percayalah kau kepadaku. Aku akan memerintahkan orang-orangku untuk mencari tahu pada warga sekitar sungai kuning yang sekitar enam belas tahun yang lalu kehilangan anak perempuan." ucap Pangeran Leng Song.
__ADS_1
Hua Li buru-buru berdiri dan menjura sambil mengucapkan terima kasih.
"Terima kasih pangeran, terima kasih!"
"Sudahlah, ini tak seberapa jika dibandingkan keberanian nona saat melawan si Iblis bongkok dan Patriak Bao tadi." ucap Pangeran Leng Son yang kembali mengulas senyumnya.
"Sekarang harap pangeran memaafkan saya, karena saya harus pergi. Tidak baik kalau mengganggu pangeran, dan besok sore saya akan datang lagi mendengar hasilnya pangeran." ucap Hua Li yang bermaksud untuk berpamitan.
Pangeran Leng Song buru-buru mencegahnya.
"Jangan kau pergi, Nona. Nona telah menjadi musuh Pangeran Leng Cun, jadi nona tidak akan aman tinggal di luar. Karena itu tinggallah untuk sementara waktu di gedung ini sampai nona dapat bertemu dengan orang tua nona. Jangan khawatir, saya mempunyai banyak kamar di sini dan nona akan terjamin." ucap pangeran Leng Song dengan ramah.
"Tapi Pangeran..!" ucap Hua Li yang tak enak hati.
"Sudahlah nona, anggaplah ini sebagai rumah sendiri atau sebagai rumah saudara nona!" ucap pangeran itu yang masih tersenyum ramah.
"Baiklah pangeran, Saya akan tinggal disini sampai bertemu dengan kedua orang tua saya." ucap Hua Li yang kemudian menghela napasnya.
Setelah dibujuk-bujuk, akhirnya Hua Li tak dapat menolak lagi, dan dengan girang sekali Pangeran Leng Song memanggil pelayannya.
"Pelayan...!"
Dan datanglah pelayan wanita setengah baya, yang tadi membersihkan meja muncul dari pintu samping, melangkahkan kakinya menghampiri Hua Li dan pangeran Leng Song.
...~¥~...
...Mohon dukungannya dan terima kasih telah memberikan Like/komentar/rate 5/gift maupun votenya untuk novel Petualangan Pendekar Kecapi ini....
...Semoga sehat selalu dan dalam Lindungan Allah Subhana wa Ta'alla....
...Aamiin Ya Robbal Alaamiin....
__ADS_1
...Terima kasih...
...Bersambung...