Petualangan Pendekar Kecapi

Petualangan Pendekar Kecapi
Bab 59


__ADS_3

"Orang berpakaian serba hitam yang berkelahi dengan anak buah perkumpulan pengemis tongkat merah itu, katanya adalah anak buah dari Bukit tengkorak Hitam. Kalau begitu, dia itu murid dari perguruan tengkorak hitam?" tanya Liu Hong.


"Benar, tuan muda," kata Ketua Kui itu yang kini dapat mengerti bahwa pemuda ini memang memiliki watak yang keras, kasar dan jujur, hal yang tidak aneh karena ia berasal dari Pulau Ular.


"Si Baju hitam itu adalah seorang murid dari perguruan tengkorak hitam." ucap ketua Kui.


"Hemm, kalau begitu yang menantang ketua untuk mengadakan adu jurus esok lusa adalah dari perguruan tengkorak hitam?" tanya Liu Ceng dengan nada khawatir.


Mendengar itu semuanya menganggukan kepala masing-masing.


"Benar, Saudara Liu. Yang menantang adalah salah satu murid andalan tengkorak hitam." jawab ketua Kui.


"Jangan khawatir, ketua! Kalau dia maju membawa pasukan, biar aku yang akan membantumu sehingga adu jurus itu seimbang!" seru Liu Hong yang bersemangat.


"Tenanglah, adik Hong!" seru Liu Ceng yang lalu bertanya kepada ketua itu.


"Ketua, bagaimana kepandaian para murid tengkorak hitam itu?"


"Aku sendiri belum pernah bertanding dengan mereka." jawab ketua Kui.


"Ketua, untuk menghadapi mereka besok lusa pagi, tentu ketua sudah mengatur sebaik-baiknya dan tentu ketua mengajak salah satu anggota perkumpulan pengemis tongkat merah untuk menemani ketua dalam menghadapi mereka," saran Yauw Lie yang sedikit mencemaskan situasi esok hari.


Ketua Kui menghela napas panjang dan menggelengkan kepalanya.


"Murid-murid Kui tidak ada yang dapat diandalkan kepandaiannya. Tingkat mereka masih terlalu jauh untuk dapat melawan para murid perguruan tengkorak Hitam. Aku memang mempunyai beberapa orang Adik Seperguruan yang agaknya memiliki tingkat yang sudah boleh diandalkan, namun pada waktu ini mereka bertugas memimpin cabang-cabang perkumpulan pengemis di kota-kota besar. Akan tetapi, aku sendiri tidak gentar melawan laki-laki berpakaian hitam itu, yang telah menghina dan menantangku!" jelas Ketua Kui.


"Jangan khawatir, Ketua Kui. Aku besok lusa akan menemanimu, kita berdua akan menghadapi mereka!" seru Liu Hong dengan semangat.


"Tidak mungkin, saudara Hong. Nama dan kehormatan perkumpulan pengemis tongkat merah akan tercemar kalau aku minta bantuan orang luar bukan anggauta kami untuk menghadapi tantangan laki-laki yang dari perguruan tengkorak hitam itu!" seru Ketua Kui dengan menggelangkan kepalanya.

__ADS_1


Kali ini Li Hong tidak dapat membantah biarpun ia merasa kecewa dan penasaran sekali.


"Ketua...!"


Tiba-tiba terdengar suara Yauw Lie yang memecahkan kesunyian setelah ketua itu bicara.


"Menurut ucapan ketua tadi, berarti yang dapat membantu menghadapi musuh yang menantang hanyalah orang yang menjadi anggauta perkumpulan pengemis tongkat merah?" tanya Yauw Lie seraya mengernyitkan kedua alisnya.


"Iya nona, Aku tentu tidak bisa mempertaruhkan nama dan kehormatan perkumpulan kami hanya untuk mencari kemenangan pribadi. Seperti kukatakan tadi, kalau ada seorang saja adik seperguruan ku ada di sini, kami berdua pasti akan mampu menandingi mereka." ucap ketua Kui.


"Ketua, terimalah aku sebagai murid sehingga dengan sendirinya aku menjadi anggota perkumpulan pengemis tongkat merah, dan aku dapat menemani ketua dalam menghadapi orang-orang dari tengkorak hitam itu. Dengan demikian, ketua tidak akan kehilangan muka dan nama perkumpulan pengemis tongkat merah tidak akan tercemar." jelas Yauw Lie.


"Sepertinya usulmu itu sukar dilaksanakan, Nona." ucap ketua Kui seraya menghela napas dan menggelengkan kepalanya perlahan-lahan.


"Ketua..! adik Yauw sudah memberi jalan yang baik dan anda masih saja berkeras menolak! Sebetulnya, apa sih maumu menolak semua bantuan yang kami tawarkan? Sekarang begini saja, Adik Yauw dan kakak Ceng, kita tidak perlu membantu ketua dan perkumpulan pengemis! Kita bertiga langsung datang ke tempat perguruan tengkorak Hitam dan membasmi mereka sehingga mereka tidak dapat menantang ketua dan perkumpulan pengemis lagi!" seru Liu Hong sedikit kesal.


 "Adik Hong, kenapa kau menjadi tidak sabaran seperti ini?" tegur Liu Ceng sambil tersenyum.


"Habis, ketua ini bisanya hanya menolak saja, bikin hatiku menjadi gemas!" gerutu Liu Hong.


"Ketua mohon jelaskan, kenapa usulku tadi sukar dilaksanakan?" tanya Yauw Lie yang penasaran.


"Begini, nona. Pertama, untuk menjadi anggauta perkumpulan pengemis tongkat merah, engkau harus memakai pakaian tambal-tambalan. Itu adalah ciri khas pakaian pengemis anggota perkumpulan pengemis tongkat merah. Dan adapun yang kedua, kau harus menggunakan sebatang tongkat merah untuk melawan musuh. Bagaimana mungkin kedua syarat itu dapat anda penuhi?" tanya ketua Kui seraya menatap Yauw Lie, Liu Ceng dan Liu Hong.


"Ketua, aku pernah mempelajari ilmu silat menggunakan delapan belas macam senjata termasuk senjata tongkat sehingga untuk menggunakan senjata itu bukan masalah bagiku. Akan tetapi untuk terus mengenakan pakaian tambal-tambalan......" ucap gadis itu tidak melanjutkan karena takut menyinggung perasaan ketua Kui.


"Aku ada akal!"


Tiba-tiba suara Liu Hong mengejutkan semua orang dan mereka memandang pemuda itu.

__ADS_1


"Adik Yauw diterima menjadi anggota perkumpulan pengemis tongkat merah dan mengenakan pakaian tambal-tambalan untuk melawan orang yang berpakaian serba hitam itu. Setelah adu jurus itu selesai, adik Yauw boleh menyatakan dengan resmi keluar dari keanggotaan perkumpulan pengemis jadi adik Yauw boleh melepaskan pakaian tambal-tambalannya. Bagaimana menurut anda ketua?" tanya Liu Hong yang memberi saran.


Ketua Kui menganggukkan kepalanya, namun alisnya masih berkerut.


"Bagus sekali akal itu dan memang akal itu telah menyelesaikan masalah pakaian pengemis. Akan tetapi bagaimana dengan jurus tongkatnya? perguruan tengkorak hitam itu kabarnya lihai bukan main. Senjata mereka, baik jurus menggunakan golok maupun pedang. Aku sungguh akan merasa berdosa sekali kalau sampai nona Yauw cedera atau tewas dalam membantu aku menghadapi mereka." ucap ketua Kui yang menatap Yauw Lie dan lainnya satu persatu.


"Anda meragukan kemampuanku, hal itu memang wajar saja. Akan tetapi, masih ada kesempatan bagi Ketua untuk memberi petunjuk kepadaku dalam ilmu tongkat," kata Yauw Lie.


"Tepat sekali," kata Liu Ceng.


"Sebaiknya sekarang juga ketua menguji jurus tongkat adik Yauw. Dan kalau ada kekurangannya, ketua dapat memberi petunjuk." saran Liu Hong seraya menatap ketua Kui.


Ketua itu mengangguk-angguk dan tampak gembira. Dia lalu mengajak tiga orang muda itu memasuki ruangan latihan silat yang luas.


Dia mengambil dua batang tongkat merah dan menyerahkan sebatang kepada Yauw Lie. Mereka berdiri saling berhadapan di tengah ruangan itu.


Sementara itu Liu Ceng dan Liu Hong duduk di bangku dekat dinding menyaksikan latihan kedua pendekar itu.


...~¥~...


...Mohon dukungannya dan terima kasih telah memberikan Like/komentar/rate 5/gift maupun votenya untuk novel Petualangan Pendekar Kecapi ini....


...Semoga sehat selalu dan dalam Lindungan Allah Subhana wa Ta'alla....


...Aamiin Ya Robbal Alaamiin....


...Terima kasih...


...Bersambung...

__ADS_1


...   ...


...  ...


__ADS_2