
Panglima itu tak orang asing buat para murid perguruan Elang Sakti. Dia adalah Ciong Hak, seorang panglima yang sudah sering kali berkunjung ke perguruan Elang Sakti, baik sebagai utusan pemerintah atau sebagai tamu di Perguruan Elang sakti.
Namun sekarang sikapnya tidak seperti seorang sahabat atau seorang tamu yang baik. Dia kelihatan marah, congkak, bahkan ketika para penjaga pintu gerbang memberi hormat, dia dak menanggapi, melainkan dengan angkuhnya terus melangkah masuk mela pintu gerbang yang sudah dibuka, diiringi belasan orang pembantunya yaitu rata-rata memasang wajah yang kaku dan keras.
Ketika rombongan perwira ini tiba serambi depan, mereka berhenti karena melihat ketua Thian Cu yang mengenakan pakaian ketua perguruan Elang Sakti yang lengkap, dengan jubah berwarna putih, dan tongkat ketua di tangan kanannya, telah berdiri menyambut di ruangan depan itu ditemani para guru-guru dan murid-murid senior yang sebagian besar adalah para pendekar yang sudah tinggi ilmunya.
Para murid yang berdatangan dari luar perguruan Elang Sakti, tidak memperlihatkan diri. Jumlah para pendekar dari para pimpinan sampai dengan para petugas rendahan, semua ada kurang lebih lima puluh orang.
Tetapi yang kini berada diluar perguruan Elang Sakti bersama ketua Thian Cu untuk menghadapi para prajurit yang ada belasan orang, sehingga yang berada di dalam perguruan Elang Sakti tinggal tiga puluh orang lebih.
Para murid yang berdatangan dari luar perguruan berjumlah dua puluh orang lebih sehingga pada saat itu, jumlah murid perguruan Elang Sakti yang berada di dalam perguruan itu kurang lebih enam puluh orang.
Melihat ketua perguruan Elang Sakti yang sudah berdiri menyambutnya, bersama para murid-murid perguruan Elang Sakti, Ciong Hap atau Perwira Ciong, memandang mereka dengan tajam.
Matanya mengerling kekanan kiri mencari-cari, seolah-olah dia hendak mencari seseorang. Sementara itu, ketua Thian Cu dapat melihat kalau sikap Perwira Ciong ini tidak bersahabat.
"Selamat datang, perwira Ciong! Kunjungan anda kali ini sangat mengejutkan, tiba-tiba dan membawa pasukan. Ada urusan apakah gerangan, perwira Ciong?" kata dan tanya ketua Thian Cu dengan angkat kedua tangan memberi hormat dan suaranya yang halus.
Ciong Hap adalah panglima sudah terkenal pandai dalam ilmu perang dan ilmu silat. Karena dia seorang ahli silat yang pandai, maka dia bersahabat dengan ketua perguruan Elang Sakti.
Akan tetapi dia juga seorang yang berwatak keras, sesuai dengan kedudukannya sebagai panglima perang yang selalu dihadapkan kekerasan. Karena dia sudah berprasangka buruk dan memandangi perguruan Elang Sakti pada saat itu sebagai lawan dan musuh, sikapnya pun nampak keras. Lenyap semua keramahannya yang terhadap sahabatnya itu.
"Ketua Thian Cu," panggil panglima Ciong dengan suaranya lantang dan mengandung kekerasan.
__ADS_1
"Perlukah lagi berpura-pura? Sudah berbulan-bulan lamanya perguruan Elang Sakti memperlihatkan sikap bermusuhan, bahkan akhir-akhir ini para murid perguruan Elang Sakti bertindak sebagai musuh! Apakah ketua Thian Cu hendak menyangkal dan kini berpura-pura bertanya lagi apa maksud kedatanganku dengan pasukan?" jelas sekaligus tanya panglima Ciong.
"Panglima Ciong, sedikit pun tak ada maksud dari perguruan #lang Sakti untuk melawan pemerintah. Tolong panglima Ciong bisa jelaskan, dalam hal bagaimana panglima Ciong menganggap kami bertindak sebagai musuh?" tanya ketua Thian Cu yang menatap ke arah panglima Ciong.
"Ketua Thian Cu....!" bentak Panglima Ciong dengan suaranya yang menggelegar.
"Kau telah membiarkan murid-muridmu menentang pemerintah, bahkan menggunakan kekerasan membunuh banyak pasukan pengawal para petugas yang melaksanakan pekerjaan galian terusan. Apakah kau hendak menyangkal itu!" seru Panglima Ciong yang menatap ketua Thian Cu dengan tajam.
"Sungguh rendahnya budi orang-orang yang tidak ingat akan kebaikan orang. Bukankah gedung di perguruan Elang Sakti ini dibangun karena bantuan pemerintah! Tapi sekarang kalian hendak menentang dan memberontak pemerintah!" lanjut seru panglima Ciong dengan geram.
"Tolong panglima Ciong bersikap sabar dan tenang. Panglima sudah cukup mengenal kami, apakah kami orang-orang yang berjiwa pemberontak terhadap pemerintah? Sama sekali tidak Mungkin. Kami tidak memberontak, tidak menentang pemerintah.Yang dilakukan oleh anak murid perguruan Elang Sakti hanyalah suatu kewajaran saja, melihat rakyat yang ditekan dan dipaksa harus kerja tanpa perhitungan, tanpa perikemanusiaan, jadi bukan menentang pemerintah!" balas seru ketua Thian Cu yang membela diri.
"Tapi melawan para petugas pemerintah berarti melawan pemerintah! tidak perlu banyak cakap lagi karena kami tahu yang telah menentang pemerintah dan lakukan pembunuhan terhadap banyak tugas pemerintah, kini bersembunyi di perguruan ini!" seru Panglima Ciong.
"Panglima Ciong, saya tidak lihat adanya seorang pun pemberontak perguruan ini. Panglima Ciong pasti sudah mendapatkan keterangan palsu. Tidak ada pemberontak di dalam perguruan kami!" balas seru ketua Thian Cu.
"Bohong! saya harap anda tidak membela para pemberontak itu, kalau ketua ingin melihat perguruan Elang Sakti ini selamat!" ancam Panglima Ciong yang geram.
"Saya tidak berbohong, Panglima! Memang tidak ada seorang pun pemberontak di dalam perguruan Elang Sakti ini!" seru Ketua Thian Cu yang masih membela diri.
Panglima Ciong sangat mengenal benar ketua Thian Cu dan yakin bahwa ketua perguruan Elang Sakti itu tidak mungkin bicara bohong, maka dia pun menoleh kepada seseorang yang ikut dengan rombongan perwira yang baru saja masuk.
Orang ini bukan seorang perwira, melainkan seorang yang berpakaian seperti pendeta, yang kemudian maju dengan suaranya yang lantang dan telunjuknya menunjuk kearah ketua Thian Cu.
__ADS_1
"Ketua Thian Cu, sungguh tidak pantas sekali kau, sebagai seorang ketua yang berkedudukan tinggi, masih hendak melindungi kaum pemberontak dan bicara bohong! Saya melihat dengan mata kepala sendiri bahwa para pemberontak itu memasuki perguruan ini sejak pagi tadi, dan kau berani mengatakan bahwa di dalam kuil tidak ada pemberontak!" seru pendeta itu dengan lantang.
Ketua Thian Cu memandang kepada pendeta itu dan sinar matanya seperti mencorong.
"Ah, kiranya ada ularnya di bawah rumput! siapapun juga adanya kau, saya jelaskan sekali lagi bahwa di dalam perguruan Elang Sakti ini tidak pemberontak dan tidak ada penjilat!" seru Ketua Thian Cu.
Wajah pendeta itu berubah merah karena dia merasa disindir dengan sebutan penjilat.
"Sungguh seorang pendekar yang sudah tua akan tetapi , pandai berdusta. Ketua Thian Cu, kalau memang kau tidak berbohong, beranikah kau bersumpah bahwa di dalam perguruan Elang Sakti ini tidak ada pemberontak bersembunyi!" seru pendeta itu ekali lagi yang mengancam pada ketua Thian Cu.
"Ucapan seorang pendekar dan ketua perguruan tidak pernah berbohong.Tidak perlu bersumpah akan tetapi saya menyatakan sekali lagi bahwa di dalam perguruan Elang Sakti ini tidak seorang pun pemberontak!" seru Ketua Thian Cu sekali lagi dengan lantang.
"Ketua Thian Cu...!" seru pendeta itu yang memanggil ketua Thian Cu denga raut wajah memerah karena sedang marah.
...~¥~...
...Mohon dukungannya dan terima kasih telah memberikan Like/komentar/rate 5/gift maupun votenya untuk novel Petualangan Pendekar Kecapi ini....
...Semoga sehat selalu dan dalam Lindungan Allah Subhana wa Ta'alla....
...Aamiin Ya Robbal Alaamiin....
...Terima kasih...
__ADS_1
...Bersambung...