
"Sungguh berbahagia sekali saya dapat bertemu dengan keluarga ini yang baik dan gagah perkasa." ucap gadis itu dengan ramah.
"Ha...ha ...ha...! memang lebih baik begitu, karena bukankah kita semua memiliki tujuan yang sama, yaitu menentang kejahatan, apalagi yang dilakukan oleh para pembesar Mongol?" balas Siauw Tek.
"Iya, benar paman. Terima kasih atas keramahan dan kehormatan yang diberikan kepada saya. Baiklah, Paman Siauw, saya akan menceritakan tentang diri saya yang tak berharga dan bodoh ini. Nama saya Yauw Lie. Saya tidak tahu siapa orang tua saya. Ketika terjadi perang, bala tentara Mongol menyerbu dan masuk desa kami. Ketika itu saya berusia tiga tahun dan tidak tahu apa-apa. Yang saya ingat hanyalah rumah-rumah terbakar dan saya lari keluar rumah. Saya ditolong seorang kakek tua yang membawa saya lari keluar dusun kami yang terbakar. Kakek itu menanyai saya, akan tetapi saya yang tahu hanyalah bahwa saya Yauw Lie. Maklum, ketika itu usia saya baru tiga tahun."jelas Nona itu yang ternyata bernama Yauw Lie.
"Aduh kasihan"' kata Nyonya Liu yang bernama Lu Siang.
"Lalu bagaimana selanjutnya? di mana orang tuamu?" tanya Lui Hong yang penasaran.
"Pendeta yang menolong saya itu sudah menyelidiki dan katanya seluruh dusun terbakar dan Ayah Ibu saya menjadi korban, tewas di tangan pasukan Mongol," kata Yauw Lie itu dengan suara mengandung kedukaan.
"Jahanam benar pasukan Mongol!" Liu Hong berseru marah.
"Sudah banyak sekali rakyat yang tidak berdosa menjadi korban!"lanjut Liu Hong.
"Tenanglah, adik Hong, biarkan nona Yauw melanjutkan ceritanya," kata Liu Ceng.
"Mulai hari itu saya menjadi murid guru Su Heng, yaitu seorang pertapa yang telah menolong saya. Saya diajak pergi ke Pegunungan Himalaya dan hidup bersama guru selama belasan tahun sampai guru meninggal dunia karena usia tua." ucap Yauw Lie yang nampak kedua matanya yang basah.
"Nanti dulu nona Yauw, engkau belum menceritakan dari dusun mana asalmu?" tanya Liu Ceng yang penasaran sedari tadi.
"Dusun kami yang dibasmi itu adalah dusun Kao-chun, sebuah dusun kecil di Propinsi Sin-kiang. Setelah guru meninggal dunia, saya lalu merantau sampai ke Tibet dan berguru pada Pendeta di Tibet." ucap Yauw Lie.
"Ah, pantas ilmu silatmu lihai sekali, adik Yauw!" kata Liu Hong.
__ADS_1
"Sekarang aku tahu mengapa logat bicaramu terdengar kaku dan asing. Kiranya engkau berasal dari Sin-kiang dan tumbuh besar di Himalaya dan Tibet," kata Lui Ceng.
"Akan tetapi bagaimana engkau bisa berada di Laut Timur ini dan dikeroyok pasukan Mongol!" tanya Ban Tok yang penasaran.
Yauw Lie menghela napas dan termenung, agaknya mengumpulkan ingatannya lalu dia melanjutkan ceritanya.
"Setelah saya mempelajari jurus dari para Lhama di Tibet dan sudah merasa dewasa, maka sekitar dua tahun yang lalu saya meninggalkan Tibet. Saya pergi ke dusun Kao-chun untuk menyelidiki, dan memang benar, hampir seluruh penduduk dusun itu, termasuk Ayah ibu saya, tewas oleh pasukan Mongol yang lewat di dusun itu. Saya lalu mengambil keputusan untuk merantau ke timur dan membalas dendam dengan menentang para pembesar Mongol di mana pun saya berada. Sudah banyak saya menentang, memusuhi bahkan membunuh para pembesar yang menindas rakyat sehingga saya menjadi buronan. Saya terus merantau dan dalam perjalanan saya mendengar akan nama-nama besar para datuk dan tokoh kang-ouw yang berjiwa patriot dan menentang penjajah, di antaranya saya mendengar akan nama Pulau Ular. Maka, saya mencoba untuk datang berkunjung dan berkenalan dengan Paman sekalian. Akan tetapi ketika saya sedang mendayung perahu, ada empat perahu besar penuh perajurit Mongol mengejar dan mengepung. Agaknya mereka memang sudah membayangi saya sejak di daratan sana. Saya berusaha untuk melawan mati-matian, akan tetapi karena saya tidak biasa bermain di air, saya takut kalau terjatuh ke air sehingga saya harus berlompatan dari perahu ke perahu. Akan tetapi akhirnya, ketika saya hendak melarikan diri dan melompat ke perahu kecil saya, saya dihujani anak panah. Saya sudah mencoba untuk menangkis, akan tetapi sebatang anak panah mengenai pundak saya sehingga saya terjatuh ke dalam air." cerita Yauw Lie dan semuanya menyimak apa yang Yauw Lie ceritakan,
"Ya, selanjutnya kami sudah melihat sendiri," kata Ban tok.
"Untung Paman berempat datang menolong, kalau tidak, tentu saya tewas tenggelam dalam air laut, atau mati dihujani anak panah dari perahu mereka. Maka, sekali lagi saya menghaturkan banyak terima kasih kepada anda sekalian." ucap Yauw Lie yang segera berlutut dan memberi hormat kepada mereka yang ada dihadapannya..
Siauw Tek cepat menghampiri dan mencoba membangunkan gadis itu.
"Sudahlah, Yauw Lie, jangan terlalu sungkan. Orang-orang seperti kita adalah segolongan, sudah sepatutnya kalau di antara kita saling menolong. Tidak perlu berterima kasih kepada kami. Akan tetapi ada satu hal yang ingin kuketahui. Kemarin ketika aku melihat permainan pedangmu melawan pengeroyokan para perajurit, aku melihat ilmu pedangmu aneh dan lihai. Mirip ilmu pedang perak, akan tetapi agak lain. Apakah ilmu pedangmu itu, Yauw Lie?" tanya Siauw Tek dengan ramah.
"Wah, ilmu silatmu pasti lihai sekali, nona Yauw!" kata Liu Hong uang memuji. Lalu ia memandang ayahnya dan ibu tirinya.
"Ayah dan ibu, kalau Nona Yauw mau membantu aku dan Kakak Ceng mencari harta karun Kerajaan Sung itu, hal ini tentu akan baik sekali!" seru Liu Hong dengan semangat.
"Harta karun?" tanya Yauw Lie yang penasaran.
"Ayah, Ibu, bolehkah aku menceritakannya kepada nona Yauw?" tanya Liu Hong sedikit memohon.
Lui Teng, Lu Sang dan Ban Tok pun menganggukkan kepala masing-masing, pertanda mereka sudah menyetujuinya.
__ADS_1
"Begini, nona. Sebelumnya Liu Bok, Ayah dari kakak Ceng ini tewas dibunuh Panglima Mongol dan pasukannya, dia meninggalkan sehelai peta harta karun kepada Kakak Ceng dengan pesan agar harta karun itu ditemukan kemudian diberikan kepada para pejuang yang hendak menentang dan merobohkan kekuasaan orang Mongol." cerita Liu Hong.
"Ah, baik sekali itu!" seru Yauw Lie.
"Akan tetapi, milik siapakah harta karun itu?" tanya Yauw Lie selanjutnya.
...~¥~...
...Mohon dukungannya dan terima kasih telah memberikan Like/komentar/rate 5/gift maupun votenya untuk novel Petualangan Pendekar Kecapi ini....
...Semoga sehat selalu dan dalam Lindungan Allah Subhana wa Ta'alla....
...Aamiin Ya Robbal Alaamiin....
...Terima kasih...
...Bersambung...
... ...
... ...
... ...
... ...
__ADS_1
... ...