
Dan datanglah pelayan wanita setengah baya, yang tadi membersihkan meja muncul dari pintu samping, melangkahkan kakinya menghampiri Hua Li dan pangeran Leng Song.
"Iya pangeran, apa ada yang harus hamba lakukan?" tanya pelayan wanita itu seraya menundukkan wajahnya.
"Pelayan, tolong kamu antar Nona Hua ke kamar tamu di bagian kiri. Berikan kamar yang paling baik di ujung itu, dan selanjutnya suruh pelayan-pelayan wanita melayani segala keperluannya. Ingat Nona Hua ini harus dilayani dengan baik agar nona Hua betah tinggal di sini." perintah pangeran Leng Song.
"Baik pangeran." ucap pelayan wanita itu.
"Mari ikut saya nona." lanjut ucap pelayan wanita itu pada Hua Li.
Kemudian Hua Li menghaturkan terima kasih dan ikut pelayan itu menuju ke bangunan sebelah kiri yang besar dan di depannya penuh bunga yang indah di dalam taman kecil yang mengitari bangunan itu.
Ketika mereka tiba di tempat itu, Pelayan wanita itu disambut oleh beberapa orang pelayan yang muda-muda dan cantik-cantik dan dihujani pertanyaan.
Pelayan wanita itu dengan suara sabar memperkenalkan Hua Li dengan menyampaikan pesan pangeran Leng Song.
Pelayan-pelayan wanita itu dengan hormat dan ramah lalu mengajak Hua Li memasuki kamarnya sehingga gadis itu merasa malu dan berterima kasih sekali.
Pangeran Leng Song demikian baik hati terhadap Hua Li, hingga pakaian ganti pun disediakan oleh pelayan-pelayan itu atas perintah pangeran Leng Song.
Hua Li merasa malu dan tak enak hati melihat segala kebaikan ini. Ia terima pakaian itu tapi tidak mau memakainya dan tetap memakai pakaiannya sendiri yang sederhana.
Ketika malam hari itu Hua Li keluar dari kamarnya dan berjalan-jalan di taman bunga, ternyata bahwa di belakang semua bangunan besar itu masih terdapat sebuah kebun bunga yang sangat luas dan indah, bahkan di tengah-tengah terdapat kolam air yang lebar dan dalam serta airnya jernih sekali.
Hua Li adalah seorang gadis yang semenjak kecil tumbuh besar di atas air Sungai Kuning, maka kini melihat air yang jernih itu, tak dapat nenahan lagi keinginan hatinya untuk mandi.
Ia melihat betapa keadaan di situ sunyi tiada orang, maka segera ia tanggalkan pakaian luar dan kini hanya memakai pakaian mandi yang ringkas.
Setelah itu, ia lalu terjun ke dalam air yang dingin itu. Ia berenang ke sana ke mari dan menangkapi ikan emas yang menjadi kaget dan ketakutan karena tiba-tiba saja tempat mereka terganggu oleh suatu mahluk aneh yang menangkapi mereka lalu dilepas lagi berulang-ulang.
__ADS_1
Hua Li merasa gembira sekali dan ia tersenyum-senyum sambil memetik setangkai bunga teratai putih yang mekar dengan indahnya di permukaan kolam itu. Ia tidak tahu kenapa hatinya saat ini begitu girang dan bahagia.
Gadis itu merasa seakan-akan ada sesuatu yang mendatangkan rasa nikmat di dalam hatinya dan bayangan Pangeran Leng Song yang tampan dan tersenyum-senyum itu tak pernah meninggalkan bulu matanya.
"Ah, alangkah tampan dan baiknya hati pangeran Leng Song ini," pikirnya dalam hati.
Gadis itu percaya penuh pada pangeran yang baik hati itu tentu akan sanggup mencari keterangan tentang ayah ibunya. Ia masih saja berenang di kolam itu, dan tidak tahu bahwa dari balik sebatang pohon, sepasang mata memandangnya dengan penuh gairah dan kagum.
Kemudian orang yang mengintai itu keluar, seakan-akan tak dapat menahan dorongan hatinya lagi. Ia bertindak mendekati kolam.
"Ah, nona Hua! Kiranya kau. Sungguh aku kaget sekali. Kukira siapa yang pada malam sekali begini mandi di sini!" seru seorang laki-laki dengan suara ramahnya, yang tak lain adalah pangeran Leng Song.
Hua Li sangat terkejut dan merasa malu sehingga buru-buru ia menyelam.
Pangeran Leng Song itu malah tertawa geli dan membalikkan tubuh memandang ke lain jurusan, tapi masih berdiri di tempat itu.
Tapi akhirnya ia tidak kuat menahan napasnya lalu munculkan kepalanya dengan perlahan dan hati-hati di belakang daun dan bunga teratai. Ia melihat kalau pangeran Leng Song sedang berdiri membelakanginya. ,
"Nona, kalau anda sudah muncul lagi, katakan apakah saya harus pergi? Sebenarnya saya ingin sekali bicara dengan anda. Tapi jika anda menghendaki saya untuk pergi, saya akan akan segera meninggalkan tempat ini." ucap pangeran Leng Song yang masih berdiri membelakangi Hua Li.
"Pangeran Leng Song, jangan anda melihat ke sini dulu!" seru Hua Li lantang.
"Ha ..ha...ha...! apakah anda menganggap saya seorang yang rendah, nona?" tanya pangeran Leng Song dengan tawanya.
"Eh, ma'af pangeran Leng Song. Bukan maksud saya begitu." ucap Hua Li yang tak enak hati, tapi hatinya girang sekali mendengar apa yang telah pangeran Leng Song ucapkan tadi.
Ternyata Pangeran Leng song benar-benar orang yang sopan dan baik. Maka tanpa ragu-ragu lagi ia keluar dari air dan cepat-cepat berganti pakaian di balik pohon yang berada di dekat kolam itu.
Pakaiannya yang basah ia letakkan di atas sebuah batu yang ada disampingnya. Kemudian, setelah mengenakan pakaiannya, ia keluar menghampiri pangeran Leng Song.
__ADS_1
"Sekarang anda boleh melihat kemari saya sudah selesai memakai pakaian saya pangeran." ucap Hua Li dengan mengulas senyumnya.
Pangeran Leng Song kemudian membalikkan badannya dan memandang gadis itu dengan mata kagum dan membalas senyuman gadis dihadapannya itu.
Gadis itu menggunakan teratai yang dipetiknya tadi untuk menghias rambutnya yang diikat secara sembarangan ke atas dan terpancarlah kecantikannya yang mempesona.
Pangeran Leng Song maju beberapa tindak dengan perlahan. Setelah dekat dengan gadis itu, dia berhenti dan menatap wajah Hua Li.
"Nona kau... kau... cantik sekali..." ucap pangeran Leng Song dengan berbisik.
Kalau saja yang berkata itu orang lain, tentu Thian Hwa akan marah sekali. Tetapi yang memujinya adalah pangeran Leng Song yang selalu terbayang di pelupuk matanya, Hua Li hanya menundukkan wajahnya yang memerah seperti kepiting rebus itu.
Pangeran Leng Song maju setindak lagi dan tahu-tahu dengan halus perlahan dia memegang kedua tangan Hua Li.
"Sungguh, Nona, selama hidupku belum pernah aku melihat seorang secantik kau..." ucap pangeran Leng Song yang bagaikan rayuan maut itu, karena mampu membuat Hua Li merasakan betapa seluruh tubuhnya menggigil dan dadanya berdebar. Mukanya terasa panas dan kepalanya pening.
Gadis itu hendak menarik tangannya, tapi tak kuasa menggerakkan tangannya itu dan terasa oleh Hua Li betapa lembut dan mesra tangan Pangeran Leng Song pada saat memegang tangannya.
...~¥~...
...Mohon dukungannya dan terima kasih telah memberikan Like/komentar/rate 5/gift maupun votenya untuk novel Petualangan Pendekar Kecapi ini....
...Semoga sehat selalu dan dalam Lindungan Allah Subhana wa Ta'alla....
...Aamiin Ya Robbal Alaamiin....
...Terima kasih...
...Bersambung...
__ADS_1