
Liu Hong lalu menceritakan semua pengalamannya ketika ia bertemu dengan Liu Ceng dan Hua Li, lalu mereka bertiga sama-sama menentang Lim Bao dan rekan-rekannya.
Ia bercerita pula tentang peta harta karun peninggalan mendiang Liu Bok yang diwariskan kepada Liu Ceng, kemudian betapa mereka tertawan oleh Lim Bao yang memaksa mereka untuk menyerahkan peta dan membantu Lim Bao mencari harta karun itu menurut petunjuk peta yang dirampasnya.
"Tapi kenapa kamu menyerahkan peta itu kepada Lim Bao, Liu Ceng?" tanya Ban-tok kepada Liu Ceng yang tidak dapat menjawab, melainkan hanya memandang kepada Liu Hong dengan ragu.
"Ibu, karena kurang hati-hati aku terjebak dan menjadi tawanan Lim Bao. Aku dijadikan sandera dan mengancam akan membunuhku kalau Liu Ceng tidak mau menyerahkan peta. Untuk menolongku, maka kakak Ceng lalu menyerahkan peta dan bersama Nona Hua ia lalu menyerah dan terpaksa mau membantu mencari harta karun karena aku tetap dijadikan sandera." terang Liu Hong.
"Ah, betapa mulia hatimu, Liu Ceng!" Ibu Li Hong berseru terharu.
"Engkau telah menyelamatkan Adikmu, Liu Ceng. Kami berterima kasih sekali," kata Liu Tek.
"Lalu bagaimana dengan pencarian harta karun Kerajaan Sung itu?" tanya Ban-tok kepada Liu Hong.
"Tempat di mana harta karun itu tersimpan, dengan bantuan peta dapat ditemukan. Akan tetapi ketika peti harta karun dibuka, ternyata telah kosong dan di dasar peti terdapat tulisan ukiran ular kobra Nona Hua dan kakak Ceng dapat meloloskan diri dan membebaskan aku. Kami bertiga lalu dapat melarikan diri dari sarang mereka." jelas Liu Hong yang menceritakan semua pengalamannya.
"Hemm, setelah itu, bagaimana engkau akan bertindak untuk memenuhi pesan mendiang Ayahmu, A Ceng?" tanya Ban-tok.
"Saya bertekad untuk mencari harta karun itu, Ibu. Dan adik Hong hendak membantu saya. Karena itulah maka kami pulang ke pulau Ular ini. Selain untuk menjenguk Ayah dan Ibu berdua, juga untuk minta petunjuk Ibu yang mungkin dapat menduga apa maksud dari ukiran ular kobra itu, apaka ada hubungannya dengan yang mengambil harta karun itu." jelas Liu Ceng.
Ban-tok mengerutkan alisnya dan mengingat-ingat.
"Hemm, setahuku, aliran persilatan terbesar yang menggunakan ukiran ular kobra itu adalah Sekte Ular Kobra yang diketuai oleh patriak Thio Kong. Sekte ular kobra terkenal sebagai aliran hitam yang paling disegani.
"Kalau begitu, kita kunjungi sekte ular kobra itu dan bertanya kepada mereka. Kalau betul mereka yang ambil, kita minta agar harta karun itu diserahkan kepada yang berhak, yaitu para pejuang," kata Liu Hong.
"Aku masih sangsi, adik Hong. Menurut keterangan Ibu tadi, mereka adalah Sekte aliran hitam yang disegani. Kiranya kalau mereka yang mengambilnya, mereka tidak akan meninggalkan ukiran itu di dalam peti karena perbuatan itu menunjukkan bahwa yang mengambilnya adalah seorang yang sombong. Tulisan itu seolah merupakan tantangan." ucap Liu Ceng yang mencoba menebak.
__ADS_1
"Pendapat Liu Ceng itu ada benarnya. Aku pun sangsi kalau sekte ular kobra yang mengambilnya," kata Liu Tek.
"Aku pun berpendapat begitu," kata Ban-tok.
"Selain sekte Ular kobra ada lagi beberapa aliran sesat yang bermukim di sekitar markas sekte Ular kobra. Yang sudah kuketahui ada beberapa tokoh penting diantara mereka. Pertama adalah si Dewa Api Tua yang berwatak ganas dan dia memiliki banyak pengikut yang mudah dikenal karena pakaian mereka serba merah. Dewa Api Tua itu selain memiliki ilmu silat yang tinggi, juga dia pandai menggunakan ilmu sihir. Akan tetapi dia tidak pernah berani mengganggu sekte ular Kobra yang memiliki banyak murid yang berilmu tinggi." jelas Liu Tek.
"Huh, patut dicurigai orang itu!" seru Liu Hong.
"Apakah masih ada tokoh lain di sekte ular kobra itu, Ibu?" tanya Liu Ceng yang penasaran.
"Masih ada beberapa orang lagi. Orang kedua yang patut dicurigai adalah Si Iblis Hitam Putih, sepasang saudara kembar yang dlsebut Iblis Hitam dan Iblis Putih. Mereka berdua ini biarpun tidak mempunyai pengikut, namun mereka berdua juga terkenal sebagai tokoh utama aliran sesat, yang menghalalkan segala cara untuk mencapai keinginan mereka." jelas Ban Tok.
"Adapun pihak keempat adalah Perkumpulan Pengemis Tongkat Merah. Perkumpulan ini terdapat di mana-mana sebagai cabangnya, terutama di kota-kota besar. Ciri-ciri mereka adalah setiap orang anggotanya memegang sebatang tongkat merah. Yang berada di Thai-san desa dimana markas Aliran ular Kong hu adalah pusatnya di mana terdapat ketuanya yang berjuluk Si Pengemis Sakti Tongkat Setan. Masing-masing dari mereka memiliki kepandaian tinggi. Kalau ada penghuni baru lagi, aku belum mengenalnya." jelas Ban Tok.
"Wah, kiranya perkampungan Thai-san dihuni banyak tokoh sesat!" kata Liu Hong yang menyimpulkan.
"Bukan saja mereka lihai, akan tetapi juga di antara mereka memiliki banyak anak buah," kata Ban-tok yang mengongatkan.
"Pekerjaan kalian itu dapat berbahaya sekali. Kalian masih muda dan belum mempunyai banyak pengalaman, bertemu dengan tokoh-tokoh sesat seperti itu,bisa berbahaya sekali."
"Ah, aku tidak takut, Ibu. Kakak Ceng memiliki kepandaian yang tinggi, baik ilmu silat maupun ilmu pengobatan! Apalagi kalau dibantu nona Hua, eh tentu kami tidak khawatir lagi. Sayang, dia telah pergi." ucap Liu Hong yang raut wajahnya sedikit masam .
"Maksudmu gadis yang dulu datang bersama Liu Ceng dahulu itu? Hemm, memang, dia itu lihai sekali, terutama permainan kecapinya. Dan aku sudah tahu akan kelihaian Liu Ceng dan Hua Li. Kalian memiliki jurus meringankan tubuh yang tinggi, aku sendiri pun tidak mampu menandinginya." ucap Liu Tek sembari mengulas senyumnya.
"Ah, Ibu terlalu memuji saya," kata Liu Ceng yang tak enak hati.
"Hemm, aku menjadi tertarik. Siapakah gadis yang kalian semua amat mengaguminya itu?" tanya Liu Tek yang penasaran.
__ADS_1
"Dia memang seorang pendekar muda yang luar biasa, Ayah. Selain parasnya yang cantik, Ilmunya amat tinggi, wataknya juga gagah perkasa dan bijaksana, akan tetapi.." ucap Liu Hong yang belum selesai, dia memandang Liu Ceng dan tanpa diketahui orang lain, Liu Ceng memberi isyarat dengan kedipan mata dan gelengan kepala agar tidak menceritakan tentang peristiwa asmara mereka bertiga.
"Akan tetapi apa, Li Hong?" tanya ayah Liu Tek yang penasaran.
"Tidak apa-apa, Ayah. Pendeknya, Hua Li adalah seorang pendekar yang pantas menjadi penerus keluarga Hua yang gagah perkasa dan terkenal karena patriot-patriot besar, demikianlah yang kudengar." jawab Liu Hong yang mengalihkan ucapannya.
"Penerus keluarga Hua? Maksudmu, dia itu bermarga Hua?" tanya Liu Tek dan tampaknya terkejut.
Melihat Liu Hong agak ragu-ragu seolah takut kesalahan bicara dan menoleh, memandang kepadanya, Liu Ceng lalu menjawab.
"Benar sekali, Ayah. Nona Hua adalah penerus keluarga Hua yang terkenal sekali dan tinggal di aliran sungai kuning."jawab Liu Ceng yang menyahut dan membenarkan pertanyaan ayahnya.
...~¥~...
...Mohon dukungannya dan terima kasih telah memberikan Like/komentar/rate 5/gift maupun votenya untuk novel Petualangan Pendekar Kecapi ini....
...Semoga sehat selalu dan dalam Lindungan Allah Subhana wa Ta'alla....
...Aamiin Ya Robbal Alaamiin....
...Terima kasih...
...Bersambung...
__ADS_1