
"Bukan hanya demi keselamatanmu, tuan Putri. Tapi juga terutama sekali demi Adikku Liu Hong." jawab Liu Ceng dengan mengulas senyumnya.
"Kakak Ceng......!" panggil Liu Hong yang kemudian merangkul Liu Ceng penuh rasa haru akan tetapi juga bahagia. Dan Liu Ceng membalas merangkulnya dengan kasih sayang sebagai seorang kakak.
"Terima kasih kakak Ceng, sungguh engkau seorang yang bijaksana dan berhati mulia." lanjut ucap Liu Hong saat berada dalam pelukan Liu Ceng.
"Adik Hong, Tuan putri Yu benar, sebaiknya kamu menunggu di Pulau Ular. Kamu harus memberitahu tentang keinginan kamu menikah dengan tuan putri Yu kepada kedua orang tuamu. Aku yakin, tuan putri Yu adalah seorang putri sejati yang tidak akan mengingkari janjinya kepadamu, untuk memberitahukan kesiapannya untuk melakukan pernikahan." kata Liu Ceng.
"Adik Hua tolonglah bagi isi peti harta karun itu menjadi dua agar yang separuh dapat dibawa oleh tuan putri Yu ke kota raja." lanjut pinta Liu Ceng pada Hua Li yang kemudian melepas pelukannya pada adiknya itu
Hua Li hanya menganggukkan kepalanya. Dalam hatinya dia merasa penasaran, akan tetapi juga kagum dan terharu karena dia maklum sepenuhnya bahwa Liu Ceng melakukan hal itu demi kebahagiaan Liu Hong. Gadis itu lalu mengeluarkan semua isi peti dan membaginya separuh.
"Silakan bawa yang separuh itu, tuan putri Yu," kata Liu Ceng setelah kedua bagian harta karun itu dibungkus kain.
Tuan putri Yu mengangguk dan memberi hormat kepada Liu Ceng.
"Kakak Ceng, benar apa yang dikatakan Kakak Hong kalau kau adalah seorang pendekar yang berhati mulia dan bijaksana. Sayang sekali bahwa kita berdiri di dua pihak yang bertentangan. Akan tetapi aku merasa bangga dan bahagia mengetahui bahwa kakak Hong mempunyai seorang kakak angkat sepertimu. Terima kasih atas kerelaanmu ini." kata Tuan putri Yu yang kemudian mengambil sebuah buntalan kain dan digendongnya di punggung. Dan Liu Hong membantu mengangkatnya.
"Kakak Hong, kakak tunggulah di Pulau Ular dan aku akan segera mengirim utusan untuk memberitahukan kesiapanku. PercayaIah, aku tidak akan menyia-nyiakan cintamu dan kepercayaan kakak Ceng kepadaku. Nah, selamat berpisah untuk sementara." kakak Tuan putri Yu itu yang pamit pada Liu Hong.
"Iya adik Yauw, selamat jalan dan berhati-hatilah selalu dalam menempuh perjalanan ke kota raja." pesan Liu Hong yang kemudian keduanya saling berpelukan untuk terakhir kalinya.
Tuan putri Yu menganggukkan kepala dan mengulas senyumnya, lalu melangkah pergi diikuti pandangan mata ketiga orang muda yaitu Hua Li, Liu Ceng dan Liu Hong.
"Kakak Ceng, sekarang bagaimana rencanamu? Ke manakah engkau akan membawa harta karun itu?" tanya Hua Li kepada Liu Ceng setelah bayangan Tuan putri Yu itu lenyap di balik pohon-pohon.
__ADS_1
"Untuk sementara ini, harta karun itu akan kusimpan dulu adik Hua, sambil mencari keterangan dan menanti siapa pimpinan rakyat pejuang yang pantas menerimanya," kata Liu Ceng.
"Kakak Ceng, akan berbahaya sekali kalau engkau sendiri yang menyimpan harta karun itu, karena tentu akan banyak orang jahat yang akan mencoba untuk merampasnya darimu. Sebaiknya, kau bawa harta itu ke Pulau Ular. Di sana harta karun itu akan aman dan tidak ada orang berani sembarangan naik ke Pulau Ular untuk merampas harta karun. Lagi pula, kita dapat bertanya kepada ayah dan terutama kepada guru Ban-tok, pimpinan pejuang mana yang sekiranya pantas menerima harta karun itu." usul Liu Hong yang menatap kakaknya.
"Ucapan kakak Hong itu benar sekali, kakak Ceng. Memang tidak ada tempat yang lebih aman dan tepat untuk menyimpan harta karun itu daripada Pulau Ular." kata Hua Li yang menambahi.
"Dan aku pun membutuhkan bantuanmu untuk ikut meyakinkan hati ayah ibuku akan hubungan aku dengan tuan putri Yu, bahwa aku tidak salah pilih, kakak Ceng," bujuk pula Liu Hong.
"Baiklah, aku akan membawa harta karun itu ke Pulau Ular. Aku akan pergi bersamamu, adik Hong." balas Liu Ceng yang tersenyum dan menganggukkan kepalanya.
"Dan engkau sendiri, adik Hua? engkau hendak pergi ke manakah?" lanjut tanya Liu Ceng yang menatap Hua Li.
Pertanyaan Liu Ceng itu membuat Hua Li mengerutkan alisnya. Ke mana dia hendak pergi? Dia tidak mempunyai keluarga dan tidak ada sesuatu lagi yang harus dikerjakan.
"Aku...... aku...... akan melanjutkan perantauanku, kakak Ceng." jawab Hua Li yang sedikit bingung.
"Eh, kakak Hong! kenapa kau berkata begitu?" tanya Hua Li yang menata Liu Hong.
"Kau harus menemani kita pergi ke Pulau Ular, adik Hua!" seru Liu Hong.
"Apakah harus?" tanya Hua Li dengan mengerutkan alisnya. Biarpun hatinya ingin sekali pergi bersama mereka karena berat sekali rasanya kalau dia harus berpisah dari Lii Ceng, akan tetapi dia merasa penasaran juga kalau dipaksa.
"Ya, harus!" kata Liu Hong.
"Ada dua hal yang mengharuskan kau ikut bersama kami ke Pulau Ular, adik Hua. Pertama, kami membawa harta karun yang tentunya akan menjadi incara para tokoh dunia persilatan. Kedua, engkau adalah keponakan ayahku, ayah dan ibu amat mengharapkan bertemu denganmu dan apakah engkau tidak ingin bertemu dan memberi penghormatan kepada mereka?" jelas Liu Hong.
__ADS_1
Alasan-alasan yang dikemukakan Liu Hong amat kuat dan menolak dua alasan itu.
"Adik Hong, jangan terlalu memaksa adik Hua. Kalau dia tidak mau......" kata Liu Ceng yang belum selesai bicara, sudah didahului oleh Hua Li.
"Baiklah, aku ikut kalian ke Pulau Ular!" kata Hua Li dan ucapannya ini disambut senyum lebar dua orang pemuda itu.
Kemudian mereka berangkat, meninggalkan Pegunungan Tengkorak dan Liu Ceng serta Liu Hong yang menggendong buntalan harta karun itu di punggungnya.
Dua hari kemudian, pada suatu siang mereka bertiga baru meninggalkan daerah Pegunungan Tengkorak dan tiba di kaki pegunungan. Dari lereng paling bawah yang mereka tinggalkan tadi mereka melihat genteng banyak rumah, menandakan bahwa di sana terdapat perumahan orang, mungkin sebuah dusun yang lumayan keadaannya karena rumah-rumahnya sudah memakai genteng.
Mereka kini menuju ke perumahan itu untuk mencari makanan karena perut mereka sejak pagi tadi belum terisi.
Tiba-tiba berkelebat sesosok bayangan dan seorang laki-laki tinggi besar tahu-tahu sudah berdiri menghadang di tengah jalan. Laki-laki itu berusia sekitar lima puluh enam tahun, bertubuh tinggi besar, mukanya merah dan ditumbuhi jenggot dan kumis pendek yang terawat baik sehingga tampak gagah.
Tiga orang muda itu segera mengenal orang itu, karena dia adalah Cu Liong ketua perguruan Bukit Merak.
"Bukankah dia Cu Liong, ketua perguruan Bukit Merak?" bisik Hua Li kepada Liu Ceng dan Liu Hong seraya melirik ke arah Cu Liong.
... ~¥~...
...Mohon dukungannya dan terima kasih telah memberikan Like/komentar/rate 5/gift maupun votenya untuk novel Petualangan Pendekar Kecapi ini....
...Semoga sehat selalu dan dalam Lindungan Allah Subhana wa Ta'alla....
...Aamiin Ya Robbal Alaamiin....
__ADS_1
...Terima kasih...
...Bersambung...