Petualangan Pendekar Kecapi

Petualangan Pendekar Kecapi
Bab 154


__ADS_3

Sedangkan di tengah-tengah pasukan itu terdengar isak tangis para wanita yang berhimpitan di dalam gerobak yang ditarik dua ekor kuda.


Mereka yang ditinggalkan, yaitu kakek-kakek, nenek-nenak, wanita yang tidak terpilih, kanak-kanak, berkelompok di dalam dusun dan mereka itu menangis dan meatapi anak, suami, ayah, isteri atau puteri mereka yang dijadikan tawanan.


Ketika rombongan pasukan berkuda tiba di luar dusun, tiba-tiba terjadi kekacauan di barisan depan. Semua perajurit segera memacu kuda untuk melihat apa yang terjadi, dan mereka itu terkejut dan marah sekali melihat berapa orang kawan mereka sudah terjungkal dari atas kuda, dan kelihatan ada lima orang laki-laki gagah perkasa mengutik dengan pedang mereka.


Rupanya amukan lima orang pria perkasa itulah yang membuat terjungkalnya lima orang prajurit terdepan. Mereka adalah jago-jagoan dari perguruan Elang Sakti.


Dari cerita sebelumnya bahwa perguruan Elang Sakti yang dibakar dan banyak pendekar perguruan Sakti itu yang tewas dalam pertempuran besar ketika diserbu oleh pasukan pemerintah.


Para murid perguruan Elang Sakti melakukan perlawanan dengan hati yang luka, karena ketua mereka telah membakar diri sampai tewas untuk memprotes tindakan pemerintah itu.


Hanya ada enam orang di antara mereka yang dapat meloloskan diri dalam keadaan luka-luka. mereka lalu bergabung dengan para murid perguruan Elang Sakti yang kebetulan berada di luar perguruan dan yang tidak ikut terbasmi.


Para murid yang berhasil lolos itu dipimpin oleh Lie Koan, salah satu murid senior yang gagah perkasa, semenjak terjadi pembakaran di perguruan Elang Sakti.


Para pendekar dari perguruan Elang Sakti itu hidup bagai seorang buruan, berpencar dan Thian Gi sendiri, adik dari ketua perguruan Elang Sakti Thian Cu yang yelah membakar diri itu, bersembunyi di daerah selatan.


Lima orang laki-laki yang kini menyerbu pasukan yang menawan penduduk dusun Ki-nyan-tung, adalah para pendekar senior perguruan Elang Sakti yang kebetulan lewat di dekat dusun itu.


Mereka melihat apa yang terjadi dan marahlah para pendekar ini, lalu mereka mencabut pedang dan menyerang pasukan pemerintah yang bertindak sewenang-wenang itu.


Biar para pendekar ini telah kehilangan perguruan mereka, namun mereka sama sekali tidak kehilangan watak kependekaran mereka dan dengan penuh semangat mereka menyerang pasukan untuk membela para penduduk dusun yang dijadikan tawanan itu.


Tentu perwira perajurit menjadi marah melihat betapa beberapa orang kawan mereka roboh dengan luka berat, bahkan ada yang tewas.


Mereka lalu menyerbu dan mengepung, mengeroyok lima orang pendekar itu dengan senjata golok dan teriak mereka, juga komandan Lok Sek bersama dua orang perwira pembantunya yang lihai, sudah terjun ke dalam pertempuran itu.

__ADS_1


Lima orang pendekar perguruan Elang Sakti itu terkejut ketika melihat Gerakan sepasang golok di tangan komandan itu. Mereka mengenal ilmu golok pasangan dari perguruan Elang Sakti.


"Apakah kau murid perguruan Elang Sakti?" tanya seorang di antara para pendekar senior perguruan Elang Sakti itu yang sangat terkejut dengan gerakan silat dari Panglima Lok Sek.


"Ha....ha....ha...! Siapa murid perguruan Elang Sakti yang memberontak? Memang pernah aku mempelajari ilmu golok dari perguruan Elang sakti, akan tetapi itu bukan berarti bahwa aku murid perguruan Elang Sakti!" seru Panglima Lok Sek dengan dibarengi tawa yang penuh dengan ejekan.


Panglima Lok Sek terus mendesak orang yang menjadi lawannya, demikian pula dengan dua orang perwira pembantunya menggerakkan golok mereka dan dibantu oleh pulahan orang perajurit.


Walaupun lihainya lima orang pendekar perguruan Elang Sakti itu, mereka mulai terdesak hebat. Namun dengan gigih mereka melakukan perlawanan, memutar pedang mereka untuk melindungi tubuh dari ancaman puluhan batang senjata yang menyambar-nyambar ganas.


Karena banyaknya pengeroyok lima orang pendekar itu sukar untuk dapat membalas. Mereka tidak memperoleh kesempatan lagi, dan terpaksa hanya membela diri saja tanpa tanpa membalas.


Mereka berlima akhirnya terkena bacokan senjata para prajurit, walaupun luka ringan karena mereka memang memiliki tubuh yang kuat terlindung kekebalan, gerakan lincah dan juga putaran pedang mereka dapat melindungi diri mereka dari serangan maut.


Tapi jika dilanjutkan tak lama lagi tentu lima orang pendekar itu akan roboh dan tewas di bawah pengeroyokan demikian banyaknya lawan, namun mereka tidak merasa gentar.


Dalam keadaan yang amat berbahaya itu, tiba-tiba muncul seorang pemuda yang bertubuh tinggi besar. Pemuda ini bukan lain adalah Han Beng. Dari jauh sudah dia tertarik oleh suara hiruk pikuk yang bertempur.


Biarpun dia sudah menerima pesan suhunya agar tidak mencampuri urusan orang lain, namun hatinya tertarik dan dia cepat berlari menuju ke arah suara keributan itu. Dan dia melihat puluhan orang dusun yang dibelenggu dan diikat dengan rantai panjang, melihat pula belasan orang wanita muda yang berhimpitan di dalam gerobak, dan lima orang gagah yang keroyok oleh puluhan orang perajurit dan lima orang itu telah menderita luka-luka.


Melihat ini, Han Beng yang cerdik segera dapat menduga apa yang telah terjadi. Dia sendiri ketika masih kecil, lima tahun yang lalu, terpaksa harus lari mengungsi bersama ayah ibunya, karena ayahnya takut dijadikan pekerja paksa oleh pasuka pemerintah.


Dan pada saat ini dia melihat puluhan orang petani belenggu, dan wanita-wanita muda ditawan, dia dapat menduga bahwa tentu para petani itu akan dijadikan pekerja paksa.


Lima orang gagah itu tentulah orang-orang berhati pendekar yang hendak membela puluhan orang petani itu.


"Berhenti...! Harap hentikan perkelahian ini!"

__ADS_1


Han Beng membentak sambil mengerahkan tenaga dalamnya.


Suaranya melengking nyaring, mengejut semua orang dan lima orang pendekar Elang Sakti itu mendapatkan kesempatan untuk berloncatan mundur karena para pengeroyok mereka terkejutdan menahan senjata.


"Panglima! Kenapa orang-orang itu diborgol dan wanita-wanita itu tawan? Hendak dibawa ke manakah mereka, dan apa kesalahan mereka?" tanya Han Beng kepada Panglima Lok Sek yang berpakaian perwira walaupun juga seragamnya itu berwarna hitam.


"Mereka ditangkap untuk dijadikan pekerja paksa membuat Terusan, dan wanita-wanita itu akan mereka perkosa, dan kami berlima mencoba untuk menolong para tawanan!" seorang pendekar senior perguruan Elang Sakti yang cepat memberi keterangan agar pihak pasukan tidak sempat berbohong.


Mendengar hal ini, panglima Lok Sek yang sudah marah sekali karena ada orang berani mencampuri, menggerakkan sepasang goloknya dan menudingkan golok kanan ke arah wajah Han Beng.


"Bocah sombong, jangan mencampuri Urusan pemerintah! Mereka itu akan diberi pekerjaan sebagai wajib kerja dan Lima orang penjahat ini hendak memberontak dan menentang pemerintah! Apakah kau juga hendak memberontak berhadap kami pasukan pemerintah!" bentak panglima Lok Sek.


"Hm, kalau hendak memberi pekerjaan kepada para petani, bukan begitu caranya. Bukan seperti hewan digiring ke pejagalan! Dan wanita-wanita itu, mereka menangis, berarti mereka pergi karena kalian paksa!" seru Han Beng yang menyempatkan diri menatap ke arah para penduduk yang menjadi tahanan itu.


"Bunuh pemberontak ini!" seru Lok Sek yang sedang marah.


....~¥~...


...Mohon dukungannya dan terima kasih telah memberikan Like/komentar/rate 5/gift maupun votenya untuk novel Petualangan Pendekar Kecapi ini....


...Semoga sehat selalu dan dalam Lindungan Allah Subhana wa Ta'alla....


...Aamiin Ya Robbal Alaamiin....


...Terima kasih...


...Bersambung...

__ADS_1


.


__ADS_2