
Wah...kalau begitu aku masuk rombongan yang mana?" Si Pendeta PaIsu ghaib dari Teluk Po-hai itu bertanya karena bingung.
"Sebaiknya pendekar menghubungi sahabatmu dari kelima rombongan itu. Pendekar bisa menghubungi pimpinannya. Rombongan pertama dipimpin sendiri oleh pendekar Kang Lam. Rombongan kedua dipimpin oleh Ketua perguruan Tai-khek, Yang Su. Rombongan ketiga dipimpin oleh Ketua perguruan Tiam-jong, Hek-pian.
Rombongan ke empat dipimpin oleh Ketua perguruan Ngo Bi. Ang kin. Dan rombongan terakhir dipimpin oleh ayahku sendiri, Kong An." jelas Ji Tai yang memberikan pandangannya.
"Tetapi yang lebih baik pendekar menghubungi pendekar Kang Lam saja. Sebab selain dia itu menjabat sebagai pimpinan umum, dia bisa mencarikan rombongan yang cocok buat pendekar nanti." kata Tai Song yang cerdik itu menyela
"Saudariku, demikian banyaknya pendekar-pendekar persilatan yang hadir, tapi kenapa tak satupun terdengar para pemimpin Im-Yang-kauw?" tanya Yui Lan yang tiba-tiba kepada wanita pendeta palsu itu.
"Sepertinya aku belum bercerita bahwa di kuil Pusat kita terdapat tokoh-tokoh sakti yang mempunyai kesaktian seperti dewa." jawab wanita pendeta palsu.
"Wah, kau ini benar-benar ceroboh sekali! Tentu saja beliau-beliau itu tidak mempunyai minat sama sekali terhadap urusan-urusan seperti ini. Beliau-beliau itu cuma memikirkan masalah keagamaan saja setiap harinya. Lain tidak..." lanjutnya
"Tapi saudariku katanya beberapa orang diantara mereka itu pernah menggegerkan persilatan beberapa tahun yang lalu. Misalnya bukankah ada yang bergelar Lojin-ong atau Manusia Pencabut Nyawa itu! beliau itu bersama dengan Pengurus Keagamaan Pusat yang bernama Tong Ciak, pernah malang-melintang di dunia kang-ow tanpa lawan..." kata Yui Lan yang penasaran.
"Ah, itu kan dulu! beliau itu keluar kuil karena masalah agama atau urusan kita. Beliau itu terpaksa keluar oleh karena telah terjadi bentrokan antara pengikut aliran kita dengan para pengikut aliran Beng kauw dan Mo-kauw!" seru wanita pendeta palsu itu, dan Yui Lan mengerutkan keningnya.
"Apakah kedua aliran kepercayaan itu juga mempunyai tokoh-tokoh sakti pula sehingga mereka itu berani melawan kita?" tanya Yui Lan.
"Kau ini bodoh benar! Tentu saja mereka itu mempunyai tokoh-tokoh sakti pula. Kalau tidak, kenapa mereka berani bentrok dengan kita!" seru Wanita pendeta palsu itu.
"Siapa sajakah mereka itu?" tanya Yui Lan yang mendesak dengan nada sedikit memaksa.
"Aaaah...kau ini mau apa bertanya tentang mereka? Mau mengajak berkelahi? Jangan mengada-ada! Kemampuan kamu itu tak sebanding dengan mereka!" seru Si Pendeta Palsu Dari Teluk Po-hai itu yang membentak Yui Lan, namun bibirnya tampak sedikit tersenyum.
__ADS_1
"Bukan begitu, aku memang tidak suka berkelahi tapi aku sangat mengagumi keperwiraan dan kesaktian seseorang, yang digunakan untuk mencipta kebaikan dan kedamaian dunia seperti beliau-beliau itu!" kata Yui Lan dengan mengerutkan bibirnya.
"Omong kosong! Siapakah yang mencipta kedamaian dan kebaikan melalui bentrokan dan perkelahian yang membawa korban jiwa? Siapa...!" seru Wanita si pendeta palsu itu dengan geram.
"Ah... semua itu hanya karena salah paham saja! Tak sebuahpun agama yang menganjurkan pertumpahan darah di dunia ini. Apalagi beliau-beliau itu adalah penganut dan pengurus agama yang tekun. Tak mungkin rasanya kalau mereka itu menjadi lalai dan terhanyut ke dalam arus buruk yang tak mereka kehendaki sendiri." kata Yui Lan yang dengan cepat menyanggah. Si Pendeta Palsu Dari Teluk Po-hai itu terperangah,
"Nah! Kau sudah mulai dengan pidato kamu lagi!" hardik wanita si pendeta palsu itu, hal itu membuat Yui Lan menjadi kaget pula.
"Oh, maafkan aku!" pinta Yui Lan dengan cepat. Mereka lalu saling diam.
Perempuan tua itu mempercepat langkahnya, sehingga Yui Lan terpaksa mengikutinya pula. Dan gadis itu sudah tidak berani pula untuk bertanya-tanya lagi. Keinginannya untuk mengetahui tokoh-tokoh tingkat tinggi itu dipendamnya saja didalam hati.
Beberapa waktu kemudian tembok kota Soh-ciu telah terlihat di depan mata mereka. Bangunannya yang tinggi-kokoh mengelilingi kota itu tampak megah dan perkasa, meskipun dinding-dindingnya telah berwarna kehitaman dimakan jamur. Pintu gerbangnya yang luar biasa besar itu dicat dengan warna merah tua, meskipun di beberapa tempat juga telah luntur dimakan usia tua pula.
Parit dalam dan lebar yang digali mengelilingi tembok itu tampak penuh dengan air, sehingga sepintas lalu bagaikan sebuah sungai yang mengalir mengitari kota Soh-ciu. Yui Lan dan Wanita si pendeta palsu itu melintasi jembatan gantung yang melintang di atas parit itu.
Pintu gerbang itu dijaga oleh enam orang perajurit bersenjata tombak, mata mereka segera melotot begitu melihat Yui Lan datang. Empat orang diantara mereka segera mencegat langkah perempuan itu.
"Berhenti sebentar! Nona siapa dan datang dari mana? Apakah nona tidak tahu kalau kota ini sedang dilanda kerusuhan? Mengapa nona datang kemari?" salah seorang bertanya.
Wajahnya yang kasar itu tampak berkeringat, sementara tombaknya yang panjang itu dilintangkan di depan Yui Lan. Yui Lan berhenti dan melirik ke arah wanita si pendeta palsu itu yang berdiri tak jauh darinya.
"Terima kasih! Cuwi tak usah mengkhawatirkan nasib kami berdua. Kedatangan kami kemari sekali ini justru hendak menengok atau melihat-lihat kerusuhan itu. Kami berdua ingin melihat macam apa Si Iblis Penyebar Maut yang ditakuti orang itu. Nah... bolehkah kami lewat sekarang?" kata sekaligus tanya Yui Lan dengan tenang dan halus.
Para penjaga itu tersentak kaget. Begitu pula dengan orang-orang yang tanpa sengaja berhenti memperhatikan mereka. Semua orang malah menjadi gelagapan melihat ketenangan gadis cantik itu dan semua orang itu baru menjadi sadar tatkala Yui Lan dan wanita si pendeta palsu itu tiba-tiba telah lenyap dari tempat mereka.
__ADS_1
Para penjaga itu melongo dan membalikkan badan mereka. Dan mereka melihat gadis cantik itu telah melangkah memasuki kota bersama perempuan tua itu. Semuanya benar-benar tidak tahu cara bagaimana kedua wanita itu lewat dari depan mereka. Semuanya hanya melihat perempuan tua itu berkelebat cepat ke depan, seperti menyambar ke arah gadis cantik itu, dan kemudian hilang lenyap dari pandangan mereka.
"Uh! Ternyata... ternyata mereka berkepandaian tinggi!" penjaga itu bergumam kecewa malah, karena tak bisa menggoda gadis yang sangat menarik hatinya itu.
"Ya! Untunglah gadis itu tidak menjadi marah!" seru yang lainnya.
Sementara itu Yui Lan dan wanita si pendeta palsu telah melangkah jauh meninggalkan mereka.
"Saudariku, kemanakah kita sekarang?" tanya Yui Lan setelah beberapa saat lamanya mereka berjalan masuk di dalam kota.
"Kita cari makan dahulu. Nah, di seberang jalan itu ada restoran! Mari kita ke sana!" jawab Wanita si pendeta palsu itu.
Sekali lagi kedatangan mereka didalam restoran itu telah menarik perhatian semua orang. Selain Tui Lan itu memang sangat cantik, di dalam ruangan yang penuh pengunjung itu memang tiada wanita lain selain mereka berdua.
Namun demikian wanita si pendeta palsu itu tenang-tenang saja ketika mengajak Yui Lan duduk di kursi yang tersedia. Yui Lan melirik ke sekitarnya.
Yui Lan atau Hua Li melihat semua mata memandang yang ke arah dirinya, sehingga diam-diam ia menjadi kikuk juga.
...~¥~...
...Mohon dukungannya dan terima kasih telah memberikan Like/komentar/rate 5/gift maupun votenya untuk novel Petualangan Pendekar Kecapi ini....
...Semoga sehat selalu dan dalam Lindungan Allah Subhana wa Ta'alla....
...Aamiin Ya Robbal Alaamiin....
__ADS_1
...Terima kasih...
...Bersambung...