Petualangan Pendekar Kecapi

Petualangan Pendekar Kecapi
Bab 143


__ADS_3

"Benar Guru, pada awalnya hanya merupakan perkelahian antara dua orang saja, akan tetapi kawan-kawan mereka berdatangan sehingga akhirnya kakak Hu Siok sendiri bersama beberapa orang kakak seperguruan pergi ke sana." kata murid ketiga.


"Karena khawatir, maka kami berunding dengan para kakak seperguruan yang masih berada di sini, dengan segera menghadap guru untuk memberi laporan." jelas murid yang kedua.


"Mereka itu sungguh tidak tahu diri!" seru Ketua Thian Cu dengan marah dan dia mengepal tinju.


Melihat sikap adik seperguruannya ini, Hek Bin mengulas senyumnya.


Dengan cepat sekali pendekar tua Hek-bin berlari turun dari Bukit Siong sebelah selatan. Bagaikan terbang saja dia menuruni bukit itu sehingga tidak lama kemudian dia sudah sampai di kaki bukit, di mana dia melihat terjadi pertempuran yang sengit antara belasan orang murid Perguruan Elang Sakti melawan belasan orang pendekar aliran hitam.


Para murid perguruan Elang sakti itu itu dipimpin oleh seorang pendekar tua tinggi besar yang dikenalnya sebagai pendekar tua Thian Gi , yaitu adik dari ketua Thian Cu dan yang menjadi wakil ketua perguruan Elang Sakti.


Pertempuran yang terjadi di bukit itu memang tadinya disebab oleh perkelahian perorangan antara seorang murid perguruan Elang Sakti melawan seorang pendekar aliran hitam yang lewat di tempat itu.


Karena memang sudah ada permusuhan antara kedua pihak, maka terjadilah saling mengejek yang berakhir dengan perkelahian. Akan tetapi, teman-teman pendekar aliran hitam itu berdatangan dan mengeroyok. Hal ini diketahui oleh murid-murid perguruan Elang Sakti yang segera membantu saudara mereka, dan terjadilah pertempuran hebat yang melibatkan belasan orang murid perguruan Elang Sakti melawan belasan orang pendekar aliran hitam itu.


Para murid perguruan Elang Sakti yang terlibat dalam pertempuran itu adalah murid-murid kelas satu dan dipimpin sendiri oleh Pendekar tua Thian Gi, sedangkan para pendekar aliran hitam itu pun orang-orang yang memiliki ilmu silat tinggi, dan karena itulah pertempuran menjadi seru bukan main dan sampai pendekar tua Hek Bin tiba disitu belum ada yang terluka parah.


Namun kakek ini tahu jika kalau dilanjutkan tentu kedua pihak akan menderita hebat dan jatuhnya banyak korban di kedua pihak takkan dapat dihindarkan lagi.


Wakil ketua Thian Gi yang amat lihai itu memperoleh seorang lawan yang juga amat lihai, yaitu seorang pendekar aliran hitam berjenggot panjang yang memainkan sepasang pedang dengan amat baiknya.


Tongkat yang ada di tangan Wakil ketua Thian Gi, digerakkan amat cepat berubah menjadi gulungan sinar yang lebar itu saling desak dengan gulungan sinar pedang di tangan kanannya.


Pertempuran itu sudah mempergunakan senjata dan sewaktu-waktu pasti akan jatuh korban..Dan satu-satunya usaha terbaik untuk melerai dan mendamaikan dua pihak yang bertentangan adalah mengundurkan pihaknya sendiri lebih dahulu.


"Saudara-saudaraku dari perguruan Elang Sakti, kuminta kepada kalian, mundurlah dan hentikan perkelahian!" seru pendeka tuar Hek Cu seraya menatap satu persatu orang yang ada dihadapannya.

__ADS_1


Pendekar tua Hek Bin


melompat ke medan pertempuran dan menggunakan kedua tangannya untuk melakukan dorongan-dorongan ke arah wakil ketua Thian Gi dan para murid perguruan Elang Sakti.


Dari kedua tangannya menyambar hawa yang lembut namun amat kuatnya, membuat para murid perguruan Elang sakti itu terkejut dan terdorong mundur.


"Mundurlah kalian, Saudara-saudaraku!" seru sesosok bayangan pakaian putih berkelebat, seperti yang dilakukan oleh pendekar tua Hek Bin bayang putih ini pun mendorong ke arah para pendekar aliran hitam sehingga mereka terpaksa mundur. Dan akhirnya berhentilah pertempuran itu.


 Wakil ketua Thian Gi dan para murid Siauw-lim-pai yang tadinya merasa penasaran melihat ada orang menghalangi mereka, ketika melihat bahwa yang menghalangi adalah pendekar tua bermuka hitam, mereka terkejut.


Biarpun baru dua kali mereka bertemu denga pendekar tua Hek. Biin mereka semua telah mengenalnya sebagai Kaka seperguruan dari ketua mereka dan memiliki ilmu kepandaian yang amat tinggi, lebih lihai daripada ketua mereka.


Maka kemarahan wakil ketua Thian Gi seketika lenyap, berubah menjadi keheranan dan juga penasaran, kenapa kakak seperguruan dari ketua perguruan Elang Saktii ini, yang biarpun bukan anggauta perguruan Elang Sakti yang melerai perkelahian itu.


Sementara itu, para pendekar aliran hitam terkejut melihat bayangan putih yang juga melerai dan mengundurkan mereka, mereka mengenal pendekar tua yang berjenggot panjang dan berjubah putih itu,.


Mereka saling pandang, keduanya tersenyum dan pendekar tua Hek Bin yang lebih dulu tertawa.


"Ha.....ha....ha.....¡ sungguh menyenangkan telah bertemu dengan seorang bijaksana, apakah saya berhadapan dengan Pek Ji?" tanya Pendekar tua Hek Bin yang menatap pendekar tua aliran hitam yang bernama Pek Ji itu.


Pek Ji .mengelus jenggotnya dan perlebar senyumnya.


"Ha...ha...ha...! sudah lama saya mendengar nama besar dan sungguh bahagia rasanya saya hari ini dapat berhadapan demgan anda!" balas seru pendekar tua Pek Ji itu.


Keduanya tertawa gembira dan dua jika yang tadi saling berkelahi dan kini berkelompok, hanya mendengarkan tanpa mengeluarkan kata-kata. Mereka masing-masing mengharapkan agar orang sakti-sakti itu membantu pihak masing-masing.


"Saudaraku Pek Ji benar-benar mengenakan pakaian putih sesuai dengan julukanmu!" seru Pendekar tua Hek Bin.

__ADS_1


"Benar, dan saudaraku Hek Bin juga mempunyai muka hitam sesuai dengan jukannya!" balas pendekar tua Pek yang kembali keduanya tertawa lebar.


Keduanya kemudian melangkah maju dan saling berpegang kedua tangan dengan sikap yang penuh damai.


Kata-kata yang keluar dari mulut dua orang sakti itu seperti kelakar saja, namun sesungguhnya mengandung pernyataan yang membuka kebenaran.


"Pendekar tua Hek Bin, kau aku tiada bedanya!" seru Pendekar tua Pek Ji.


"Memang kau dan aku sama juga Karena itu, sungguh menyedihkan melihat saudara-saudara kita saling hantam, saling benci dan berusaha untuk saling bunuh. Mari kita bicarakan baik-baik, pendekar tua Pek Ji!" balas pendekar tua Hek Bin.


"Ha...ha...ha...! kau benar sekali pendekar tua Hek Bin, mari kita duduk dan bicara." kata pendekar Pek Ji yang menunjukkan tempat untuk mereka duduk.


Keduanya lalu duduk bersila di atas tanah, saling berhadapan dan melihat ini, kedua kelompok yang sejak tadi berdiri melihat dan mendengarkan, ikut pula duduk di atas tanah.


"Saudaraku Hek Bin, sekarang selagi kita mempunyai keberuntungan untuk saling bertemu, saya harap kau tidak pelit dan suka memberi penerangan kepada kami para pendekar yang bodoh." kata Pendekar tua Pek Ji yang merendah.


...~¥~...


...Mohon dukungannya dan terima kasih telah memberikan Like/komentar/rate 5/gift maupun votenya untuk novel Petualangan Pendekar Kecapi ini....


...Semoga sehat selalu dan dalam Lindungan Allah Subhana wa Ta'alla....


...Aamiin Ya Robbal Alaamiin....


...Terima kasih...


...Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2