
Orang ini adalah gurunya, bahkan mengaku sebagai ayah kandung, akan tetapi kini bersikeras hendak membunuhnya.
Karena merasa disudutkan, dihimpit dan direndahkan bangkit kemarahan dalam hati pemuda yang wataknya juga amat aneh ini, tahu betapa lihainya orang yang selama ini dianggap gurunya, dan dia harus me ngerahkan seluruh tenaga dan kepandaiannnya untuk melawan. Dia harus dapat membunuhnya lebih dulu sebelum dibunuh.
Beng Cu sudah menyerang Hong Lan lagi, dengan dahsyat bagaikan seekor naga yang sedang mengamuk.
Akan tetapi sekali ini Hong Lan tidak hanya menghindar, melainkan mengelak lalu langsung membalas dan di lain saat, guru dan murid itu telah saling serang dengan hebatnya. Karena ilmu silat yang mereka pergunakan dalam pertandingan ini sama, maka dipandang sepintas lalu mereka itu seperti sedang berlatih saja. Tapi sesungguhnya tidak demikian karena keduanya mengerahkan seluruh tenaga mereka dan perkelahian itu.
Setiap jurus yang digerakkan mempunyai tujuan membunuh! Dari mulut mereka kini menyembur uap putih kemerahan yang amat panas, dan cengkeraman mereka semakin dahsyat, tendangan yang berupa jurus naga menyabetkan ekor itu pun kalau mengenai tubuh lawan tentu akan berakibat hebat.
Beberapa batang pohon yang tumbuh di kanan kiri gua itu seperti dilanda angin badai, dan karena mereka berkelahi di depan gua, maka suara angin pukulan mereka memasuki gua dan menimbulkan gema suara mengaung yang mengerikan.Tanah dan debu beterbangan di bawah kaki mereka.
Bagaimanapun juga, tentu saja ilmu yang dimiliki Beng Cu lebih matang dibandingkan Hong Lan, maka setelah lewat puluhan jurus, pemuda itu terdesak dan lebih banyak mengelak dan menangkis daripada menyerang.
Namun pemuda ini mewarisi seluruh ilmu gurunya dan karena dia memang berbakat baik, maka dia telah mengusai ilmu-ilmu itu. Dan untuk menebus kekalahannya dalam pengalaman, pemuda ini lebih menang dalam hal napas dan tenaga.
Gurunya sudah mulai berkeringat dan napasnya memburu, sedangkan dia sendiri masih segar bugar. Hal ini agaknya disadari pula oleh Beng Cu. Karena itu dia jangan sampai akhirnya kalah, dia mengeluarkan suara melengking panjang dan nampak sinar berkilauan ketika dia mencabut pedarngnya.
"Bagus, mari kita mengadu nyawa!" seru Hong Lan sambil membentak, dia pun mencabut pedangnya.
"Trang... Trang...Trang....trang.....!"
Bunga api berpijar dan suara nyaring bergema kedalam gua ketika beberapa kali pedang-pedang itu saling bertemu. Kini mereka saling serang dengan pedang dan beberapa kali pedang mereka saling bertemu dengan amat kuatnya.
Namun, setiap kali pedang bertemu, nampak tubuh Beng Cu bergetar hebat.
"Wuuuttt .........singgggg.........!"
Hong Lan terkejut bukan main. Serangan gurunya tadi amat dahsyatnya sehingga nyaris lehernya terbabat putus. Untung dia masih sempat merendahkan tubuhnya sehingga hanya segumpal rambut saja yang terbabat dan rambut itu pun berhamburan.
__ADS_1
Pedang di tangan Beng Cu itu masih meluncur terus kebelakangnya.
"Crokkk....!"
Batang pohon di belang pemuda itu terbabat dan tumbang! Demikian hebatnya sambaran pedang ditangan kakek raksasa itu.
"Singgggg.....!"
Hong Lan tidak mau membuang kesempatan itu dan pedangnya sudah meluncur ke depan, menusuk ke bawah pangkal lengan mengarah dada kanan gurunya.
"Tranggggg............!"
Beng Cu masih mampu menangkis, akan tetapi tangkisan pedang itu yang agak lambat membuat dia terhuyung ke belakang. Hong Lan terus mendesak dan terjadilah lanjutan perkelahian yang lebih seru lagi.
Karena ilmu pedang mereka itu sama, maka perkelahian seperti latihan saja. Walaupun setiap pedang menyambar, selalu merupakan serangan maut. Namun bagi Hong Lan pertandingan itu sama sekali bukan merupakan latihan, karena dia tahu bahwa kakek yang selama ini dianggap guru itu benar-benar berusaha keras hendak membunuhnya.
Pertandingan berlangsung seru setelah lewat seratus jurus, mulai gerakan Beng Cu mengendur bukan hanya dia kehabisan tenaga, akan tetapi juga napasnya terengah-engah.
Tubuhnya sudah basah oleh keringat dan gerakan kaki maupun tangannya sudah tidak mantap lagi. Melihat ini, Hong Lan bukan mengalah, bahkan dia mempercepat dan memperkuat serangan-serangan-sehingga kakek itu benar-benar terdesak hebat.
"Cringgg......tanggg...... Cepp....!"
Dua kali sepasang pedang itu bertemu degan amat kerasnya dan pedang di tangan kakek itu terpental, disusul masuknya pedang di tangan Hong Lan yang menusuk ke depan dan memasuki dada gurunya dan hampir menembus punggung.
Peristiwa ini hampir tidak nampak saking cepatnya gerakan pedang dan juga kakek itu nampak hanya berdiri mematung, pedangnya masih berada di tangan kanan sedangkan tangan kiri mendekap dada, matanya mendelik memandang ke arah Hong Lan, dan tiba-tiba saja dia tertawa bergelak.
"Bagus, ha...ha...ha.....! bagus sekali! Kau telah dapat mengalahkan aku, ha...ha....ha...! kau telah dapat membunuhku, berarti kau telah mewarisi seluruh kepandaianku dan kau telah siap untuk menjadi jagoan tak terkalahkan di dunia persilatan! ha...ha...ha...!" seru Beng Cu dengan diiringi tawanya.
Mendengar ucapan ini dan melihat kakek itu terhuyung, pedangnya terlempar lalu roboh terguling, barulah Hong Lan tersadar bahwa gurunya tadi memang sengaja mengujinya sampai akhir, dengan taruhan nyawa.
__ADS_1
Dia pun dengan cepat berlutut dekat tubuh gurunya.
"Guru...! benarkah guru juga Ayah kandungku?" tanya Hong Lan sembari terisak.
Darah itu mengalir melalui celah-celah antara jari tangan kiri yang mendekap luka di dada. Wajah singa itu tersenyum lebar.
"Kenapa tidak benar? Dulu sekali namaku adalah Can Siok, maka margamu Can. Dan Ibumu adalah puteri bangsawan Nepal itu. Aku....... ah, aku menderita bertahun-tahun karena kehilangan wanita yang kucinta. Segala perbuatan kulakukan untuk menghibur diri dan melupakannya. Akan tetapi gagal aku setiap malam bermimpi dan setiap siang terkenang. Hanya karena kau lah aku hidup sampai sekarang. Kau mirip sekali Ibumu, maka aku mengemblengmu sampai tamat. Dan ujian hari ini........... berarti kau lulus dan kau yang mengantar aku menyusul Ibumu! Ha....ha....ha...!" seru kakek itu yang tertawa lebar.
Dan terus sampai akhirnya suara ketawanya makin lemah, lalu diam tak terdengar lagi juga tubuhnya terkulai lemas. Ketika Hong Lan merabanya, tahulah dia hahwa gurunya yang juga ayahnya, telah tewas.
Dan tiba-tiba pemuda itu menangis menggerung-gerung memeluk mayat ayah kandungnya. Dia menangis bukan karena menyesalan, melainkan karena merasa sengsara, sebatang kara di dunia.
Akan tetapi tidak lama dia menangis. Di lain saat dia sudah bangkit berdiri, memandang mayat ayahnya yang telentang itu. Sepasang mata yang lebar Itu masih terbuka, mendelik, mulut itu agak ternganga dan bagian depan tubuh mayat itu berlepotan darah. Dan dia merasa bangga.
"Ha..ha....ha....!"
Hong Lan tertawa, tidak senyaring ketawa ayahnya, melainkan suara Ketawa yang ditahan-tahan yang terdengar sangat menyeramkan,
...~¥~...
...Mohon dukungannya dan terima kasih telah memberikan Like/komentar/rate 5/gift maupun votenya untuk novel Petualangan Pendekar Kecapi ini....
...Semoga sehat selalu dan dalam Lindungan Allah Subhana wa Ta'alla....
...Aamiin Ya Robbal Alaamiin....
...Terima kasih...
...Bersambung...
__ADS_1