
"Maafkan kawanku, Saudari...!" kata Yui Lan yang tak bisa lagi menjawab.
Diingatkan kembali pada sejarah hidupnya, Yui Lan benar-benar tak kuasa membendung air-matanya. Yui Lan menangis tersedu-sedu dan perempuan tua itu tersenyum di dalam hati.
Dan korban kebiadabannya sudah tidak dapat dihitung lagi, sehingga kota Soh-ciu dan sekitarnya benar-benar telah berubah menjadi neraka yang mengerikan bagi para penghuninya.
Diingatkan kembali pada sejarah hidupnya, Yui Lan benar-benar tak kuasa membendung air-matanya. Yui Lan menangis tersedu-sedu dan perempuan tua itu tersenyum di dalam hati.
Dibiarkannya saja Yui Lan mengingat dendam dan sakit-hati keluarganya. Sementara itu padang rumput yang mereka lalui semakin menipis. Kini tanahnya mulai keras bercampur padas, dengan batu batu besar bertonjolan di sana-sini. Mereka telah mencapai kaki bukit yang mengelilingi kota Soh-ciu. Bukit yang tinggi terjal dengan jurang-jurangnya yang dalam.
"Saudari ..!" panggil Yui Lan diantara isaknya.
'"Entah apa sebabnya selama beberapa bulan ini hati kawanku selalu resah dan bingung bila memikirkan dendam-kesumat itu. Dahulu kawanku memang merasa dendam kepada penjahat itu. Tapi setelah kawanku menjadi dewasa dan"dan banyak membaca buku-buku keagamaan milik Saudari, entah kenapa perasaan dendam itu secara berangsur-angsur menjadi larut, sehingga akhirnya lenyap dari hati Saudari. Ouuuugh..maafkanlah kawanku, Saudari....uh-huuuu...I" kata Yui Lan yang tidak bisa menahan tangisnya.
Yui Lan menangis tersedu-sedu. Perempuan tua itu tersentak kaget. Senyum yang tadi sudah teralas di atas bibirnya hilang seketika. Wajah perempuan tua itu kembali keras dan kaku. Giginya terdengar gemeretak menahan geram.
"Lalu.. apa maumu sekarang?" bentak perempuan itu dengan suara berat.
"Saudari, marilah kita lupakan saja dendam kesumat itu! Marilah kita membangun kembali kehidupan yang tenteram dan damai di rumah kita! Kita... kita..." kata Yui Lan yang tertahan.
"Jadi? Bagaimana dengan dendam kesumat keluargamu itu?" tanya Pendeta Palsu Dari Teluk Po-hai yang menggeram menahan marah.
Yui Lan menunduk semakin dalam dan tubuhnya semakin keras terguncang oleh sedu-sedannya. Namun dengan segala kekuatan hatinya Yui Lan menjawab pertanyaan Saudarinya.
"Bi-biarlah... kita kita serahkan saja semuanya i-itu kepada Tuhan. Karena Dia-lah yang berhak mengatur seluruh kehidupan alam-semesta ini. Ki-kita...tak perlu dan ma lah berdosa besar bila... bila berani mencampuriNya. Kewajiban kita justru men-menjaga dan melestarikan semua ciptaannya, dan... bukan merusak atau memusnahkannya!" jelas Yui Lan.
__ADS_1
Betapa marahnya perempuan tua itu kepada Yui Lan! Rasa-rasanya ia ingin meloncat dan menghantam remuk kepala kawankunya yang tertunduk itu! Tapi niat itu segera luntur begitu menyaksikan wajah yang pucat-pasi itu seolah-olah memancarkan sinar kedamaian yang menyejukkan hati.
Larut semua kemarahannya, dan mendadak timbul kembali rasa sayangnya kepada Yui Lan. Namun demikian masih ada juga perasaan kecewa yang mengganjal di hati perempuan tua itu.
"Hatimu memang terlalu lemah. Yui Lan." seru Pendeta Palsu Dari Teluk Po-hai itu yang berdesah kecewa.
"Dan hal itu sudah kuketahui sejak dahulu. Perasaanmu demikian halusnya sehingga menyakiti seekor semutpun kau tak tega. Tetapi aku selalu berusaha membangkitkan semangatmu, dengan mengajarimu ilmu silat dan memberimu contoh-contoh kekerasan agar supaya hatimu terusik dan bisa tumbuh menjadi seorang pendekar wanita yang gagah berani. Dan dengan demikian cita-cita ibumu dahulu bisa terlaksana, yaitu membalaskan dendam keluargamu!" lanjut seru pendeta palsu itu.
Tangis yang hampir mereda itu jebol kembali. Yui Lan merasa sangat berdosa karena telah mengecewakan harapan Saudarinya, dan juga harapan mendiang orang tuanya.
"Tapi, tapi entahlah, Saudari benar-benar tidak tahu apa yang telah terjadi pada diri kawanku. kawanku selalu tidak tahan melihat kekerasan berlangsung di depan mata kawanku oooohh"!" kata Yui Lan yang merintih dan terisak-isak.
Pendeta Palsu Dari Teluk Po-hai itu menghela napas panjang.
"Baiklah"! Baiklah"! Kau jangan menangis lagi! Kalau engkau tak kuasa melakukannya, biarlah aku saja yang mewakilimu membalaskan dendam itu." kata pendeta palsu itu.
"Sudahlah! Kau jangan cengeng begitu. Malu aku melihatnya! Lihat"! Kita harus mendaki bukit terjal dengan kuda kita. Berhati-hatilah! Kita telah mendekati kota Soh-ciu. Siapa tahu si Iblis Penyebar Maut itu bersembunyi di bukit ini" kata Pendeta Palsu dari Teluk Po-hai itu memberi peringatan lalu mengeprak kudanya menaiki jalan setapak yang membubung ke atas bukit.
Binatang kecil itu mengerahkan seluruh kekuatannya. Dibawanya beban yang sangat berat itu ke atas bukit.Keempat buah kakinya yang pendek namun sangat kokoh itu menjejaki tanah berpadas dengan kuatnya. Peluh tampak mengucur membasahi bulu-bulunya yang panjang dan tebal. Dan kuda itu melaju terus menaiki jalan yang terjal itu.
Pendeta Palsu dari Teluk Po-hai itu tersenyum di dalam hati. Itulah sebabnya dia memilih kuda dari pada kuda. Meskipun kecil dan tidak bisa berlari kencang, namun kuda lebih tahan di medan yang berat dari pada kuda. Di rawa-rawa, di atas perbukitan atau di padang pasir, kuda lebih dapat diandalkan daripada kuda.
Tapi begitu menoleh ke arah Yui Lan, senyum di bibir perempuan tua itu segera hilang. Sebaliknya kerut-merut di atas dahinya menjadi semakin banyak.
"Gila benar anak itu!" desahnya seraya memandang Yui Lan yang menuntun kudanya sambil menjinjing perbekalannya.
__ADS_1
Keringat tampak mengalir dari kening dan leher Yui Lan. Rasa gemas dan kesal karena menyaksikan tingkah kawankunya membuat perempuan tua itu memacu kudanya lebih keras lagi. Dan kuda kecil ternyata juga tidak mengecewakan tuannya. Dengan segala kekuatannya binatang kecil itu menggerakkan kakinya lebih cepat lagi sehingga beberapa saat kemudian ia telah mencapai bukit itu.
Tiba-tiba kuda itu meringkik ketakutan dan melangkah mundur dengan tergesa-gesa, sehingga Pendeta Palsu Dari Teluk Po-hai itu hampir saja terjatuh ke dalam jurang. Dengan tangkas perempuan tua itu melenting ke atas, berjumpalitan beberapa kali di udara, lalu meluncur kembali ke atas tanah.
Seluruh gerakan itu dilakukan dengan sangat manis, enteng dan cepat luar-biasa. Benar-benar suatu pameran ginkang yang hebat sekali.
"Ah...! Ular merah...!" seru Pendeta Palsu Dari Teluk Po-hai itu yang menjerit kaget begitu melihat dua ekor ular yang berwarna melintas di depan kakinya.
Kedua ekor ular berbisa itu saling berkejaran. Tubuhnya yang hampir satu setengah meter panjangnya itu menjalar dan meliuk-liuk kesana-kemari.
"Tenanglah, manis...I" perempuan tua itu membujuk kudanya seraya mengelus-elus leher binatang itu.
Namun mata perempuan tua itu segera terbelalak ketika di dalam keremangan malam itu tampak belasan lampu yang lain bergerak kesana-kemari diantara semak dan batu-batuan. Wanita tua itu merasakan sesuatu yang tak beres dengan hadirnya ular-ular itu disana.
Tiba-tiba saja Pendeta Palsu dari Teluk Po-hai itu teringat pula akan sebuah kisah tentang ular-ular tersebut.
...~¥~...
...Mohon dukungannya dan terima kasih telah memberikan Like/komentar/rate 5/gift maupun votenya untuk novel Petualangan Pendekar Kecapi ini....
...Semoga sehat selalu dan dalam Lindungan Allah Subhana wa Ta'alla....
...Aamiin Ya Robbal Alaamiin....
...Terima kasih ini...
__ADS_1
...Bersambung...