
Siauw Tek lalu menyuruh Liu Ceng untuk menggotong gadis itu menuju perkampungan mereka.
Liu Ceng diserahi tugas itu kemudian membopong gadis itu sampai ke rumah, kemudian merawat dan mengobati dia juga mengobati itu. Pemuda itu memeriksa dengan teliti lalu memberi obat.
Malam itu, dengan ditemani seorang pelayan wanita setengah tua yang siap membantu Liu Ceng mempersiapkan keperluan berobat, Liu Ceng menjaga gadis yang dirawatnya. Hal ini adalah wajar saja karena memang ia yang menjadi tabibnya dan yang bertanggung jawab atas kesembuhan gadis itu.
Sebelumnya Liu Hong menemaninya, akan tetapi pemuda ini lalu kembali ke kamarnya sedangkan Liu Ceng duduk di atas kursi, tak jauh dari pembaringan di mana gadis itu berbaring.
Sekitar tengah malam, keadaan yang sunyi itu membuat Liu Ceng yang duduk di kursi mulai tenggelam dalam samadhi. Tubuhnya seperti orang tidur akan tetapi perasaannya masih peka sehingga apabila terdengar suara yang tidak wajar, ia pasti akan terbangun.
Pelayan setengah tua itu sudah tidur nyenyak di atas lantai yang bertilam babut.
Tiba-tiba Liu Ceng membuka matanya. Ia melihat gadis itu telah berdiri di depannya. Sepasang mata gadis itu tampak bersinar-sinar tertimpa cahaya lampu dalam kamar itu.
Sejenak pandang mata gadis itu seperti terpesona, kemudian tiba-tiba saja dia menjatuhkan diri berlutut di depan Liu Ceng dan berkata lembut, dengan suara agak gemetar dan seperti kata-katanya ketika pertama kali dia bicara, dalam katanya terkandung logat asing yang aneh.
"Saya telah merasa sehat, dalam dada saya sudah tidak ada lagi rasa nyeri dan sesak. Melihat tuan yang berada di sini, pasti tuan yang telah mengobati dan menyembuhkan saya. Ah, tuan seperti seorang dewa yang menyelamatkan nyawaku." ucap gadis itu seraya memberi hormat sambil berlutut.
Tentu saja Liu Ceng menjadi tak enak hati dan dengan cepat ia turun dari kursi dan mundur agak jauh sambil membalikkan tubuh, tidak mau menerima penghormatan yang berlebihan seolah-olah ia seorang dewa yang menerima penghormatan seorang manusia biasa.
"Jangan bersikap begitu, sobat. Aku hanya seorang manusia biasa. Bangunlah dan bersikaplah wajar saja!" seru Liu Ceng yang berusaha membangunkan gadis itu.
"Hi....hik, engkau memang benar, sobat! Dia memang seorang dewa yang berjuluk Dewa Bayangan Putih, ahli pengobatan yang berhati mulia!"
Tiba-tiba Liu Hong muncul dan berkata sambil tersenyum lebar. Liu Hong menghampiri gadis itu yang kini sudah bangkit berdiri.
"Kau sudah sembuh? Bagus, sekarang engkau harus menceritakan siapa namamu, di mana tempat tinggalmu, dan kenapa kau dikeroyok pasukan Mongol itu?" ucap Liu Hong menghujankan pertanyaan pada gadis itu.
"Adik Hong, jangan ganggu dia. Dia baru saja sembuh dan masih lemah. Sobat, kau istirahat dan tidurlah dulu agar kesehatanmu pulih. Besok saja kau ceritakan keadaanmu kepada Ayah dan kedua Ibu kami." ucap Liu Ceng yang kemudian memegang tangan Li Hong, membangunkan pelayan yang tidur lalu mereka semua keluar dari kamar itu.
Pada keesokan harinya, setelah mandi dan bertukar pakaian, Liu Ceng dan Liu Hong yang tidur sekamar keluar dari kamar mereka. Matahari pagi telah menyinari taman di luar rumah itu, sebuah taman yang penuh dengan bunga beraneka warna.
__ADS_1
Ketika mereka melewati kamar yang dipergunakan oleh gadis baju biru itu untuk tidur, mereka melihat seorang pelayan wanita setengah tua sedang membersihkan kamar itu.
"Di mana tamunya yang tidur di kamar ini?" tanya Liu Hong pada pelayan itu, saat pintu kamar itu terbuka.
"Dia tadi menyuruh saya membersihkan kamar dan setelah mandi, dia keluar memasuki taman, tuan muda."jawab pelayan itu.
Liu Hong dan Liu Ceng saling pandang. Tentu gadis itu telah sembuh betul. Pagi-pagi sudah bangun, mandi, dan berjalan-jalan di taman.
Tanpa bicara, hanya dengan pandang mata, mereka berdua sepakat keluar dan memasuki taman. Di tengah taman itu, dari balik rumpun bambu, mereka melihat gadis itu sedang berlatih silat pedang.
"Bagus, dia telah sembuh dan sehat kembali." bisik Liu Ceng saat melihat kecepatan gerakan dan tenaga yang mendukung gerakan gadis itu.
"Wah, jurus pedangnya lihai sekali!" seru Liu Hong, suaranya cukup kuat sehingga terdengar oleh gadis itu yang segera menghentikan latihan pedangnya dan dia pun dengan cepat menghampiri dua orang pemuda yang berada di balik rumpun bambu.
Dengan sikap hormat dan bibir tersenyum ramah gadis itu mengangkat kedua tangan depan dada untuk memberi salam.
"Maafkan, saya telah lancang berlatih di dalam taman ini, tuan."
"Aih, harap jangan terlalu memuji, tuan muda. Saya hanya dapat mainkan beberapa gerakan sederhana saja dan masih banyak mengharapkan petunjuk dari tuan muda berdua," kata gadis itu yang ternyata selain berwajah cantik dan bersikap gagah, juga pandai bicara dan sopan, juga rendah hati.
Liu Hong semakin tertarik. Memang tadinya, walaupun ia mengalah terhadap Liu Ceng, hatinya masih terisi bayangan Hua Li. Akan tetapi setelah mendengar dari ayahnya bahwa Hua Li adalah kakak misannya, putera dari bibinya, ia sudah menghilangkan bayangan itu.
Sekarang, ia benar-benar terpesona dan tertarik sekali kepada gadis yang belum dikenalnya ini.
"Nona, mari kita menghadap Ayah dan kedua Ibu kami yang biasanya sepagi ini sudah berada di ruangan depan," kata Liu Ceng.
Gadis itu mengangguk, menghapus keringatnya dengan saputangan dan menyimpan pedangnya, lalu mengikuti mereka masuk ke rumah.
Benar saja seperti dugaan Liu Ceng tadi. Liu Tek bersama isterinya telah duduk di ruangan depan menghadapi meja di mana dihidangkan minuman air teh dan makanan kecil.
Liu Tek merasa senang melihat dua orang puteranya datang bersama gadis yang menjadi tamu mereka.
__ADS_1
"Ah, nona, agaknya anda telah sembuh benar!" seru Siauw Tek.
"Berkat budi kebaikan tuan berlima yang telah menolong dan menyelamatkan saya." balas gadis itu dengan lembut dan memberi hormat.
"Duduklah, Nona. Kami sama sekali tidak melepas budi. Memang sudah menjadi kewajiban kami untuk membantu orang yang dimusuhi pasukan Mongol." ucap nyonya Liu dengan ramah.
Gadis itu menganggukkan kepala, lalu duduk di atas kursi. Mereka duduk mengelilingi sebuah meja.
"Sebaiknya sebagai tuan rumah kami memperkenalkan diri kami lebih dulu. Nona, kini engkau berada di Pulau Ular dan kami sekeluarga berlima tinggal di pulau ini bersama anak buah kami. Aku bernama Siauw Tek, ini isteri bernama Liu Siang dan yang itu adik seperguruan ku yang juga guru kedua putraku Ban Tek. Sedangkan kedua pemuda ini adalah anak-anak kami, yang ini bernama Liu Ceng dan yang itu bernama Liu Hong. Nah, sekarang kami ingin mendengar tentang dirimu dan bagaimana anda sampai dikeroyok pasukan Mongol itu." jelas Siauw Tek yang memperkenalkan dirinya dan keluarganya.
"Sungguh berbahagia sekali saya dapat bertemu dengan keluarga ini yang baik dan gagah perkasa." ucap gadis itu dengan ramah.
...~¥~...
...Mohon dukungannya dan terima kasih telah memberikan Like/komentar/rate 5/gift maupun votenya untuk novel Petualangan Pendekar Kecapi ini....
...Semoga sehat selalu dan dalam Lindungan Allah Subhana wa Ta'alla....
...Aamiin Ya Robbal Alaamiin....
...Terima kasih...
...Bersambung...
__ADS_1