Petualangan Pendekar Kecapi

Petualangan Pendekar Kecapi
Bab 77


__ADS_3

Teriakan ini membuat Sin Lan dan Sin Lin semakin terdesak. Lengking itu seolah menembus gendang telinga mereka dan menusuk jantung.


Selagi keadaan Sin Lan dan Sin Lin berada dalam ancaman bahaya dan gawat sekali, tiba-tiba terdengar bentakan nyaring.


"Nenek siluman jahat! Tidak layak aku dibiarkan hidup!" seru Sin Lin yang mulai geram.


Kakak beradik itu kembali menyerang nenek mayat betina itu, dan gerakan mereka kuat serta cepat. Permainan pedang mereka lihai sekali membuat nenek mayat betina sangat terkejut.


Dengan cepat ia melompat ke belakang menghindarkan sambaran dua batang pedang itu dan menarik tongkatnya yang kembali terbang ke arahnya. Ia menyambut tongkat hitamnya dan pada saat itu, dua orang muda sudah menyerangnya lagi.


"Trang.....trangg......!"


Tongkat hitam nenek itu menangkis, membuat dua batang pedang itu terpental, akan tetapi ia pun terkejut karena merasa lengannya tergetar.


Si nenek mayat betina itu merasa akan terancam maut. Maka, sambil mengeluarkan teriakan setengah tangis setengah tawa, nenek itu melompat jauh dan menghilang di balik pohon-pohon dan tertelan cuaca yang sudah mulai gelap.


"He....he....he....!"


Sin Lin yang masih merasa marah dan penasaran berseru,


"Nenek siluman, jangan lari!"


Ketika Sin Lin hendak mengejar, tiba-tiba salah seorang warga berseru pada adik Sin Lan itu.


"Jangan kejar, tuan muda! Nenek itu jahat dan licik, kau akan terjebak!"


Mendengar seruan itu, Sin Lin menghentikan langkahnya dan memandang gadis yang keluar dari kerumunan warga yang menyaksikan pertarungan tadi.


Sin Lan sendiri heran melihat betapa adiknya yang biasanya, bandel itu, kini agaknya menuruti nasihat gadis yang cantik berpakaian biru itu.


"Tuan-tuan pendekar telah membantu kami. Kami mengucapkan banyak terima kasih atas pertolongan tuan-tuan pendekar." ucap gadis itu.


"Nona jangan berterima kasih kepada kami. Karena itu adalah tugas kita!" balas Sin Lan dengan ramah.


"Hemm, memang nenek mayat betina itu harus dibasmi!" seru Sin Lin dengan geram.

__ADS_1


"Tapi kenapa anda melarang kami, ketika hendak melakukan pengejaran pada nenek mayat betina itu?" tanya Sin Lan yang penasaran.


"Maaf, aku tadi sama sekali tidak melarang, Tuan-tuan pendekar. Karena aku hanya memperingatkan karena mengejar nenek mayat betina dalam kegelapan sungguh berbahaya sekali bagi kalian." kata gadis itu dengan suaranya yang tenang.


"Adik Lin, nona ini benar. Kalau kamu tadi mengejar, mungkin saja kamu akan terperangkap. Nenwmayat Betina itu berbahaya sekali," kata Sin Lan yang mengingatkan adiknya.


"Aku tidak takut!" seru Sin Lin yang masih mendongkol.


Pada saat itu, terdengar suara riuh dan mereka menebarkan pandangannya. Ternyata semua penduduk dusun itu membuka pintu rumah dan berbondong keluar dari rumah mereka.


Banyak yang membawa obor sehingga keadaan menjadi terang. Dipimpin oleh seorang laki-laki berusia enam puluh tahun, mereka semua lalu menghampiri dua orang laki-laki muda dan seorang gadis cantik itu dan mereka lalu menjatuhkan diri untuk berlutut.


"Tuan pendekar berdua telah menyelamatkan kami dari ancaman siluman, kami menghaturkan banyak terima kasih!" kata kepala dusun yang memimpin mereka itu dan mereka semua memberi hormat dan riuh rendah suara mereka mengucapkan terima kasih.


Tiba-tiba terdengar dua orang wanita menangis menjerit-jerit.


"Kembalikan anakku...! kembalikan anakku....!"


Dua orang wanita itu menangis.


Sin Lan melihat bahwa seorang dari mereka adalah wanita yang pertama kali ia lihat lari keluar dari rumahnya. Ia dapat menduga bahwa wanita yang kedua tentulah ibu dari anak yang pertama diculik siluman.


"Kami akan mencoba untuk menolong dua orang bayi itu. Akan tetapi ke mana kami harus mencari? Kami tidak tahu di mana nenek mayat betina itu berada," kata Sin Lan dengan lembut dan penuh rasa iba.


"Saya tahu tempatnya! Siang tadi ketika saya berburu binatang di hutan sebelah selatan itu, saya melihat nenek berpakaian putih duduk bersila di bawah sebatang pohon besar. Karena saya takut, saya tidak berani mendekat dan melarikan diri secepatnya." ucap gadis cantik berbaju biru itu.


"Bagus! Kalau begitu mari kita ke sana, siapa tahu kita masih akan dapat menolong dua orang bayi itu dan membunuh iblis nenek mayat betina keparat itu!" seru Sin Lan.


Setelah itu mereka beramai-ramai hampir semua laki-laki penduduk dusun itu mengikuti gadis yang memakai pakaian biru itu, dan mereka melangkahkan kaki menuju ke hutan.


Tak lama kemudian mereka tiba di bawah pohon besar itu. Akan tetapi nenek mayat betina tidak berada di situ dah ketika mereka mencari-cari, terdengar jerit memilukan dari dua orang yang menemukan mayat anak-anak bayi mereka.


Dua mayat bayi itu tergeletak di atas rumput dalam keadaan mengerikan. Tubuh mereka telah kering kerontang tinggal kulit membungkus tulang, seperti serangga yang telah dihisap semua cairan dari tubuhnya.


Mereka lalu membawa pulang dua mayat itu, disambut tangis riuh oleh para wanita di dusun. Kepala dusun mempersilakan Sin Lin, Sin Lan dan gadis itu untuk mengaso dan memberi dua buah kamar yang cukup besar untuk mereka.

__ADS_1


Kemudian, tiga orang itu ditinggalkan sendiri dan kepala dusun sibuk mengurus perkabungan dan persiapan penguburan dua orang bayi itu untuk dimakamkan esok hari.


Kesempatan itu dipergunakan oleh tiga orang muda itu untuk bicara dan saling memperkenalkan diri. Mereka duduk berhadapan di sekeliling meja.


Gadis yang berbaju biru itu terlihat gembira, memandang kakak beradik itu dengan mata terbelalak.


Demikian pula dengan kakak beradik itu yang baru sekarang dia menatap wajah gadis itu dengan heran dan kagum.


"Ih, kenapa kalian berdua memandang saya seperti orang melihat hantu?" tanya gadis itu dengan mengernyitkan kedua alisnya.


"Ha...ha...ha....! sama sekali bukan seperti hantu, Nona! melainkan seperti bidadari dari surga!" ucap Sin Lin seraya mengulas senyumnya.


"Eh, kalian mau kurang ajar, ya!" seru gadis itu geram.


"Ma'af nona karena itu adalah cara kami menyapa anda." ucap Sin Lan yang menengahi keduanya.


"Adik Lin, harap engkau hentikan main-main itu agar nona cantik


ini tidak salah menilai kepada kita!" lanjut seru Sin Lan yang menegur adiknya.


Sin Lain masih tersenyum, akan tetapi dia cepat bangkit dan menjura kepada gadis itu.


"Nona, maaf kalau tadi aku berkelakar sehingga dianggap kurang ajar. Sesungguhnya kami berdua merasa kagum, terkejut dan heran setelah sekarang dalam keadaan terang kami melihat anda yang begitu cantik. Perkenalkanlah, kami berdua adalah kakak beradik dari lembah seribu bunga." ucap Sin Lin yang memperkenalkan dirinya dan kakaknya.


"Ah, pantas kalian memiliki jurus silat yang hebat! Kiranya datang dari Lembah Seribu Bunga yang terkenal!" seru nona itu yang kagum.


...~¥~...


...Mohon dukungannya dan terima kasih telah memberikan Like/komentar/rate 5/gift maupun votenya untuk novel Petualangan Pendekar Kecapi ini....


...Semoga sehat selalu dan dalam Lindungan Allah Subhana wa Ta'alla....


...Aamiin Ya Robbal Alaamiin....


...Terima kasih...

__ADS_1


...Bersambung...


   


__ADS_2