
Masih banyak yang dapat dikenalnya di tempat itu dan diam-diam dia merasa ikut gembira. Akan ramai sekali nanti kalau benar-benar ada anak naga yang muncul di permukaan air yang berbahaya itu.
Tiba-tiba dia melihat serombongan orang yang alisnya berkerut. Sialan, pikirnya karena dari jauh dia sudah mengenal bahwa rombongan perguruan Harimau hitam. Dia mengenal gambar harimau hitam didada baju mereka.
Bhok Ki atau Hua Li tidak ingin terjadi keributan selagi dia mencurahkan seluruh perhatiannya pada kemunculan anak naga, maka diapun cepat memanggul buntalan yang berisi pakaian dan juga. kecapi ya, dibawanya ke perahu, melepaskan ikatan perahu dan tak lama kemudian diapun mendayung perahunya ke tengah.
Akan tetapi tentu saja diapun menjauhi daerah Pusaran Maut karena biarpun seorang yang berkepandaian tinggi, menghadapi pusaran maut di hanya akan menjadi permainan yang tidak ada artinya.
Bhok Ki mencari tepi sungai yang sunyi untuk dipakai tempat melewatkan malam. Besok malam baru bulan purnama akan muncul dan kabarnya, anak naga itu akan muncul apabila bulan sedang purnama, tepat ditengah malam, dan kemunculannya pun hanya beberapa jam saja, lalu lenyap kembali ke dalam pusaran maut.
Makin banyak orang berdatangan pada keesokan harinya. Bhok Ki tetap menjauhkan diri dari keramaian. Dan jelas nampak betapa para tokoh persilatan yang brkeliaran di tempat itu, kini untuk mempersiapkan diri.
Makin dekat malam bulan purnama itu, makin tegang suasananya. Menjelang senja, banyak sudah perahu-perahu berseliweran akan tetapi selalu menjauhi daerah pusaran maut.
Menurut kisahnya, anak naga itu akan keluar dari pusaran maut dan akan berenang keluar dari daerah pusaran air, bermain-main dan mencari ikan, setelah kenyang makan ikan, baru akan kembali ke Pusaran Maut.
Diantara perahu-perahu itu, terdapat dua buah perahu dan penumpang lain! Semua perahu ditumpangi oleh tokoh-tokoh persilatan, mereka yang sengaja mencoba peruntungan mereka, barangkali "Berjodoh" dengan anak naga yang diperebutkan.
Setidaknya, mereka datang untuk melihat keadan dan bertemu dengan tokoh-tokoh besar dunia persilatan. Akan tetapi, dua buah perahu itu ditumpangi oleh dua keluarga dari dusun yang berlainan. Hanya kebetulan saja perahu mereka bertemu di dalam pelayaran dan mereka saling berkenalan lalu melanjutkan pelayaran bersama-sama dalam dua perahu agar lebih aman.
Sebuah diantaranya ditumpangi dari dusun Hon cu. Kian Si berusia kurang lebih tiga puluh lima tahun. Karena dia ditekan oleh pejabat daerahnya untuk ditarik sebagai pekerja paksa dan dikirim ke tempat pembangunan terusan sungai, dia nekat melarikan diri bersama isterinya dan seorang puteranya yang bernama Han Beng yang berusia dua belas tahun. Dia mendayung sendiri perahunya dibantu oleh Si Han Beng. Ayah dan anak ini tinggal di Lembah Sungai Juning, maka mereka tidak asing dengan pekerjaan mendayung perahu. Akan tetapi karena tempat tinggal mereka jauh dari Pusaran Maut, mereka tidak pernah mendengar tentang tempat berbahaya itu.
__ADS_1
Dia terpaksa melarikan diri karena sudah mendengar betapa banyak orang dusun yang tadinya dibujuk untuk bekerja di terusan, tidak dapat kembali ke dusunnya, bahkan banyk yang kabarnya mati di tempat pekerjaan mereka.
Adapun keluarga kedua adalah keluarga Hok Gi. Berbeda dengan Kian Si, Hok Gi seorang pejabat yang telah melarkan diri karena ditekan oleh atasannya, dipaksa untuk dapat mengumpulkan sedikitnya dua puluh lima orang laki-laki dari dusunnya dijadikan pekerja paksa dengan ancaman dia akan ditangkap dan dihukum kalau tidak berhasil mendapatkan jumlah itu.
Hok Gi teringat akan kakaknya seorang pejabat tinggi dan dia melarikan diri hendak mengunjungi kakaknya dan minta bantuan kakaknya agar dia terlepas dari ancaman atasannya.
Kedua keluarga ini, yang masih tinggal di satu daerah karena dusun mereka bertetangga, bertemu di dalam pelayaran ketika keduanya berhenti melewatkan malam di sebuah dusun tepi sungai.
Setelah mereka salaing memperkenalkan diri dan tahu bahwa keduanya menjadi korban peraturan kerja paksa, kedua pihak merasa senasib dan mereka pun bersahabat. Keluarga Hok pergi melarikan diri karena takut atasan, sedangkan keluarga Kian takut kepada kepala dusun yang mengharuskan Kian Si menjadi pekerja paksa.
Hok Gi pergi bersama seorang isteri dan seorang anak perempuan yang bernama Hok Cu dan berusia sepuluh tahun. Masih ada lagi seorang pembantu yang bertugas mengantar dan mendayung perahu.
Demikianlah, pada sore hari itu, mereka tiba di daerah yang amat ramai diluar pusaran Maut. Tentu saja kedua keluarga ini merasa heran melihat keramaian di tempat itu, betapa banyak perahu berseliweran.
Hari sudah mulai gelap dan mereka ingin melewatkan malam di tepi sungai yang sepi. Juga perbekalan makan mereka sudah menipis dan mereka ingin mencari bekal makan tambahan dengan membeli di pedusunan tepi sungai.
Hok Gi dan Kian Si segera meninggalkan keluarga mereka setelah perahu mereka didaratkan dan mereka memesan kepada keluarga masing-masing agar berkumpul di tepi sungai yang sunyi itu dan jangan pergi kemana-mana, menanti sampai mereka berdua kembali.
Mereka berdua berlalu pergi ke perkampungan di tepi sungai sebelah bawah yang menjadi pusat keramaian orang-orang yang berkumpul di tempat itu.
Ketika mereka tiba di perkampungan itu, mereka melihat ramai-ramai diantara perahu-perahu yang hilir mudik di bagian pinggir. Karena tertarik, mereka pun ikut meonton dan berdiri diantara banyak orang di tepi sungai.
__ADS_1
Suacana masih belum gelap benar sehingga mereka pun dapat melihat apa yang sedang terjadi.
Seorang gadis muda yang menyamar menjadi laki-laki itu berperahu seorang diri, nampak dikejutkan dan dikurung oleh empat buah perahu yang masing-masing ditumpangi empat orang! Dan jelas nampak betapa enam belas orang itu mengancam pria setengah tua yang perahunya kini terkurung di tengah-tengah.
Belasan orang itu sudah mengeluarkan senjata dan perahu mereka bergerak semakin dekat. Ada gambar harimau berwarna hitam di baju enam belas orang itu, di bagian dada.
Mereka adalah orang-orang dari perguruan Harimau Hitam yang datang ke tempat itu karena tertarik pula akan berita kemungkinan munculnya anak naga di permukaan Pusaran Maut.
Tak mereka sangka, sebelum tengah malam bulan purnama tiba, mereka melihat musuh besar mereka, Hua Li atau Bhok Ki sudah berada di tempat itu, diamana dia naik perahu seorang diri.
Tentu saja begitu melihat musuh besar ini, belasan orang itu pun segera mengepung dengan perahu mereka.
...~¥~...
...Mohon dukungannya dan terima kasih telah memberikan Like/komentar/rate 5/gift maupun votenya untuk novel Petualangan Pendekar Kecapi ini....
...Semoga sehat selalu dan dalam Lindungan Allah Subhana wa Ta'alla....
...Aamiin Ya Robbal Alaamiin....
...Terima kasih...
__ADS_1
...Bersambung...