
Memandang wajah yang amat disayangnya itu, wajah yang tampak demikian menyedihkan, tak terasa lagi Hua Li menghela napas panjang dan berat.
"Kakak Ceng, lihat semak belukar yang menutupi goa ini. Di sekeliling tempat, ini tidak ada semak belukar seperti itu!" seru gadis yang berjuluk si pendekar kecapi itu yang memperhatikan tanaman yang menutupi goa dihadapannya itu.
"Ada apa dengan semak-semak itu, adik Hua? Kulihat itu hanya semak belukar biasa," kata Liu Ceng tidak mengerti sambil memandang semak belukar itu baik-baik akan tetapi dia tidak menemukan sesuatu yang aneh.
"Kalau di suatu tempat tumbuh semak seperti itu, tentu di sekeliling sini terdapat pula semak yang sama. Akan tetapi lihat sekeliling sini, tidak ada lagi semak seperti itu!" kata Hua Li yang menjelaskan.
"Hemm, aku tak mengerti maksud kamu?" tanya Liu Ceng yang penasaran.
"Berarti, semak belukar yang menutupi goa ini sengaja ditanam orang, kakak Ceng! Bukan tumbuh alami melainkan sengaja ada orang mencari semak belukar dan berduri untuk ditanam dengan sengaja di sini agar menutupi goa ini!" seru Hua Li yang menatap kekasihnya.
"Ah, jadi maksudmu, orang sengaja menutupi guha ini dengan semak belukar yang ditanam agar jangan ada orang memasuki goa ini?" tanya Liu Ceng yang mencoba meyakinkan penjelasan Hua Li.
"Tepat! Dan itu berarti bahwa di balik semak belukar, di dalam goa itu, tentu ada sesuatu yang disembunyikan dan yang menyembunyikan tidak ingin ada orang dapat memasuki goa!" lanjut jelas Hua Li.
"A..apamu gkin harta Karun itu?" tanya Liu Ceng yang mencoba menebak.
Hua Li menganggukkan kepalanya dan mengulas senyumnya.
"Mudah-mudahan begitu, kakak Ceng. Kemungkinan itu ada, bukan?" tanya Hua Li.
"Ah, adik Hua, kenapa kau pantang menyerah rupanya! Sudah banyak penderitaan dan kekecewaan yang kita alami untuk mencari harta karun itu. Tapi kamu tetap semangat, aku kagum pada dirimu!" seru Liu Ceng yang menghargai pemikiran dan semangat Hua Li.
Hua Li memandang Liu Ceng dengan alis berkerut dan sepasang matanya yang biasanya lembut dan bening itu kini memancarkan sinar penasaran.
"Kakak Ceng, apakah kamu belum mengerti? Ingat keadaanku sekarang ini, semua ini demi kamu dan para pejuang kerajaan Han!" bisik Hua Li.
__ADS_1
"Aku merasa terharu, aku yang anak yatim piatu, tiada sanak keluarga, hidup sebatang kara, seakan kehilangan pegangan. Satu-satunya yang masih ada dan merupakan harapanku, tujuan hidupku dan pembangkit semangatku, hanyalah memenuhi pesan mendiang, Ayah. Kalau aku berhasil melaksanakan kehendak dan pesan Ayahku, menemukan harta karun itu dan menyerahkannya kepada mereka yang berhak seperti yang ditunjuk Ayahku, yaitu para pejuang membebaskan bangsa dan tanah air dari penjajah, maka hidupku akan berarti dan aku akan merasa berbahagia. Kalau tidak berhasil, lalu apa artinya hidupku ini? Melaksanakan tugas memenuhi pesan terakhir Ayahku merupakan satu-satunya pegangan hidupku!" kata Liu Ceng yang tak terasa kedua matanya berkaca-kaca.
Hua Li juga merasa terharu sekali. Dia dapat membayangkan betapa menyedihkan keadaan pemuda dihadapannya ini. Dia sendiri juga dalam keadaan susah setelah mengetahui ibunya telah tiada dan ayah kandungnya yang hilang ingatan. Dan ada Ayah angkatnya yang kini berada jauh di aliran sungai kuning.
"Kakak Ceng, aku aku akan selalu membelamu. Jika kakak tidak keberatan ditemani seorang gadis yang selalu membawa kecapi ini!" kata Hua Li yang menatap Liu Ceng.
Pemuda itu menghela napas panjang, dan ada sedikit cahaya terpancar pada wajahnya yang agak kurus. Ucapan Hua Li itu bagaikan obat penyejuk dalam hatinya karena ucapan itu secara tidak langsung menyatakan cinta gadis itu kepadanya.
Ia dapat merasakan bahwa gadis itu merasa sungkan untuk berterang menyatakan cintanya karena dia merasa bahwa dia seorang gadis yang tentunya tak pantas lebih dulu mengutarakan perasaannya.
"Terima kasih, adik Hua. Aku tahu bahwa engkau seorang sahabat yang baik sekali, yang membantuku sejak dulu. Sekarang marilah kita bongkar semak belukar ini, aku ingin menyelidiki ke dalam goa ini." kata Liu Ceng.
"Baik Kakak Ceng!" balas Hua Li dan tanpa banyak cakap lagi Liu Ceng mencabut pedangnya yang tampak sinar pedang keemasan bergulung-gulung menyambar-nyambar ketika dia menggerakkan pedangnya dengan cepat dan kuat sekali.
Batang, ranting, dan daun-daun semak belukar yang berduri itu terbang berhamburan ketika disambar sinar pedang dan dalam waktu yang tidak terlalu lama, seluruh tumbuh-tumbuhan semak yang menghalangi guha itupun sudah dibabat bersih.
Kini tampaklah mulut goa yang lebarnya sekitar tiga tombak dan tingginya dua tombak.
Mereka lalu maju menghampiri guha dan begitu tiba di depan guha, keduanya berhenti dan memandang ke dalam guha dengan mata terbelalak. Di lantai goa itu mereka melihat kerangka manusia berserakan malang melintang.
Ketika dihitung mereka mendapatkan bahwa semua ada delapan buah kerangka yang masih utuh, ada yang telentang, telungkup, dan ada pula yang miring. Di dekat kerangka-kerangka ini tampak pula cangkul dan sekop, alat-alat untuk menggali tanah.
"Kakak Ceng, agaknya mereka ini pernah mencari harta karun dan mencoba untuk menggali di sini. Akan tetapi mengapa mereka semua tewas di sini?" tanya Hua Li yang memandang ke sebelah dalam goa yang agak gelap karena tidak mendapatkan sinar matahari itu.
"Entahlah, sebaiknya kita periksa keadaan di goa ini." kata Liu Ceng sembari menebarkan pandangannya ke setiap sudut goa itu.
"Awas, kakak Ceng......!" seru Hua Li pada saat melihat seperti tongkat yang mengembang di sebelah dalam goa dan benda itu bergerak ke arah mereka dengan mengeluarkan suara mendesis-desis.
"Sssss ...!"
__ADS_1
"Ular adik Hua......!" seru Liu Ceng yang kaget sekali.
Pada saat itu, seekor ular yang besarnya tidak kurang dari paha seorang dewasa, dengan kepala besar yang mengeluarkan sinar hijau, sepasang matanya mencorong kehijauan, dan moncongnya mengeluarkan bunyi mendesis-desis, mengembang seperti kipas.
Ular itu bergerak dengan cepat menghampiri mereka.
"Mundur, adik Hua!" seru Liu Ceng yang bergerak ke depan Hua Li untuk melindungi gadis itu.
Setelah dekat, tiba-tiba ular itu berhenti, lalu kepalanya meluncur ke depan, menyerang Liu Ceng. Moncongnya terbuka lebar memperlihatkan gigi-gigi yang runcing melengkung ke dalam.
Dengan tenang namun cepat dan kuat, Liu Ceng menebaskan pedangnya ke arah kepala ular itu.
"Sing......!"
"Taakk...!"
Liu Ceng terkejut bukan main ketika pedangnya mental seperti tertangkis benda yang amat kuat. Pedang pusakanya, yang dapat membabat putus senjata-senjata lawan yang terbuat dari besi atau baja, kini tidak mampu memecahkan kepala ular yang memiliki kekebalan itu.
Ini aneh, luar biasa sekali. Liu Ceng tidak percaya sehingga sejenak dia mengamati pedangnya dan menjadi lengah.
"Awas, kakak Ceng!" seru Hua Li namun terlambat.
...~¥~...
...Mohon dukungannya dan terima kasih telah memberikan Like/komentar/rate 5/gift maupun votenya untuk novel Petualangan Pendekar Kecapi ini....
...Semoga sehat selalu dan dalam Lindungan Allah Subhana wa Ta'alla....
...Aamiin Ya Robbal Alaamiin....
__ADS_1
...Terima kasih...
...Bersambung...