Petualangan Pendekar Kecapi

Petualangan Pendekar Kecapi
Bab 125


__ADS_3

"Oh, enak saja bicara! Tak seorangpun boleh menjamah dua orang anak yang menjadi milikku ini!"


"Aih, Mo-li, harap berlaku adil dan jangan tamak. Seorang pun lebih dari cukup untukmu. Berilah yang seorang kepadaku agar dapat kami bagi berenam." balas laki-laki berkumis itu.


"Tikus-tikus busuk, pergilah dan jangan ganggu aku! Ataukah kalian sudah bosan hidup barangkali!" bentak Mo Li dengan geram.


Karena mengandalkan banyak teman, enam orang ini tidak mau menyingkir bahkan mendekatkan perahu mereka, dengan senjata terangkat dan sikap mengancam mereka menyerbu.


"Berikan seorang kepada kami atau kami terpaksa akan merampas keduanya!" ancam laki-laki si kumis tebal.


"Oh, kiranya kalian sudah bosan hidup!" bentak Mo Li dan tanpa memperdulikan enam orang dalam tiga perahu itu, ia mendayung terus ke depan.


Sebuah perahu menghadang di depan, yang dua buah lagi menyerang dari kanan kiri. Enam orang itudengan nekat, berlompatan dari perahu mereka keatas perahu Mo Li sambil menggerakkan senjata masing-masing.


Mo Li dengan sikap tenang saja menyambut serbuan enam orang itu dengan kipas ditangan kiri mengebut-ngebut lehernya seperti orang kepanasan, sedangkan tangan kanan tetap mendayung perahu.


Melihat enam orang itu berloncatan, tiba-tiba ia menggerakkan kipasnya ke kiri kanan dan depan.


"Suiiiit....!"


Terdengar suara berciut bersama dengan menyambarnya sinar hitam ketiga penjuru dan lima orang yang sedang berloncatan menyerbu itu mengeluaran teriakan dan tubuh mereka runtuk ke atas air yang bergelombang.


Seorang diantara mereka berhasil menghindarkan diri dari sambaran jarum yang keluar dari gagang kipas dengan memutar pedangnya, dan dia berhasil turun keatas perahu didepan Mo Li.


Melihat lima orang temannya tewas seketika dan dia menjadi marah dan mengangkat pedangnya lalu menerjang Mo Li yang masih duduk dengan tenang dan mengulas senyumnya.


"Cuiihh...!"


Kemudian Mo Li meludah kearah orang yang menyerangnya dengan pedang. Air ludah meluncur keluar dari mulut yang manis itu, tepat mengenai muka si penyerang.

__ADS_1


Orang itu terkejut, lalu berteriak-teriak kesakitan sambil mencakari muka sendiri. Pedangnya terlempar dan dia pun roboh jatuh ke air sambil masih mencakari mukanya dan mengerang kesakitan.


"Aaarrgh...!"


Kian Beng dan Hok Cu yang dalam keadaan tertotok dan terbelunggu kaki tangan mereka itu menyaksikan ini semua dan keduanya terbelalak dengan muka pucat.


Wanita cantik ini sungguh lihai bukan main, dalam sekejap mata lelaki yang berkepandaian tinggi. Walaupun Kian beng ngeri dan takut, tapi dia juga kagum bukan main.


Kembali banyak perahu menghadang, bahkan kini mengepung. Tidak kurang dari lima belas buah perahu mengepung Perahu yang ditumpangi Mo Li, Kian beng dan Hok Cu.


Semua tokoh dunia persilatan kini tahu bahwa mereka tidak lagi memperbutkan anak naga, melainkan memperebutkan dua orang bucah yang kabarnya menghisap habis darah anak naga sehingga dua orang bocah itu kini memiliki darah yang mengandung darah naga.


Melihat kalau perahunya dihadang dan dikepung banyak orang, Mo Li menjadi marah bukan main. Ia berhenti mendayung dan kini ia bangkit berdiri tegak di tengah perahunya, pedang telanjang di tangan kanan dan kipas di tangan kiri, sikapnya ganas dan penuh ancaman.


Teriakan-teriakan banyak orang yang minta agar seorang diantara dua anak yang berada dalam perahunya diserahkan kepada mereka membuat Mo Li mengerti bahwa mereka itu sudah tahu tentang dua orang bocah yang telah menghisap habis darah anak naga.


Tahulah ia bahwa perebutan anak naga itu kini berubah menjadi perebutan dua orang anak ini.


Senjata-rahasia ini amat kecil, berwarna hitam pula dan ketika meluncur keluar dari ujung gagang kipasnya amatlah cepatnya.


Dalam cuaca yang hanya diterangi sinar bulan purnama dan dengan adanya kebisingan, mereka tak dapat melihat atau mendengar jarum-jarum pembawa maut itu.


Segera terdengar teriakan-teriakan kesakitan disusul robohnya banyak orang yang terjungkal dari perahu mereka kedalam air. Tubuh mereka diseret air yang mulai deras arusnya karena mereka semakin dekat dengan tepi pusaran air sudah mulai bergolak.


Terjadilah perkelahian hebat diatas permukaan air itu ketika Mo Li di keroyok. Perahunya dikepung dan wanita itu dengan pedang di tangan ditangan kanan, kipas di tangan kiri, berkelabat dan berloncatan dari perahu ke perahu.


Sungguh luar biasa gerakan wanita ini. Pedangnya menjadi gulungan sinar yang menyambar-nyambar mendahului tubuhnya yang berkelebat dan kemanaa pun tubuhnya melayang, tentu ada seorang dua orang yang terjungkal keluar dari perahunya.


Akan tetapi, tiba-tiba pengeroyokan terhadap Mo Li terhenti dan sisa orang yang mengeroyoknya, kini mendayung perahunya mengejar ke suatu jurusan. Mo Li memandang dan ia terkejut. Kiranya, perahunya yang ia tinggalkan ketika mengamuk dan berloncatan dari perahu yang satu ke perahu yang lain, perahunya yang ditumpangi dua orang bocah yang masih dalam keadan tertotok lumpuh dan terikat kaki tangannya, kini meluncur kedepan, didayung oleh dua orang bocah itu yang entah bagaimana telah dapat bergerak kembali dan tidak terikat kaki tangan mereka.

__ADS_1


Ia tidak tahu bahwa telah terjadi keanehan pada diri Kian Beng dan Hok Cu.


Dua orang bocah ini telah menghisap darah ular yang aneh, yang membuat tubuh mereka panas seperti dibakar dan menimbulkan kekuatan dasyat sekali. Hal ini tadipun sudah nampak ketika dua orang anak itu tertotok oleh Ci kai. Totokan itu buyar dengan sendirinya dilanda hawa panas yang berputar-putar di seluruh tubuh mereka.


Ketika Mo Li tadi dikeroyok orang dan perahu itu ditinggalkan, Kian Beng dan Hok Cu yang tersiksa oleh hawa panas, berusaha untuk menggerakkan kaki tangan mereka.


Begitu Kian Beng menggerakkan kaki tangannya, maka tali ikatan kaki tangan yang amat kuat itupun putus.


Kian Beng melihat Hok Cu meronta dan mencoba melepaskan kaki tangannya, lalu dibantunya anak perempuan itu dan dengan mudah saja dia dapat membikin putus tali pengikat kaki tangan Hok Cu. Tali itu seolah-olah rambut bertemu api saja ketika tersentuh oleh tangannya.


Mereka merasa semakin tersiksa oleh hawa panas yang kini membuat mereka seperti hendak melayang-layang, kepala seperti membengkak dan akan meledak.


"Hayo kita lari....!" seru Kian Beng dan dia pun mengambil dayung dalam perahu itu.


Hok Cu mengambil dayung kedua dan mereka pun mendayung perahu untuk melarikan diri. Anehnya, begitu mereka mendayung, maka gerakan mereka mengandung tenaga yang amat kuat sehingga perahu meluncur cepat sekali.


Melihat dua orang anak yang diperebutkan itu melarikan diri mereka yang mengeroyok Mo Li segera meninggalkan iblis betina itu dan melakukan pengejaran.


 


...~¥~...


...Mohon dukungannya dan terima kasih telah memberikan Like/komentar/rate 5/gift maupun votenya untuk novel Petualangan Pendekar Kecapi ini....


...Semoga sehat selalu dan dalam Lindungan Allah Subhana wa Ta'alla....


...Aamiin Ya Robbal Alaamiin....


...Terima kasih...

__ADS_1


...Bersambung...


__ADS_2