Petualangan Pendekar Kecapi

Petualangan Pendekar Kecapi
Bab 285


__ADS_3

Nampak bunga api berpijar dan Mo Li terhuyung dan hampir saja pedangnya terlepas dari tangannya. Tentu saja hal ini sama sekali tidak pernah disangkanya sehingga rencana serangannya gagal sama sekali, bahkan hampir saja ia terpelanting.


Dengan muka pucat, ia memungut pedang dari samping dan menyerang dengan dahsyat, penuh rasa penasaran dan kemarahan. Melihat hal ini Hok Cu mengelak. Akan tetapi, kipas itu menyambar, mengebut kearah mukanya.


Gadis itu menahan napas agar tidak perlu menyedot bau harum beracun dari kipas itu, dan ketika ujung gagang kipas menyambar sebagai lanjutan penyerangan dengan totokan, kembali ia mengelak ke belakang.


Pada saat itu, nampak sinar lembut hitam menyambar dari gagang kipas. Hal ini pun sudah diduga oleh Hok Cu maka gadis ini dengan mudah memutar pedang memukul runtuh semua jarum halus beracun.


"Huhhh, kau memang hanya pandai menggunakan racun dengan curang! Tak tahu malu!" bentak Hok Cu dan kini ia pun menyerang dengan pedangnya. Ia sama sekali tidak sudi menggunakan ilmu yang pernah dipelajarinya dari Mo Li, melainkan menggunakan ilmu yang pernah dipelajarinya dari biksu Hek-bin.


Dan tentu saja keadaan Hok Cu lebih menguntungkan, karena semua serangan lawan sudah dikenalnya dengan baik, dan ia tahu bagaimana cara menghindarkan semua serangan itu.


Sebaliknya, Mo Li bingung menghadapi permainan pedang Hok Cu yang sama sekali tidak dikenalnya. Juga wanita sesat ini kalah jauh dalam kekuatan tenaga sakti, bahkan pedangnya yang biasanya amat diandalkan itu sekali ini kehilangan keampuhannya menghadapi pedang tumpul pemberian Biksu Hek Bin itu.


Setelah lewat tiga puluh jurus, Mo Li tak mampu membalas serangan lagi. la terdesak dan terhimpit hanya mampu memutar pedang melindungi tubuhnya dan main mundur terus. Melihat ini, tentu saja Lui Seng tidak mau membiarkan saja wakil ketuanya itu terancam bahaya.


"Hok Cu, lepaskan pedangmu!" seru Lui Seng yang membentak karena sejak tadi ini memang sudah berkomat-kamit membaca mantra dan mengerahkan kekuatan sihirnya, dan tiba-tiba ki dia melalui bentakannya hendak menguasai Hok Cu dengan ilmu sihirnya.


Hok Cu merasa betapa jantungnya tergetar dan hanpir ia melepaskan pedang. Akan tetapi gadis ini pernah digembleng oleh Biksu Hek Bin, dan ia sudah dilatih hebat sehingga kini memiliki kekuatan batin yang mampu menolak pengaruh sihir.


"Lui Seng si pendeta palsu!" seru Hok Cu yang membentak dan pedangnya semakin mendesak Mo Li, sedikit pun ia tidak terpengaruh oleh kekuatan sihir yang dilepaskan oleh ketua aliran bumi dan langit itu.


Melihat hal itu Lui Seng terkejut dan dia pun meloncat ke depan sambil mencabut golok besarnya.


"Hei, tidak boleh curang main dengan main keroyokan!" bentak Han Beng sambil meloncat maju dan ketika tangan kanannya mendorong ke arah Lui Seng.


Ketua aliran bumi dan langit ini hampir terjengkang oleh sambaran angin dahsyat.

__ADS_1


Pada saat itu terdengar ledakan disusul asap tebal dan muncullah seorang sosok tubuh yang menyeramkan pada patun Raja iblis.


Orang yang muka dan pakaiannya mirip patung Raja Iblis yang disembah-sembah itu telah muncul di situ, membawa sebatang pedang kuno yang panjang dan berat. Semua orang terkejut tak terkecuali Han Beng dan Hok Cu yang segera berlompatan ke belakang dan mereka kini berdiri berdamping untuk saling melindungi.


Mata mereka terbelalak memandang ke arah setan itu yang berdiri tegak. Semua pengurus dan anggauta aliran Bumi dan Langi dengan segera memberi hormat.


"Han Beng dan Hok Cu! Menyerahlah kalian karena kalian sudah dikepung!" ser "Raja Setan" itu.


"Kalau kalian menakluk, akan kami beri kedudukan yang baik, kalau kalian melawan kalian akan mati konyol!" serunya lagi.


Dan tiba-tiba saja, pintu ruangan itu ditutup dan banyak asap berembus dari luar, memasuki ruang latihan itu.


"Han Beng, awas asap beracun! Kita harus menerjang keluar!" teriak Hok Cu. Han Beng terkejut dan dia pun menahan napas. Akan tetapi, Mo Lo sudah tertawa bergelak dan bersama Lui Sen dan para tokoh sesat mereka menghadang dan mengeroyok dua orang pendekar muda itu sehingga mereka tidak dapat keluar.


Apalagi pintu besi itu sudah ditutup dari luar, sementara itu asap beracun yang mengandung bius itu semakin tebal. Rupanya Mo Li sudah memberi obat penawar kepada rekan-rekannya sehingga mereka itu menyedot asap tanpa pengaruh apa-apa. sebaliknya, Han Beng dan Hok Cu tidak berani bernapas.


Ketika Han Beng dan Hok Cu siuman kembali, mereka mendapatkan diri mereka sudah duduk di atas kursi dan masing-masing terbelenggu kaki tangan mereka, terikat pada kursi sehingga tidak mampu berkutik. Mereka masih berada di ruang latihan tadi, akan tetapi kini tidak ada lagi asap harum yang mengandung bius.


Di depan mereka, dalam jarak sepuluh meter, nampak belasan orang itu duduk pula berjajar di atas kursi. Yang paling depan adalah seorang pemuda yang tampan dan yang selalu tersenyum-senyum, didampingi oleh ketua aliran bumi dan langit Lui Seng di sebelah kirinya dan wakil ketua Mo Li di sebelah kanannya.


Para pengurus lainnya dan para tokoh sesat duduk di belakang tiga orang ini. Sikap mereka seperti suatu paruturan pengadilan yang hendak menghakimi Han Beng dan Hok Cu sebagai pesakitan.


Ketika Han Beng dan Hok Cu memandang kepada pemuda itu, mereka terbelalak.


"Rupanya kau...!" seru Hok Cu dan Han Beng yang hampir berbareng saking herannya bertemu dengan musuh lama mereka.


"Jangan kurang ajar!" bentak Mo Li kepada dua orang tawanannya itu

__ADS_1


"Kalian berhadapan dengan Pimpinan kami yang merupakan penjelmaan dari Raja Iblis, jadi bersikaplah hormat!" lanjut seru Mo Li


"Ha.....ha...ha....! Penjelmaan!" seru Hok Cu yang tersenyum mengejek.


"Penjelmaan Raja Iblis? Hemmm, memang dia iblis cilik! Hong Lan, ular kepala dua yang pernah membantu gerombolan pemberontak yang gagal! Dan sekarang menyelundup ke dalam aliran Bumi dan Langit! Bagus-bagus!" seru Han Beng yang juga mengenal pimpinan Aliran Bumi dan Langit itu.


"Ha....ha...ha...ha....!"


Hong Lan tidak marah, bahkan tertawa bergelak.


"Hok Cu, engkau makin cantik saja! Dan kau masih tetap bernyali besar tabah dan penuh semangat, pantang mundur walaupun sudah menjadi tawanan. Sungguh sikap seorang calon isteri ketua yang besar! Hok Cu, ketahuilah bahwa aku ini telah menjadi pemimpin besar dari aliran bumi dan langit yang memiliki kekuasaan besar. Kami bukanlah perkumpulan orang jahat, melainkan perkumpulan yang gagah dan membela kepentingan umum. Aku tahu bahwa kau dan juga Han Beng adalah pendekar-pendekar yang gagah perkasa. Oleh karena itu, biarpun kalian telah beberapa kali melakukan perbuatan yang menentangku, namun aku masih suka mengampuni kalian, kalau kalian suka membantu perjuangan kami. Kelak, kalau kita lberhasil, kalian tentu akan mendapatkan bagian dan memperoleh kedudukan tinggi. Nah, Hok Cu, kalian sudah tak berdaya. Kalau kau mau menjadi isteriku yang terhormat, dan Han Beng suka menjadi pembantuku!" seru Hong Lan.


"Tutup mulutmu yang kotor itu!" bentak Hok Cu dengan tajam.


...~¥~...


...Mohon dukungannya dan terima kasih telah memberikan Like/komentar/rate 5/gift maupun votenya untuk novel Petualangan Pendekar Kecapi ini....


...Semoga sehat selalu dan dalam Lindungan Allah Subhana wa Ta'alla....


...Aamiin Ya Robbal Alaamiin....


...Terima kasih ini...


...Bersambung...


...   ...

__ADS_1


__ADS_2