
Sin Lin yang berwatak riang dan lincah itu berulang-ulang mengeluarkan seruan kagum memuji keindahan itu.
Setelah tiba di lereng paling tinggi, mereka bertiga memandang takjub. Bukan main luasnya pegunungan itu. Puncak-puncak bukit menjulang di sekelilingnya dan mereka merasa betapa di setiap bukit itu mungkin saja menjadi kediaman si pencuri harta karun.
Akhirnya mereka itu tiba di depan perkampungan Kobra, dimana terdapat sebuah gapura besar dan di atas gapura terdapat papan nama dan Ukiran Ular kobra yang ditulis dengan huruf-huruf besar yang gagah dan indah.
Tiba-tiba dari dalam gapura itu berloncatan delapan orang laki-laki yang memegang pedang yang siap menghunus. Mereka adalah murid-murid perguruan ular kobra yang melakukan penjagaan.
Saat dari jauh mereka melihat seorang gadis dan dua orang pemuda yang telah mendaki puncak, dan mereka bersembunyi di balik gapura dan mengintai gerak-gerik mereka.
Melihat tiga orang pengunjung itu tampak santai dan tidak menimbulkan kesan mencurigakan, setelah Hua Li dan dua laki-laki bersaudara itu tiba di depan gapura, mereka berlompatan keluar dan menghadang di depan tiga orang pengunjung itu.
"Berhenti!"
Seru salah seorang di antara mereka yang paling tua, berusia sekitar empat puluh tahun, menegur dengan suara lantang.
"Kalian bertiga melanggar wilayah perguruan kami! Siapakah kalian dan ada keperluan apa datang berkunjung ke tempat kami?" lanjut tanya salah seorang dari murid perguruan ular kobra itu.
Sikap delapan orang yang memandang penuh kecurigaan itu membuat Sin Lin merasa jengkel.
"Apakah mereka ini murid-murid perguruan ular kobra yang kau bilang terdiri dari para pendekar? Sikapnya lebih mendekati penjahat daripada pendekar!" bisik Sin Lin dengan geram.
Biasanya, kalau atasan bersikap keras kepada bawahannya, maka si bawahan itupun bersikap keras kepada yang lebih rendah kedudukannya, dan yang paling bawah tentu bersikap keras pula kepada orang lain. Tujuh orang murid atau anak buah Thai-san-pai ini pun demikian. Karena sudah terbiasa menghadapi sikap keras dari atasan mereka, kini mereka pun memuntahkan sikap keras mereka terhadap orang lain.
"Kami adalah murid-murid perguruan ular Kobra dan kalian bertiga tentulah orang-orang yang tidak mempunyai niat baik. Maka, menyerahlah kalian untuk kami tangkap dan kami hadapkan kepada pimpinan kami!" hardik kepala regu penjaga itu.
Dia memandang dengan mata melotot dan delapan orang murid itu melintangkan pedang di depan dada dan tangan kiri mereka bertolak pinggang.
"Apa? Tikus-tikus macam kalian ini hendak menangkap kami? Tidak usah menangkap kami bertiga, kalian coba tangkap aku saja, kalau kalian berhasil baru kalian patut menjadi murid-murid perguruan ular kobra!" Sin Lin bertolak pinggang dengan kedua tangannya, melangkah maju dengan sikap menantang sambil tersenyum mengejek.
__ADS_1
Tantangan dengan sikap mengejek dan merendahkan ini tentu saja membuat delapan orang murid perguruan ular kobra itu yang marah sekali.
"Tangkap pemuda sombong ini!" teriak kepala regu itu dan delapan orang murid perguruan ular kobra itu bergerak maju setelah menyimpan pedang masing-masing.
Tangan-tangan mereka meluncur seolah berebutan untuk dapat menangkap gadis yang tertawa-tawa mengejek itu.
"Adik Lin, jangan lukai orang!" seru Sin Lan yang khawatir kalau-kalau adiknya melukai dan membunuh orang. Karena tujuan mereka datang berkunjung ke perguruan ular Kobra bukan untuk bermusuhan.
Biarpun wataknya keras, namun Sin Lin bukanlah seorang pemuda yang kejam dan dia selalu taat kepada kakaknya. Maka ketika delapan orang itu menyerbu, ia pun mengandalkan kelincahan gerakannya, mengerahkan jurus meringankan tubuhnya dan berkelebatan di antara para pengeroyoknya.
Jari-jari tangannya yang lembut dan kecil runcing itu pun menotok ke kanan kiri dan tubuh delapan orang murid Perguruan Ular Kobra itu pun berpelantingan roboh dan tidak dapat berkutik pula karena jalan darah mereka tertotok sehingga tubuh mereka lemas tidak mampu bergerak lagi.
Sin Lin mengusap-usap dan mengebut-ngebutkan kedua telapak tangannya seolah hendak membersihkan bekas sentuhan tangannya kepada tubuh delapan orang pengeroyok itu.
"Apa yang terjadi disini!"
Tiba-tiba terdengar seruan dan tampak bayangan tiga orang berkelebat dan muncullah tiga orang berpakaian hanzu yang nampak berwibawa dan masing-masing mempunyai pedang di punggung mereka.
Mereka memandang ke arah tiga orang muda itu, lalu memandang kepada delapan orang murid yang rebah tanpa luka namun tidak mampu bergerak itu. Dia lalu menghampiri para murid dan jari tangannya menotok mereka satu demi satu.
"Guru, mereka ini......" ucap salah satu dari delapan murid itu yang bangkit berdiri menghadap ketiga biksu itu.
Salah satu dari ketiga pendekar itu membentak dengan suara tegas.
"Kalian mundur! Buat malu saja!" Mendapatkan bentakan ini, delapan orang murid itu pun mundur dengan patuh setelah membungkuk dengan hormat.
"Nah, bagus! Murid-murid kurang ajar harus mendapatkan teguran keras!" seru Sin Lin terkekeh senang.
Pendekar yang paling tua itu adalah para tetua perguruan ular kobra. Dia mengerutkan alisnya memandang kepada Sin Lin yang masih tersenyum.
"Tuan muda, apakah anda yang menghina murid-murid kami dan menotok mereka?" tanya salah satu biksu itu yang menatap Sin Lin.
__ADS_1
"Patriak, harap maafkan kelancangan kami. Kami datang tidak dengan niat buruk, melainkan hendak menghadap ketua perguruan Ular kobra. Akan tetapi delapan orang murid tadi bersikeras hendak menangkap kami, sehingga timbul pertengkaran antara mereka dengan saudara kami ini. Maafkan kami, Patriak dan perkenankan kami menghadap Ketua perguruan ular kobra." jelas Hua Li.
Patriak yang tertua dan bernama patriak Song yang tadinya marah kepada Sin Lin, menjadi agak reda kemarahannya melihat sikap dan kata-kata Hua Li yang lembut dan sopan.
"Orang muda, kalian bertiga ini siapakah dan apa keperluan kalian ingin bicara dengan Ketua perguruan ular kobra?" tanya patriak yang lainnya menatap satu persatu dari ketiga anak muda dihadapannya.
"Perkenalkan patriak, saya bernama Hua Li." jawab Hua Li dengan menjura.
"Siapa gurumu?" tanya Patriak Song seolah nama gadis didepannya itu.
"Guruku adalah juga ayahku yaitu ketua perguruan Bambu kuning, Hua Tian." jawab Hua Li dengan ramah.
Mendengar nama Hua Tian, tiga orang patriak itu sangat terkejut.
"Hemm, siapa tidak mengenal nama besar Hua Tian! pendekar yang memimpin pemberontakan kerajaan Ming bersama Istrinya Yan Qiu dan juga pendekar pedang Azuya. Tapi sayang sekali semenjak Pendekar pedang Azuya tak terdengar kabarnya lagi dan pengaruh perguruan bambu kuning tak sekuat dulu! Siapa dua orang laki-laki ini? Apakah juga murid-murid Hua Tian juga?" yang patriak Song yang menatap ke arah Sin Lin Dan juga Sin Lan.
"Kami bukan murid Hua Tian! Tapi kami adalah putra dari Sin Yang, dimana kami tinggal di Lembah Seribu Bunga." jawab Sin Lan yang mewakili adiknya Sin Lin.
...~¥~...
...Mohon dukungannya dan terima kasih telah memberikan Like/komentar/rate 5/gift maupun votenya untuk novel Petualangan Pendekar Kecapi ini....
...Semoga sehat selalu dan dalam Lindungan Allah Subhana wa Ta'alla....
...Aamiin Ya Robbal Alaamiin....
...Terima kasih...
...Bersambung...
__ADS_1